Semarang, KPonline – Ketua Konsulat Cabang (KC) FSPMI Semarang Raya, Sumartono, menegaskan pentingnya keberadaan Jamkeswatch sebagai bagian dari kekuatan organisasi dalam mengawal pelaksanaan jaminan kesehatan bagi buruh.
Hal tersebut disampaikan Sumartono dalam sambutannya pada kegiatan Pendidikan dan Sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sekaligus pembentukan dan pelantikan pengurus Jamkeswatch FSPMI Semarang Raya digelar pada Minggu (30/8/2026) di Hotel Candi Indah, Semarang.
Menurut Sumartono, pendidikan tersebut memiliki arti penting dalam meningkatkan kapasitas anggota dalam memahami sekaligus mengawal hak-hak pekerja, khususnya terkait jaminan kesehatan.
Ia menjelaskan, Jamkeswatch merupakan salah satu pilar penting dalam FSPMI. Keberadaannya menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memastikan jaminan sosial, khususnya jaminan kesehatan, benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh buruh.
“Jaminan kesehatan menjadi bagian dari kesejahteraan buruh. Karena itu, harus ada pengawasan untuk memastikan hak tersebut benar-benar didapatkan dan pelaksanaannya berjalan maksimal,” tegasnya.
Sumartono menambahkan, fungsi Jamkeswatch tidak berhenti pada pengawasan. Ketika pekerja atau anggota serikat menghadapi kendala dalam memperoleh pelayanan jaminan kesehatan, Jamkeswatch diharapkan mampu melakukan advokasi dan pendampingan.
Menurutnya, persoalan jaminan kesehatan sering kali menjadi sangat penting bagi seorang pekerja ketika dirinya atau keluarganya sedang menghadapi masalah kesehatan.
Bagi seseorang yang sedang sakit, kata Sumartono, jaminan kesehatan bukan sekadar persoalan administratif. Jaminan tersebut dapat menjadi pintu bagi pekerja untuk memperoleh pengobatan dan mendapatkan kembali kondisi kesehatan yang layak.
“Manfaatnya mungkin tidak selalu bisa diukur secara umum. Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan, peran kita sangat berarti,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sumartono berharap peserta pendidikan dapat menjadi agen-agen pengawasan dan advokasi jaminan kesehatan di wilayah masing-masing.
Tidak hanya untuk kepentingan anggota FSPMI, pengawalan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi buruh di Kota Semarang dan sekitarnya, Jawa Tengah, bahkan lebih luas bagi masyarakat.
“Harapannya kawan-kawan yang mengikuti pendidikan ini nantinya bisa menjadi agen untuk mengawasi agar jaminan kesehatan yang menjadi hak buruh benar-benar dapat diperoleh secara maksimal,” jelasnya.
Sumartono juga mengingatkan peserta agar mengikuti pendidikan dengan serius. Menurutnya, banyak peserta yang harus mengorbankan waktu dan menempuh perjalanan dari berbagai daerah untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Karena itu, kesempatan memperoleh ilmu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak boleh menjadi sesuatu yang sia-sia.
“Fokuslah untuk mendapatkan ilmu agar nantinya bisa bermanfaat bagi diri kita, organisasi, dan masyarakat pada umumnya,” pesannya.
Di hadapan peserta, Sumartono juga mengajak seluruh kader untuk menjalankan tugas pengawasan dan advokasi dengan penuh keikhlasan.
Ia menekankan bahwa perjuangan dalam memastikan buruh mendapatkan hak atas jaminan kesehatan bukan semata-mata untuk kepentingan organisasi. Lebih dari itu, perjuangan tersebut merupakan bentuk pengabdian dan kepedulian terhadap sesama.
Sumartono berharap pendidikan Jamkeswatch mampu melahirkan kader-kader yang memiliki pemahaman serta kemampuan teknis untuk melakukan pengawasan dan advokasi jaminan kesehatan.
Dengan semakin kuatnya kapasitas kader, ia berharap pengawalan terhadap pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat dilakukan secara lebih maksimal sehingga manfaat jaminan kesehatan benar-benar dirasakan oleh buruh.
“Semoga apa yang menjadi harapan kita bersama untuk mengawal Jaminan Kesehatan Nasional ini ke depan bisa lebih maksimal dan memberikan manfaat bagi diri kita maupun masyarakat,” pungkas Sumartono. (sup)