Ketua KC FSPMI Purwakarta: Organisasi Harus Tetap Bergerak, Jangan Menunggu Ada Uang

Ketua KC FSPMI Purwakarta: Organisasi Harus Tetap Bergerak, Jangan Menunggu Ada Uang

Purwakarta, KPonline-Dalam rapat internal FSPMI Purwakarta yang digelar di Kantor KC FSPMI Purwakarta pada Jumat (28/8/2026). Ketua Konsulat Cabang (KC) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta, Fuad BM mengatakan bahwa kekuatan organisasi buruh tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan dana.

“Semangat, solidaritas, kemauan belajar, serta kemampuan anggota untuk terus bergerak menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Kemudian, Fuad mengajak seluruh anggota untuk memahami makna kebersamaan dalam organisasi. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak membutuhkan sekadar dukungan dalam bentuk materi, melainkan dukungan nyata untuk terus menjalankan perjuangan bersama.

“Kalau Anda ingin bersama dengan saya, saya ingin bersama. Pertarungan saya sebenarnya hanya untuk dukungan saja. Minta support,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan biaya memang tidak dapat diabaikan dalam menjalankan kegiatan organisasi. Namun, keterbatasan dana jangan sampai menjadi alasan untuk menghentikan gerakan.

Ia bahkan menyinggung persiapan berbagai kegiatan, termasuk May Day Fiesta, yang membutuhkan perencanaan matang, baik dari sisi administrasi, perlengkapan maupun pembiayaan.

“Kalau ada uang, kita semangat dengan uang. Kalau tidak ada, ya jangan berhenti bergerak. Kita tetap harus berpikir bagaimana caranya kegiatan bisa berjalan,” katanya.

Jangan Bangun Budaya “No Money, No Move”

Dalam kesempatan itu, ia mengkritik budaya organisasi yang hanya bergerak ketika tersedia anggaran.

Menurut Fuad BM, semangat perjuangan justru harus tetap tumbuh dalam kondisi apa pun.

“Kalau kita organisasi, jangan sampai ‘no money, no move’. Dulu ketika tidak ada uang, kita tetap bergerak. Sekarang kita lihat bagaimana kita mengelola perjalanan organisasi dan bagaimana anggota bisa terus bergerak,” tegasnya.

Ia mengingatkan, perjuangan serikat pekerja tidak boleh hanya bergantung pada fasilitas ataupun bantuan pihak lain. Kemandirian organisasi harus dibangun melalui solidaritas dan kreativitas anggota.

Pembahasan rapat juga menyentuh rencana kegiatan May Day Fiesta. Menurutnya, kegiatan tersebut harus dirancang secara matang dan menarik sehingga mampu melibatkan anggota secara luas.

Tidak hanya soal panggung dan hiburan, kegiatan harus menjadi ruang konsolidasi sekaligus penyampaian tuntutan perjuangan buruh.

Ia menilai konsep kegiatan perlu dibuat sedemikian rupa agar anggota dari berbagai wilayah dapat terlibat dan saling memberikan energi positif.

“Ini harus didesain dengan baik. Di satu sisi kita bicara soal tuntutan, tetapi di sisi lain kita juga harus membuat kegiatan yang mampu menghidupkan semangat anggota,” ujarnya.

Hal lain yang menjadi sorotan dalam rapat adalah pentingnya peningkatan kapasitas dan pendidikan.

Fuad mengungkapkan, dunia kerja terus berubah. Perusahaan semakin membutuhkan pekerja dengan keterampilan dan kompetensi yang lebih tinggi. Karena itu, pekerja tidak boleh berhenti belajar.

Ia juga mengingatkan bahwa pekerjaan dengan keterampilan rendah atau low skill semakin menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi.

“Dunia usaha dan dunia kerja sudah tidak menjanjikan seperti dulu. Karena itu kita harus belajar. Kita harus meningkatkan kemampuan,” katanya.

Ia bahkan mendorong agar perhatian terhadap pendidikan tidak hanya diberikan kepada anggota serikat pekerja, tetapi juga kepada anak-anak buruh.

Karena, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang dapat membuka peluang bagi generasi berikutnya agar tidak selalu bergantung pada pekerjaan sebagai buruh.

“Kita mungkin tidak punya banyak hal. Tetapi anak-anak kita harus kita didik. Jangan sampai mereka hanya menjadi pekerja dengan keterampilan rendah. Mereka harus punya ilmu dan kemampuan yang lebih baik,” tuturnya.

Ia menilai peningkatan pengetahuan juga penting agar pekerja tidak mudah dikalahkan dalam hubungan industrial.

Perusahaan, kata dia, memiliki sumber daya dan tenaga ahli yang mempelajari berbagai aspek ketenagakerjaan. Karena itu, serikat pekerja juga harus memiliki kemampuan yang sama untuk memahami aturan, perjanjian kerja bersama (PKB), strategi organisasi hingga perkembangan industri.

“Setiap kita punya kegiatan, perusahaan juga belajar. Mereka melihat apa yang kita lakukan. Ketika kita membuat PKB, mereka juga mempelajarinya. Karena itu kita jangan berhenti belajar,” ungkapnya.

Ia menekankan, PKB yang telah diperjuangkan harus dipahami oleh anggota. Jangan sampai pekerja sendiri tidak mengetahui hak-hak yang telah dituangkan dalam perjanjian tersebut.

Dikesempatan tersebut, ia juga menyinggung perubahan teknologi dan industri otomotif, termasuk perkembangan kendaraan listrik, hybrid, hingga teknologi berbasis hidrogen.

Perkembangan tersebut menjadi gambaran bahwa dunia industri terus berubah. Perubahan teknologi pada akhirnya juga akan memengaruhi kebutuhan tenaga kerja.

Karena itu, pekerja harus mampu membaca arah perubahan tersebut dan mempersiapkan kompetensi sejak dini.

“Teknologi terus berkembang. Kalau kita tidak belajar dan tidak meningkatkan skill, kita akan tertinggal,” ujarnya.

Ia berharap rapat internal tidak hanya menjadi forum membahas persoalan organisasi hari ini, tetapi juga menjadi ruang untuk mempersiapkan FSPMI menghadapi tantangan di masa depan.

Pada akhirnya, ia kembali menegaskan bahwa kekuatan organisasi berada pada anggotanya.

Bukan semata-mata pada uang, fasilitas, ataupun jabatan, tetapi pada solidaritas, keberanian bergerak, kemauan belajar, dan kesediaan untuk terus berjuang bersama.

“Kalau kita dulu tidak punya apa-apa, kita tetap bergerak. Sekarang pun harus tetap bergerak,” pungkasnya.

Pos terkait