KSPI dan APHEDA Bongkar Ancaman Tersembunyi di Tempat Kerja, Ini Hasil Evaluasinya

KSPI dan APHEDA Bongkar Ancaman Tersembunyi di Tempat Kerja, Ini Hasil Evaluasinya

Jakarta, KPonline-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Project Asbestos Periode Oktober 2025 hingga September 2026 yang didukung oleh Union Aid Abroad – APHEDA (Australian People for Health, Education and Development Abroad), pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meninjau capaian program sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja dari bahaya paparan asbes di lingkungan kerja. Sejak dimulai pada Oktober 2025, berbagai agenda sosialisasi, pelatihan, dan kampanye telah dilaksanakan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pertemuan monitoring dan evaluasi tersebut berlangsung dalam suasana penuh semangat kolaborasi. Seluruh peserta berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai capaian, tantangan, serta langkah strategis yang perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan program di masa mendatang.

Program Asbestos Project merupakan salah satu inisiatif penting yang bertujuan meningkatkan kesadaran pekerja dan masyarakat mengenai risiko kesehatan akibat paparan asbes. Selain itu, program ini juga mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam kegiatan tersebut, APHEDA diwakili oleh Philip Hazelton dan Adam Kaminski. Kehadiran keduanya menegaskan komitmen APHEDA dalam mendukung gerakan serikat pekerja di Indonesia untuk menciptakan tempat kerja yang lebih aman dan sehat.

Sementara itu, dari pihak KSPI hadir Sekretaris Jenderal KSPI Ramidi, Wakil Presiden KSPI Bidang Hubungan Luar Negeri Prihanani, Dimas P. Wardhana, Rita Hendratiningsih, serta Rizka Septiana yang selama ini aktif terlibat dalam pelaksanaan program.

Sekretaris Jenderal KSPI, Ramidi, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting dalam memastikan setiap program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi pekerja. Menurutnya, evaluasi yang dilakukan secara berkala akan menjadi dasar untuk meningkatkan efektivitas program di masa yang akan datang.

Dalam sesi diskusi, para peserta juga membahas pentingnya memperluas jangkauan edukasi terkait bahaya asbes. Pemanfaatan media sosial, pelatihan kader, serta penguatan jaringan di tingkat daerah dinilai menjadi strategi yang efektif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dan pekerja.

Selain aspek edukasi, pertemuan ini turut membahas berbagai upaya advokasi yang telah dilakukan selama periode program. KSPI dan APHEDA berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan material yang mengandung asbes.

Kolaborasi antara KSPI dan APHEDA selama ini telah menghasilkan berbagai kegiatan positif, mulai dari pelatihan trainer, sosialisasi di tempat kerja, hingga kampanye publik mengenai dampak paparan asbes terhadap kesehatan. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak dalam mengutamakan keselamatan kerja.

Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, seluruh pihak sepakat bahwa perlindungan terhadap pekerja harus menjadi prioritas utama. Lingkungan kerja yang aman dan sehat merupakan hak dasar yang harus dipenuhi bagi setiap pekerja tanpa terkecuali.

Dengan semangat solidaritas internasional, KSPI dan APHEDA optimistis kerja sama yang telah terjalin akan semakin kuat. Harapannya, seluruh rangkaian Project Asbestos dapat terus memberikan dampak nyata dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, aman, dan bebas dari bahaya asbes.