MUSNIK VI Serikat Pekerja FSPMI PT KICI Resmi Dibuka Ade Supyani

MUSNIK VI Serikat Pekerja FSPMI PT KICI Resmi Dibuka Ade Supyani

Purwakarta, KPonline-Ketua Pimpinan Cabang (PC) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta, Ade Supyani, menegaskan pentingnya kekompakan dan sinergi antara serikat pekerja, pekerja, serta manajemen dalam menghadapi tantangan dunia industri yang semakin kompleks.

Hal tersebut disampaikan Ade Supyani dalam sambutannya sebelum membuka secara resmi Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) VI PUK SPAMK FSPMI PT Kutobukiya Indo Classic Industries (KICI) yang digelar di Purwakarta, Minggu (30/8/2026).

Bacaan Lainnya

Mengawali sambutannya, Ade menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya MUSNIK VI. Ia juga memberikan penghormatan kepada perwakilan manajemen, perangkat organisasi, Garda Metal, panitia, peserta musyawarah, serta para tamu undangan dari serikat pekerja lainnya.

“Terima kasih sudah berkenan hadir. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami. Terima kasih juga kepada seluruh panitia yang saya yakin telah bekerja keras luar biasa untuk menyelenggarakan kegiatan hari ini,” ujar Ade.

Dalam kesempatan tersebut, Ade juga sedikit mengulas perjalanan hubungan industrial di PT KICI. Menurutnya, perjalanan serikat pekerja di perusahaan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Pada masa awal berdirinya serikat pekerja, masih terdapat berbagai tantangan dan pandangan yang kurang baik terhadap keberadaan serikat pekerja.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut mengalami perubahan. Hubungan industrial antara pekerja, serikat pekerja dan manajemen kini dinilai semakin baik dan terbuka.

“Dengan perjalanan waktu, sudah sekitar 16 sampai 17 tahun. Sekarang sudah berbeda. Hubungan industrial sudah baik di semua pihak, baik dari pihak manajemen maupun dari kita sebagai pekerja. Kita sudah bisa bersinergi,” katanya.

Ade menilai tema MUSNIK VI, “Satukan Semangat, Bangkit dan Bersinergi untuk Kesejahteraan Bersama”, sangat relevan dengan kondisi dunia industri saat ini.

Menurutnya, pekerja tidak perlu merasa kecil hati menghadapi berbagai perubahan dan tantangan, khususnya di industri otomotif. Perkembangan teknologi, perubahan jenis kendaraan, hingga munculnya kendaraan listrik memang menjadi tantangan baru, tetapi bukan alasan bagi pekerja untuk kehilangan optimisme.

“Yang penting kawan-kawan tetap semangat. Jangan terlalu khawatir. Mau mobil listrik ataupun mobil lainnya, tetap ada komponen yang membutuhkan tenaga dan keterampilan pekerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ade menekankan bahwa langkah pertama untuk menghadapi tantangan tersebut adalah membangun kekompakan di internal organisasi.

Sebab kata Ade, seluruh perangkat organisasi di tingkat PUK, perangkat cabang, hingga Garda Metal harus memiliki kesatuan sikap dan komunikasi yang baik.

“Kita harus bersinergi dulu di organisasi kita. Di tingkat PUK, perangkat organisasi, Garda Metal, semuanya harus kompak,” tegasnya.

Kekompakan tersebut dinilai penting karena serikat pekerja tidak hanya berhadapan dengan manajemen untuk memperjuangkan kepentingan pekerja. Lebih dari itu, serikat pekerja juga memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi terbaik bagi keberlangsungan hubungan industrial.

“Serikat pekerja itu bukan hanya soal menang-menang dengan manajemen. Di dalam hubungan industrial, kita sama-sama mencari solusi yang terbaik. Bagaimana kita memutuskan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan kebijakan dan kesejahteraan karyawan,” jelas Ade.

Ia menggambarkan hubungan ideal antara perusahaan dan pekerja sebagai sebuah kondisi di mana kedua belah pihak dapat berkembang dan memperoleh manfaat.

“Perusahaan dan pekerjanya harus sama-sama bisa tersenyum. Hasil akhirnya juga harus membuat kita bangga. Kita ini sebagai jembatan, sebagai pencari solusi terbaik untuk kedua pihak,” ujarnya.

Ade juga mengingatkan bahwa keberadaan serikat pekerja tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan untuk menghambat kemajuan perusahaan.

Sebaliknya, serikat pekerja harus ikut menjaga agar perusahaan tetap tumbuh, produktif dan memperoleh keuntungan. Sebab, menurutnya, keberadaan serikat pekerja dan kesejahteraan pekerja juga sangat bergantung pada keberlangsungan perusahaan.

“Perusahaan itu harus maju. Kenapa? Karena tidak akan ada serikat pekerja, tidak akan ada kesejahteraan kalau perusahaannya bangkrut,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pekerja untuk bersama-sama mempertahankan keberadaan perusahaan sekaligus mendorong peningkatan produktivitas.

“Yang harus kita pertahankan adalah bagaimana perusahaan tetap ada dan untung besar. Untuk apa? Agar kesejahteraan pekerja juga semakin baik,” katanya.

Ade menilai komunikasi yang baik antara serikat pekerja dan manajemen menjadi salah satu kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan hubungan industrial.

Ia mengungkapkan, ketika perusahaan dalam kondisi sehat dan hubungan antara pekerja dengan manajemen berjalan baik, berbagai persoalan dapat diselesaikan melalui dialog dan meja perundingan.

“Kalau perusahaan baik, kita tinggal ngobrol. Duduk bersama, berdiskusi dan mencari solusi. Tidak perlu semuanya menjadi persoalan besar. Tinggal bagaimana kita tetap berada di meja perundingan,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Ade kembali mengajak seluruh peserta MUSNIK VI untuk menjadikan momentum musyawarah sebagai langkah memperkuat organisasi dan membangun sinergi.

Ia berharap kepengurusan dan seluruh anggota PUK SPAMK FSPMI PT KICI ke depan mampu menghadapi tantangan industri dengan lebih solid, menjaga komunikasi dengan manajemen, serta terus memperjuangkan kesejahteraan pekerja tanpa mengabaikan keberlangsungan perusahaan.

“Bangkit dan bersinergi ini harus kita lakukan bersama. Dengan organisasi dan dengan perusahaan. Bagaimana perusahaan ke depan semakin baik, baik secara produktivitas maupun keberlangsungannya, sehingga kesejahteraan pekerja juga semakin baik,” pungkasnya.

Pos terkait