Pelatihan Advokasi dan Pengaduan Online bagi Pekerja Migran

Bangkok, KPonline – Advokasi bagi aktivis buruh sangatlah penting, dan akan menjadi salah satu cara untuk menangkal pemberangusan serikat pekerja/serikat buruh. Dalam kaca mata hukum, advokasi bisa menjadi jalan bagi aktivis buruh dalam pembelaan secara hukum.  Bahkan, bagi pekerja/buruh migran, advokasi adalah salah satu hal yang sangat dibutuhkan.

Tersandung permasalahan hukum di negeri orang, atau mungkin ada permasalahan Hubungan Industrial yang membutuhkan jalan advokasi bagi pekerja/buruh itu sendiri.

Atas dasar hal tersebut, maka diadakanlah Pelatihan Advokasi dan Pengaduan Online bagi pekerja migran. Kegiatan pendidikan yang berlangsung di Avani Atrium Hotel Bangkok, Thailand ini, dilaksanakan pada 16-18 Agustus 2018 yang lalu.

Peserta yang mengikuti pendidikan ini berasal dari seluruh perwakilan Focal Point Pekerja Migran dari seluruh Konfederasi se-Asean. Dan peserta pendidikan tersebut dari Indonesia diwakili Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, yaitu Dimas P Wardhana dan Siti Hanifa Auliana.

Hari pertama pendidikan diisi dengan materi Advokasi & Lobby, yang pada pembukaan kegiatan dibuka dan dipandu oleh Mr. Cedrig B dari ATUC (Asean Trade Union Council) dan Mr. Dom Tuvera & ILO Actrav Mr. Pong Shul Anh.

Setelah memperkenalkan diri satu persatu, barulah materi pendidikan diberikan oleh mentor. Antara lain materi yang diberikan adalah, advokasi dan lobby, pembedaan jenis advokasi, kampanye, planning advokasi, prioritas untuk advokasi bagi pekerja migran di Asean.

Di hari kedua, para peserta pendidikan diberikan materi Advokasi Building dan Pelatihan Media. Materi pendidikan diberikan untuk melatih pengembangan kapasitas atau capacity building bagi focal point, untuk menyampaikan pesan-pesan advokasi.

Penyampaian pesan advokasi akan sampai ke penerima pesan jika para peserta pendidikan sudah mampu menguasai penggunaan media.

Oleh karena hal tersebut, maka para peserta pendidikan juga diberikan pelatihan media dan penulisan berita tentang migrasi pekerja, dipandu oleh ILO Communication Officer Person Ms. Helene Thor. Dan beberapa materi yang diberikan diantaranya, pengembangan pesan, metode mengembangkan pesan, laporan progres kampanye advokasi.

Cara mengoperasikan ATIS (ATUC Information System (http://stage.migrantswatch.org) adalah materi pendidikan yang diberikan kepada para peserta pada hari ketiga. ATIS merupakan sistem aplikasi yang dibuat oleh ATUC, sebagai database pengaduan dan pengawasan terkait pekerja migran.

Seluruh peserta pendidikan diberikan materi sistem operasi dan cara pengoperasian ATIS. Peserta mengisi dan mengupdate komplain para pekerja migran, memonitor komplain-komplain tersebut, melakukan pengaturan komitmen.

Selain itu, seluruh peserta juga menyepakati kampanye ratifikasi konvensi ILO No.189 tentang Pekerja Domestik, No.143 tentang Pekerja Migran dan No.97 tentang Migrasi Pekerja. Seluruh peserta menyepakati komitmen untuk menggunakan ATUC sebagai sistem operasi pengelolaan data pekerja migran seoptimal mungkin.

KSPI berharap komitmen yang telah dibangun dalam focal point meeting ini dapat diimplementasikan secara optimal dalam kampanye konvensi ILO No.189 tentang pekerja domestik, No.143 tentang pekerja migran dan No.97 migrasi pekerja.

Dimas P Wardhana