Makna Dibalik Robohnya Pintu Gerbang Gedung Sate

Jakarta, KPonline – Jika diam identik dengan kematian, maka gerak adalah tanda kehidupan.

Saya masih mengingat aksi 10 November, tahun lalu. Saat itu aksi massa bertahan hingga malam. Dimulai dari Balaikota – Istana – Balaikota (meskipun dihadang di tengah jalan). Hingga kemudian, atas nama Undang-Undang, aparat memaksa untuk bubar.

Malam itu massa pulang ke rumah masing-masing dengan kepala tegak. Selain berasal dari Jabodetabek, beberapa diantaranya datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa daerah lain.

Ini semacam pembangkangan. Aksi melampaui pukul 18.00, yang konon menjadi batas waktu diperbolehkannya melakukan unjuk rasa terlampaui.

Pembangkangan itu terasa heroik. Menumbuhkan semangat dan keberanian. Kira-kira jika dirumuskan dalam kalimat menjadi seperti ini: Kalau penguasa boleh melanggar Undang-Undang dengan tidak menjalankan apa yang diperintahkan dalam pasal-pasalnya, mengapa rakyat tidak boleh melakukan hal yang sama?

Kemarin, di Gedung Sate – Bandung, pembangkangan itu kembali dilakukan. Kali ini bukan tentang jam malam. Ini memang membuyarkan kesan damai dan santun sebuah aksi. Tetapi saya memaknai, robohnya pintu gerbang adalah semacam cara untuk menyampaikan aspirasi, disaat kata-kata tak lagi memiliki arti.

Aristoteles pernah mengatakan, “Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah.”

Kita tahu, kemarahan ini bukan karena dendam — tetapi karena keadilan telah dinistakan. Keadilan dan kejahteraan hanyalah bualan para politisi.

Mengutip Aristoteles, itu adalah kemarahan yang tepat. Dan jika rakyat sudah berani menunjukkan kemarahannya, itu pertanda sudah gawat.

Daftar Sekarang