Purwakarta, KPonline-Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Purwakarta menggelar rapat internal di Kantor Konsulat Cabang (KC) FSPMI Purwakarta, Bungursari, Jumat (28/8/2026).
Rapat tersebut diikuti jajaran Pengurus KC FSPMI Purwakarta, Pengurus Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) FSPMI Purwakarta, PC dan PUK Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) FSPMI Purwakarta, PC dan PUK Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE) FSPMI Purwakarta, serta sejumlah pilar organisasi seperti Garda Metal, Media Perdjoeangan dan Jamkeswatch.
Tak hanya Ketua KC dan PC, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI sekaligus Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) Garda Metal FSPMI, Supriyadi (Piyong) tampak hadir dalam forum tersebut.
Forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi, komunikasi dan konsolidasi organisasi di tingkat Kabupaten Purwakarta. Selain mengevaluasi berbagai hal, rapat juga membahas sejumlah agenda yang akan dijalankan FSPMI Purwakarta dalam waktu mendatang.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah rencana training atau pendidikan bersama lintas sektor. Sekretaris KC FSPMI Purwakarta sekaligus Ketua PC SPAMK FSPMI Purwakarta, Ade Supyani, mengatakan pendidikan bagi pengurus merupakan bagian penting untuk menjaga eksistensi sekaligus meningkatkan kapasitas organisasi.
“Secara garis besar, setelah mendengar masukan, yang akan kita bahas yang pertama adalah tentang training bersama,” ujar Ade Supyani dalam rapat tersebut.
Menurut Ade, training bersama diharapkan dapat melibatkan pengurus dari berbagai sektor sehingga pelaksanaannya lebih efektif dan tidak terlalu membebani masing-masing kelompok.
“Tujuannya yang pertama adalah wajib hukumnya mempertahankan eksistensi dan meningkatkan kemampuan kita sebagai pengurus. Eksistensinya harus dijaga dan pengurus kita juga harus permanen,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep pendidikan bersama juga diharapkan dapat menjadi solusi untuk menekan biaya pelaksanaan. Dengan dilakukan secara bersama-sama, beban pembiayaan dapat dibagi sehingga kegiatan pendidikan lebih mudah direalisasikan.
“Kalau sendiri-sendiri kan berat. Misalnya 25 orang, bebannya cukup berat. Nanti kita bagi jumlah bebannya,” jelasnya.
Ade menambahkan, konsep pendidikan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut, termasuk menentukan materi, peserta, serta apakah pendidikan akan diprioritaskan bagi pengurus terlebih dahulu atau langsung melibatkan anggota.
Namun, ia menekankan pentingnya pendidikan organisasi dilakukan secara berkelanjutan.
“Yang utama pendidikan ini bisa dijalankan minimal sebulan sekali,” tegasnya.
Selain agenda pendidikan, rapat internal juga membahas rencana pelaksanaan May Day Fiesta 2027.
Ade mengatakan, kegiatan tersebut direncanakan kembali digelar seperti pelaksanaan sebelumnya. Meski waktunya masih cukup panjang, persiapan dinilai perlu dilakukan sejak dini, terutama menyangkut konsep kegiatan dan pembiayaan.
“Seperti yang lalu, tahun depan kita akan mengadakan May Day Fiesta,” ungkap Ade.
Menurutnya, pembahasan sejak sekarang diperlukan agar organisasi memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan segala kebutuhan. Salah satu opsi yang akan dibicarakan adalah mekanisme menabung atau penggalangan biaya secara bertahap.
“Kenapa dibahas mulai dari sekarang? Karena kita harus memikirkan apakah kita akan menabung, bagaimana konsepnya, dan bagaimana pembiayaannya. Itu semua akan kita bahas selanjutnya,” ujarnya.
Ade berharap, May Day Fiesta 2027 nantinya dapat terlaksana dengan baik dan tidak menjadi beban bagi organisasi maupun anggota.
“Harapannya kita bisa memenuhi Mayday Fiesta seperti tahun lalu. Tapi tentu harus ada persiapan, bagaimana kita menanggung biayanya dan kira-kira konsepnya seperti apa,” katanya.
Lebih jauh, Ade menilai kegiatan-kegiatan organisasi memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan serikat pekerja. Karena, kata Ade Supyani, organisasi tidak cukup hanya memiliki nama dan keanggotaan, tetapi harus terus hadir melalui kegiatan serta gerakan bersama.
Ia mengingatkan, jika kegiatan organisasi dan pergerakan serikat mulai ditinggalkan, eksistensi organisasi dapat perlahan melemah.
“Perjuangan serikat itu harus terus berjalan. Kalau kita tidak muncul dalam kegiatan-kegiatan serikat dan pergerakan serikat, lama-lama kita bisa hilang,” ujarnya.
Untuk itu, ia pun mendorong seluruh perangkat FSPMI Purwakarta untuk terus membangun kebersamaan melalui berbagai kegiatan yang dapat memperkuat solidaritas dan kekompakan antar anggota.
Rapat internal tersebut pada akhirnya menjadi momen awal untuk memastikan seluruh perangkat FSPMI Purwakarta tetap bergerak dalam satu arah.
Dengan penguatan pendidikan, konsolidasi lintas sektor, serta persiapan agenda organisasi sejak dini, FSPMI Purwakarta berupaya menjaga eksistensi sekaligus memperkuat barisan perjuangan menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan ke depan.



