Mencaci Maki Bukan Kritis, Tapi Kurang Ajar

  • Whatsapp
Ratna Sarumpaet ketika menandatangani penolakan reklamasi di atas kain putih. KORAN PERDJOEANGAN/Kahar S. Cahyono

Jakarta, KPonline – Saya beberapa kali bertemu dengan Ratna Sarumpaet. Beberapa kali berada dalam satu forum diskusi dengannya.

Interaksi Ratna dengan KSPI juga bukan sekali dua kali. Ketika pasar ikan digusur, Garda Metal mendirikan tenda untuk tempat berteduh korban gusuran. Ini dilakukan bersama-sama dengan aktivis perempuan yang dikenal vokal sejak orde baru itu.

Bersama Ratna, kami juga pernah satu suara ketika menolak reklamasi. Saat itu, bertempat di Gedung Djoeang, Jakarta, ada seminar bersama yang diselenggarakan. Terakhir kami bertemu dalam Rakernas Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI).

Saya suka dengan gaya bicaranya yang apa adanya. Ia tidak suka basa-basi. Untuk beberapa orang, barangkali gaya seperti ini tidak disukai. Tetapi bagi saya hal itu menunjukkan ketegasan akan sikap dan posisinya. Ia mantap berpihak pada rakyat.

Baru-baru ini, di ILC dia mengatakan kalimat yang dengan segera menjadi perbincangan dimana-mana.

“Tetaplah jadi orang yang kritis. Jangalah dengan mencaci orang kamu menganggap dirimu kritis. Itu bukan kritis. Itu bagian dari kurang ajar bahkan terhadap dirimu sendiri!” kata Ratna.

Dalam forum yang sama, ia juga sempat mengatakan, bahwa forum ini bukan untuk mencari pengakuan ‘aku kelihatan menang’. Lebih besar lagi, dia mengatakan: “Yang menang itu negara ini. Bangsa ini mau kita menangkan.”

Kepada Abu Janda, Ratna  mempersilahkan untuk mendukung Jokowi. Namun membuat Jokowi bisa memimpin bangsa dengan benar adalah sesuatu yang lebih penting menurutnya.

Saya kira, pernyataan Ratna memberikan pesan yang sangat jelas. Bahwa kritik, semestinya tidak menjurus pada ketidaksukaan kita pada personal. Tetapi lebih pada kebijakan. Jika fokus kita pada kebijakan, dengan demikian kita bisa berdialektika. Untuk kemudian mendapatkan narasi untuk perbaikan.

Menjelek-jelekkan orang, menyerang pribadi, dan mencaci-maki bukan kritis. Meminjam kalimat Ratna, itu bagian dari kurang ajar.

Tugas oposisi salah satunya adalah mengkritik. Tugas pemerintah lah yang mewujudkan semua janji. Kelak ketika diberikan kepercayaan, adalah tugas opisisi untuk menjalankan apa yang menjadi kritiknya.

Jadi yang harus kita menangkan adalah negara ini. Kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Ini bukan semata-mata tentang Joko Widodo atau Praboro Subianto.

Saya kira itulah yang hendak dijalankan oleh KSPI ketika membutuhkan untuk go politik. Bukan untuk membela individu, tetapi jauh lebih besar dari itu. Untuk Indonesia, negeri yang dijuluki zamrud di khatulistwa.