Merintih Ketika Ditekan Tapi Menindas Ketika Berkuasa

  • Whatsapp

Kawan saya punya kawan, katanya ia pekerja kantoran, istilahnya pekerja kerah putihlah, dengan gaji yang tentu saja di atas UMK. Menurutnya isu upah minimum dan pelemahan serikat bukan perkara penting baginya. Mau buruh-buruh pabrik digaji pakai permen kembalian dari Indomaret pun bukan soal, yang penting rutinitasnya kongkow di morning bakery atau Pizza hut bareng kolega sekantor tak terganggu.Ora urus. Modiar kowe

Lagipula, selain tak berfaedah baginya, menurut dia demonstrasi buruh menolak PP Pengupahan juga bikin jalan jadi macet. Apalagi jika mengganggu perjalanannya atau teman koleganya ikut kena macet, komplit sudah alasan untuk sinis.

Bacaan Lainnya

Seperti dia, barangkali kita semua juga punya kecenderungan memposisikan diri sebagai “rakyat yang dizalimi” saat kepentingan kita diganggu. Itu lumrah dan demokratis. Persoalannya adalah ketika kita sinis terhadap kaum lain yang sedang merasa dizalimi. Seringkali sinisme kita itu dasarnya hanya karena kita tak merasa dizalimi dalam isu yang sama.

Ini mengingatkan saya pada ucapan Soe Hok Gie tentang kemunafikan: merintih ketika ditekan tapi menindas ketika berkuasa. Perilaku kelas menengah di era media sosial ini mirip-mirip begini, atau bahkan lebih parah, berdoa ketika ditekan tapi ikut-ikutan menekan ketika orang lain yang ditekan.

Mereka juga menuduh tuntutan buruh yang tidak realistis, tuduhan bahwa tuntutan buruh tidak realistis ini biasanya diikuti pula dengan khotbah produktivitas.

“Tingkatkan kinerja dulu dong!” begitu bunyi khotbah produktivitasnya. Memang paling enak ngemeng produktivitas karena bukan kita yang harus berdiri berjam-jam di depan assembly line. Paling enteng meremehkan kinerja buruh karena bukan kita yang terpapar zat kimia elektronik setiap hari.

Paling gampang mengecilkan jerih payah buruh karena bukan mereka yang dibentak-bentak, disetrap, dilecehkan secara seksual, dan direndahkan harga dirinya di pabrik.

Peduli setan jika banyak pabrik tak membayar upah lembur dengan benar, peduli setan jika banyak buruh muslim kesulitan menunaikan salat karena dihimpit jam kerja, atau pihak manajemen membiarkan toilet pabrik rusak sehingga buruh-buruhnya harus menahan kencing dan berak selama berjam-jam.

Sedangkan buruh setiap hari diisi berangkat pagi pulang malam Bahkan ada yang lembur hingga jam 9 malam, dan ditambah lagi Sabtu Minggu lembur. Terus tiba-tiba upah lemburnya tidak di bayar sama sekali .

Ada pula yang menyertakan khotbah gaya hidup sehat dan hemat. “Makanya jangan merokok biar hemat dan sehat,” begitu katanya. Celaka betul jadi orang kere di Indonesia. Merokok diceramahi soal gaya hidup sehat, beli telepon genggam canggih dibilang tak mawas diri, beli motor jadi bahan gunjingan, ingin wisata ke Bali dijadikan bahan tertawaan.

Ada juga yang menakuit-nakuti investor bakal hengkang ke negara lain jika buruh banyak menuntut. Padahal di negara lain pun kerap kali investornya mengancam akan hengkang ke Indonesia.

Di Batam, investor sering mengancam akan relokasi ke Johor, sedang di Johor investornya sering mengancam akan relokasi ke Batam. Modiar Pora..

 

Pos terkait