Nganjuk, KPonline – Sabtu Malam (25/4/2026), di bawah langit Desa Karangnongko, Nganjuk, program Besut Jajah Desa Milangkori menorehkan edisinya yang paling berkesan. Suasana di Sanggar Rumah Ilalang malam itu tak lagi terasa seperti pertunjukan seni yang berjarak, melainkan telah melebur menjadi satu keluarga besar seni budaya yang tengah larut dalam kehangatan yang sama. Persis seperti seorang simbah yang tengah bercengkerama, melepaskan kerinduan bersama cucu-cucu tercintanya.
Ketika Meimura yang malam itu memerankan tokoh Besut—melangkah dari kegelapan jalanan desa dengan obor kecil di tangan, anak-anak sanggar langsung berlarian menjemputnya. Mereka mengawal sang Besut menuju arena, seolah menjaga agar api tradisi itu tidak padam. Malam itu mengambil tema yang sangat pas: Besut Sambang Putu (Besut Mengunjungi Cucu). Sebuah kepulangan, dan sebuah pelukan yang sudah lama dinantikan.
Di atas panggung yang cair tanpa sekat, Besut memosisikan dirinya sebagai kakek yang merangkul. Anak-anak asuhan Kang Rego (Agus R. Soebagyo) itu pun menjelma menjadi cucu-cucu yang riuh, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Tidak ada rasa canggung. Anak-anak dengan percaya diri merangsek ke tengah arena, melantunkan puisi-puisi berat karya Taufik Ismail hingga Sapardi Djoko Damono dengan sangat memukau. Bahkan, seorang anak bernama Sabrina dengan lancar melakukan dialog spontan bersama Besut, menghidupkan karakter Rusmini dengan begitu jenaka.
Simbah Besut menjawab kepolosan cucu-cucunya dengan guyonan dan petuah ringan tanpa kesan menggurui. Ia mengenalkan apa itu ludruk, apa itu Besut, bahkan memperagakan tari Remo hanya dengan iringan musik dari mulutnya sendiri.
Keakraban ini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi bisa diwariskan dengan cara yang paling indah: lewat kasih sayang dan kebersamaan. Sebagai bentuk penghargaan, sang penulis Henri Nurcahyo bahkan turun langsung memberikan hadiah buku kepada anak-anak yang tampil berani malam itu.
Di balik riuhnya malam itu, ada tangan dingin Kang Rego yang sejak 2009 konsisten menghidupkan Rumah Ilalang sebagai ruang pelarian kreatif anak-anak desa, mulai dari usia TK hingga SMA. Tanpa sponsor besar, sanggar ini hidup mandiri dari dukungan penuh “emak-emak” setempatyang ternyata banyak di antaranya adalah mantan pegiat teater kampus masa lalu. Maka tak heran jika bakat seni itu kini menurun subur pada anak-anak mereka.
Autar Abdillah, akademisi ludruk yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan apresiasi mendalam. Di tengah gempuran zaman digital, pentas malam itu sukses menjadi ajang srawung sedulur (berkumpulnya saudara) yang nyata. Menepis ketergantungan anak-anak pada gawai, dan mengembalikannya ke ruang sosial yang hangat.
Pentas di Nganjuk ini merupakan bagian dari program Jajah Desa Milangkori oleh Meimura, sebuah gerakan Pemberdayaan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan RI yang digelar di 10 kota Jawa Timur.
Setelah menghangatkan Nganjuk, perjalanan Besut akan terus berlanjut ke Mojokerto, Kediri, Madiun, hingga Jember. Namun bagi siapa saja yang hadir di Rumah Ilalang malam itu, mereka tahu bahwa benih cinta tradisi telah berhasil ditanamkan secara mendalam di hati para generasi masa depan.



