Purwakarta, KPonline-Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Barat, Supriyadi (Piyong) mengungkapkan empat hal penting yang menurutnya menjadi alasan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) mampu bertahan dan terus berkembang hingga memasuki usia 27 tahun.
Hal tersebut disampaikan Supriyadi dalam Rapat Internal FSPMI Purwakarta yang digelar di Kantor KC FSPMI Purwakarta, Jumat (28/8/2026).
Di hadapan seluruh peserta rapat, ia menegaskan bahwa dari empat hal penting tersebut, pertama adalah kemandirian keuangan melalui COS (Check off System).
“Check Off System, yaitu sistem pembayaran iuran anggota serikat pekerja yang dilakukan dengan cara memotong sebagian dari upah atau gaji pekerja secara langsung”
Kedua, kata Supriyadi, Organisasi tidak bergantung pada isu dibuat pihak lain. “FSPMI mampu menciptakan serta mengembangkan isu perjuangan sendiri yang benar-benar lahir dari kebutuhan anggota”
Bagi Supriyadi, kemampuan melahirkan isu sendiri membuat FSPMI memiliki identitas dan arah perjuangan yang jelas.
Ketiga, anggota yang kompak dan solid
Faktor ketiga adalah soliditas dan kekompakan anggota. Menurutnya, kekuatan terbesar organisasi buruh bukan hanya terletak pada struktur, tetapi pada anggota yang bersedia berdiri bersama ketika perjuangan membutuhkan keberanian dan pengorbanan.
“Yang bisa membuat kita kuat adalah anggota yang solid dan kompak. Karena komunikasi dan kekuatan kita ada di anggota,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai aksi dan perjuangan buruh yang membutuhkan keberanian untuk bertahan di lapangan. Dimana, kata Supriyadi, ketika anggota memiliki rasa memiliki terhadap organisasi, mereka tidak akan mudah meninggalkan perjuangan hanya karena menghadapi tekanan atau kesulitan.
Supriyadi juga mengingatkan pentingnya membangun karakter setiap anggota. Karena menurutnya, karakter perjuangan bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi keberanian untuk berdiri ketika organisasi membutuhkan.
“Karakter itu bukan hanya bagaimana kita mendirikan organisasi, tetapi bagaimana membentuk karakter di dalam diri kita masing-masing,” katanya.
Keempat, pemimpin yang kuat.
Faktor berikutnya adalah keberadaan pemimpin yang kuat, mulai dari tingkat DPP hingga struktur di bawahnya.
Supriyadi menilai FSPMI memiliki banyak kader dan pemimpin yang mampu menjaga organisasi tetap berjalan sekaligus menghadapi berbagai tantangan.
“Pimpinan kita kuat, baik di DPP maupun sampai di tingkat PUK. Kita punya pimpinan-pimpinan yang kuat,” ungkapnya.
Ia secara khusus menyebut Purwakarta sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak kader dan tokoh organisasi yang terus mendapatkan kepercayaan untuk mengemban tanggung jawab di berbagai tingkatan.
Ia berujar, kaderisasi dan pendidikan organisasi harus terus dilakukan agar kekuatan FSPMI tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.
Selain empat faktor tersebut, Supriyadi menekankan pentingnya untuk menjaga persatuan dan rasa bangga terhadap organisasi.
Ia mengingatkan agar seluruh anggota tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebab kata Supriyadi, perjuangan buruh akan jauh lebih kuat apabila dilakukan dengan satu arah dan satu tujuan.
“Berjuang dengan satu bendera. Jangan sampai kita masih bercerai-berai. Kalau kita berdiri sendiri-sendiri, perjuangan akan semakin berat,” ujarnya.
Supriyadi juga mengingatkan anggota agar tidak terjebak pada persoalan personal maupun perbedaan pandangan antar individu. Sebab menurutnya, kritik dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi jangan sampai mengalahkan kepentingan bersama.
“Jangan sampai kita hanya mengikuti seseorang karena merasa dekat atau karena persoalan pribadi. Yang kita perjuangkan adalah organisasi dan kepentingan anggota,” tegasnya.
Menutup penyampaiannya, Supriyadi meminta kepada seluruh anggota FSPMI Purwakarta untuk terus membangun organisasi dari bawah.
Ia mengibaratkan perjalanan FSPMI seperti organisasi yang awalnya dibangun dari keterbatasan, kemudian tumbuh menjadi salah satu kekuatan serikat pekerja yang memiliki jaringan di berbagai daerah di Indonesia.
“Dari bawah, dari keterbatasan, kita membangun organisasi sampai sebesar ini, sampai ada di seluruh Indonesia,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta rapat untuk tidak hanya mempertahankan apa yang sudah dibangun, tetapi juga memperkuatnya melalui komunikasi, kekompakan, kaderisasi, dan kepemimpinan yang kuat.
“Ini tempat kita. Kita yang membangun. Mari sama-sama membangun organisasi. Jangan sampai perbedaan membuat kita terpecah,” pungkas Supriyadi.



