Purwakarta, KPonline-Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Kutobukiya Indo Classic Industries (KICI) menggelar Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) VI di Nimo Waters Forest, Purwakarta, Minggu (30/8/2026).
MUSNIK merupakan forum musyawarah tertinggi di tingkat unit kerja serikat pekerja yang menjadi momentum penting bagi organisasi dalam melakukan evaluasi, regenerasi kepengurusan, sekaligus menentukan arah perjuangan untuk periode berikutnya.
Dalam forum tersebut, salah satu agenda utama adalah memilih kepengurusan PUK SPAMK FSPMI PT KICI untuk periode 2026–2029. Selain itu, MUSNIK juga menjadi ruang untuk menyampaikan dan mengevaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya serta menyusun program kerja dan rekomendasi organisasi ke depan.
Ketua Konsulat Cabang (KC) FSPMI Purwakarta, Fuad BM, dalam sambutannya mengingatkan bahwa perjalanan hubungan industrial antara manajemen dan serikat pekerja di PT KICI telah berlangsung cukup panjang.
Menurutnya, PT KICI merupakan salah satu perusahaan yang memiliki sejarah penting dalam perjalanan perjuangan buruh di Kabupaten Purwakarta. Bahkan, ia mengaku masih mengingat bagaimana PT KICI menjadi salah satu lokasi awal perjuangan massa FSPMI di Purwakarta.
“Saya ingat betul, perjuangan pertama kali mendorong pagar dalam aksi FSPMI Purwakarta adalah di PT KICI,” ujar Fuad dalam sambutannya.
Ia menyebut, hubungan industrial antara manajemen dan serikat pekerja di PT KICI telah terjalin selama sekitar 17 tahun. Karena itu, ia berharap hubungan tersebut dapat terus dibangun melalui komunikasi, sinergi, dan komitmen bersama.
“Sudah 17 tahun hubungan industrial antara manajemen dan serikat pekerja di PT KICI telah terjalin. Kita harus bangkit bersama-sama, karena ke depan tantangan dunia industri akan semakin banyak,” katanya.
Fuad juga menekankan pentingnya kekompakan di antara para pengurus serikat pekerja. Menurutnya, organisasi buruh akan semakin kuat apabila seluruh pengurus dan anggotanya mampu menjaga persatuan.
“Bangkit dan bersinergi. Kita harus kompak dulu,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fuad turut mengingatkan pekerja mengenai perubahan besar yang sedang terjadi di industri otomotif, khususnya akibat berkembangnya kendaraan listrik.
Menurutnya, perkembangan kendaraan listrik berpotensi memberikan dampak besar terhadap industri otomotif konvensional, termasuk terhadap kebutuhan tenaga kerja.
Ia menjelaskan, produksi kendaraan listrik cenderung membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan kendaraan konvensional. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah proses produksi dilakukan secara lebih terintegrasi dan efisien.
“Kendaraan listrik itu pekerjanya sedikit. Yang dirakit pun tidak terlalu banyak. Karena sistemnya memungkinkan satu pabrik memproduksi banyak bagian sekaligus sehingga biaya bisa ditekan,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Fuad, patut menjadi perhatian serius bagi pekerja yang selama ini menggantungkan penghidupan pada industri otomotif berbahan bakar konvensional.
Terlebih, perusahaan yang selama ini dianggap aman pun tidak selalu terbebas dari risiko perubahan kondisi industri.
“Perusahaan yang kita pikir tidak mungkin tutup, tiba-tiba bisa tutup. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri,” ujarnya.
Fuad kemudian mengajak para pekerja untuk tidak hanya mengandalkan pendapatan dari pekerjaan utama. Selama masih bekerja dan memperoleh penghasilan tetap, pekerja dinilai perlu mulai membangun kemampuan lain sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.
Ia mendorong anggota serikat pekerja untuk mulai belajar berwirausaha, termasuk membangun usaha kecil dari rumah.
“Mulailah berusaha mandiri. Usaha kecil-kecilan di rumah, mumpung masih bekerja,” pesannya.
Menurut Fuad, membangun usaha tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu, keterampilan, ketekunan, dan keberanian untuk menghadapi kegagalan.
Ia mengingatkan agar pekerja tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan dalam menjalankan usaha.
“Belajar bisnis itu membutuhkan waktu yang lama, keterampilan khusus, determinasi yang kuat, dan proses yang terus-menerus. Jangan sedikit menghadapi hambatan langsung menyerah,” katanya.
Fuad juga menekankan anggota agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Ia mendorong pekerja untuk memiliki tabungan dan tidak menambah beban utang di tengah kondisi industri yang penuh ketidakpastian.
“Bagi kawan-kawan yang masih punya tabungan, tolong dipertahankan. Bagi yang sudah terlanjur berutang, jangan tambah utang lagi. Situasi ke depan tidak mudah,” ujarnya.
Sebab kata Fuad, dunia usaha memiliki karakter yang berbeda dengan kehidupan sebagai pekerja di pabrik. Jika di perusahaan pekerja terbiasa mendapatkan gaji, seragam, hingga berbagai fasilitas, maka ketika menjalankan usaha, seluruh risiko harus dihadapi sendiri.
“Di pabrik kita terbiasa disiapkan banyak hal. Tetapi ketika masuk dunia usaha, semuanya harus kita tanggung sendiri. Kalau ada masalah atau kerugian, kita yang menanggung,” tuturnya.
Meski demikian, Fuad menilai kegagalan dalam berusaha bukan alasan untuk berhenti. Justru, kegagalan harus menjadi pengalaman untuk bangkit dan mencoba kembali.
“Orang yang sudah terjun ke bisnis, sekali gagal, dua kali gagal, harus bangkit lagi,” katanya.
Menutup sambutannya, Fuad berharap MUSNIK VI tidak hanya menjadi forum pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat organisasi dan mempersiapkan anggota menghadapi tantangan ketenagakerjaan maupun perubahan industri.
“Ayo mulai dari sekarang. Belajarlah berusaha, belajarlah berbisnis di samping pekerjaan. Memang capek, tetapi itulah yang akan menjadi persiapan kita menghadapi masa depan,” pungkasnya.



