Perempuan di Garis Depan : Seberkas Cahaya di Kota Purwakarta

  • Whatsapp

Seberkas Cahaya di Kota Purwakarta
Oleh: Yosi Susilowati

“Jadilah seperti lilin yang memberikan cahaya kepada lingkungan sekitarnya. Meski ia tahu bahwa hidup hanya sekali, tapi tak segan untuk memberikan arti.”

Bacaan Lainnya

Di Purwakarta, rata-rata buruh perempuan hanya berpendidikan SMA. Bahkan di salah satu perusahaan, sebagian buruhnya hanya memiliki ijazah Sekolah Dasar dan SLTP. Dengan pendidikan yang seadanya itu, bagaimana mereka memiliki kapasitas untuk memperjuangkan kesejahteraan?

Boleh jadi kita apatis dengan situasi ini. Tetapi saya percaya, dalam setiap situasi dan kondisi, akan selalu ada orang yang dikirim Tuhan untuk penjadi pahlawan. Tidak semua pekerja yang hanya tamat SMP atau SLTP pasrah dan hanya diam melihat ketidakadilan. Yuli Fitrianingsih, contohnya.

Kawan-kawannya biasa memanggil, Zul. Zul bekerja di salah satu perusahaan komponen elektronik di daerah Campaka Purwakarta, sejak bulan Agustus 2004. Di perusahaan ini, setiap kali ada karyawan baru sudah dipastikan secara otomatis akan menjadi anggota serikat pekerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Sebuah serikat pekerja di sektor logam, elektronik, dan mesin.

Selama menjadi anggota serikat pekerja dari tahun 2004 sampai dengan bulan Mei 2013, Zul tidak sedikitpun mendapat pengetahuan tentang apa itu serikat pekerja. Ia buta dengan hak-hak buruh. Tak mengerti tentang sistem organisasi. Tak pernah tahu apa saja yang menjadi kegiatan organisasi. Bahkan keuangan atau dana iuran yang dipungut dari potongan upah karyawan pun tidak diketahui untuk apa alokasinya. Tidak pernah ada informasi dan sosialisasi.
Zul hanya tahu, bahwa sebagai buruh, ia harus bekerja dengan baik. Target terpenuhi. Tak boleh menolak perintah lembur. Setiap bulan gajian. Jika melanggar peraturan akan dikeluarkan dari perusahaan.

Berawal dari pertemuan dan diskusi dengan seseorang yang aktif bergerak di serikat pekerja, Zul menjadi tercerahkan. Sosok yang dipanggilnya guru itu mengenalkan dan mengajarkan mengenai serikat pekerja. Fungsi dan tugasnya.

Setelah sering berdiskusi masalah perburuhan, dirinya semakin termotivasi untuk melawan penindasan dan menuntut keadilan di tempat ia bekerja. Jiwa militannya tumbuh subur. Dan ironisnya, pelajaran tentang peran dan fungsi serikat pekerja tidak ia dapatkan dari serikat yang ia ikuti. Tetapi dari serikat lain, yang tidak ada di perusahaannya.

Zul berkesimpulan, bahwa banyak oknum perangkat di serikat pekerjanya kurang peduli terhadap persoalan kaum buruh. Bahkan terkesan lebih dekat ke pengusaha ketimbang dengan anggotanya sendiri. Untuk mengubah nasib, Zul beserta kawan-kawannya mulai menyakinkan buruh-buruh yang lain untuk menuntut hak-hak pekerja ditempatnya bekerja. Selain menyadarkan teman-temannya tentang hak – hak yang selama ini tidak diberikan pengusaha, Zul juga mengingatkan seluruh pekerja untuk bertanggung jawab akan kewajiban yang harus mereka penuhi terhadap perusahaan.

Seketika Zul menjadi ikon pembela perempuan di perusahaannya. Zul berhasil merebut hati para karyawan. Saat ada pemilihan ketua pimpinan unit kerja, perempuan ini menang telak atas pesaingnya.
Kini, Zul, menjadi ketua serikat pekerja.

Bersama pengurus yang lain, Zul banyak melakukan advokasi atas hal – hal yang dianggap tidak layak di tempatnya bekerja. Dari mulai kesehatan dan keselamatan dalam bekerja, sistem kontrak yang sangat panjang (ada yang perpanjangan kontraknya selama 13 tahun), pengupahan (hanya UMK saja, bahkan beberapa kali di bawah itu, padahal termasuk perusahaan dengan skill kerja yang cukup tinggi dan rumit), sampai dengan pelecehan seksual. Penyediaan air minum yang kurang steril hingga penggunaan masker yang belum memenuhi standar, dan masih banyak lagi masalah lain terutama peraturan yang bertentangan dengan Undang-undang Ketenagakerjaan.

Pihak Pengusaha tak tinggal diam. Ia berusaha menghentikan pergerakan perempuan pemberani ini. Berbagai intimidasi dan diskriminasi dilakukan. Mulai dari mendatangkan preman bayaran, menggunakan karyawan laki-laki di perusahaan tersebut untuk menekan pergerakan perempuan-perempuan ini, sampai mendatangkan aparat keamanan untuk menakut – nakuti.

Pernah suatu saat Zul melangsungkan bipartit dengan management membahas kontrak kerja yang berkepanjangan. Para preman itu memaksa masuk ruangan untuk ikut dalam perundingan. Namun Zul beserta tiga orang kawannya yang tangguh tidak putus asa dan menjadi ciut nyali. Zul tidak gentar.

Hingga akhirnya, perusahaan tidak menginginkan lagi mereka tetap berada didalam perusahaan. Bersama ketiga kawannya, Zul di PHK.

Zul melawan. Ia menolak keputusan sepihak perusahaan. Ia pun mengadukan ke kantor Dewan Perwakilan Cabang Serikat Pekerjanya. Namun jawabannya sungguh membuat Zul dan kawan – kawan kecewa. Pimpinan cabang serikat pekerja mereka justru menganjurkan agar menerima saja PHK itu.

Tanpa didampingi DPC, Zul dan kawan – kawan mengadukan perselisihan ini ke disnaker. Perusahaan datang di dampingi pengacara. Perundingan berlangsung sangat alot.

Zul tetap berjuang untuk tetap dipekerjakan kembali. Ternyata keadaan berkata lain. Setelah hampir dua minggu memikirkan dan mempertimbangkan keputusan terbaik yang akan diambil, Zul akhirnya menerima di PHK dengan pesangon dua PMTK ditambah satu tahun gaji.

Sebenarnya Zul tidak menginginkan mengambil pesangon tersebut. Tetapi ia mempertimbangkan keadaan lingkungan kerjanya. Terutama tentang intimidasi yang ia terima dari preman-preman bayaran perusahaan.
Meskipun sudah tidak bekerja, Zul masih terus berjuang. Zul tak pernah putus asa untuk motivasi agar kawan-kawannya membangun serikat yang kuat.

Zul adalah sosok perempuan yang rela mengorbankan pekerjaannya demi kepentingan orang banyak. Perempuan yang tangguh dan pemberani. Sosok yang tak putus asa meskipun ada banyak hambatan untuk mewujudkan niatnya. Sosok yang rela menyalakan lilin untuk menerangi sekitar, meski “panas” ia rasa. (*)

Pos terkait