Purwakarta, KPonline-Dalam pidatonya di momen penutupan Musyawarah Unit Kerja (Musnik) V Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk yang digelar di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta pada Minggu (24/5/2026), Sekretaris Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta Ade Supyani menekankan pentingnya keberanian, kekompakan, dan peningkatan kapasitas dalam berorganisasi.
Ade Supyani juga menegaskan bahwa Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia bukanlah organisasi kecil tanpa arah. Ia menyebut bahwa struktur organisasi SPMI lengkap, mulai dari tingkat PUK hingga Dewan Pimpinan Pusat (DPP), bahkan terafiliasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) serta jaringan serikat pekerja internasional.
“Perjuangan kita tidak berhenti di dalam negeri. Banyak kasus perburuhan yang kita bawa hingga ke tingkat internasional. Jadi, kawan-kawan jangan takut,” tegasnya.
Ade pun membagikan pengalaman pribadinya saat pertama kali terjun dalam aksi buruh. Ia mengaku sempat gugup dan bahkan tidak mampu berorasi lebih dari lima menit. Namun, melalui proses belajar dan keberanian mengambil peran, ia kini mampu berbicara panjang dalam berbagai aksi.
“Kalau kalian tidak berani mengambil bagian tersulit. Takut, gemetar, takut salah. Maka sampai kapan pun kalian tidak akan berkembang,” ujarnya.
Pesan ini secara khusus ditujukan Ade Supyani kepada ketua terpilih, Yogi Zulharyanto, agar tidak merasa minder dalam memimpin. Menurutnya, keberanian harus dibarengi dengan perhitungan dan pembelajaran yang terus-menerus.
Lebih lanjut, Ade menekankan bahwa tugas pengurus serikat bukan sekadar formalitas, tetapi harus mampu meningkatkan kapasitas diri, baik dalam negosiasi, komunikasi, hingga konsolidasi massa.
Ia menjelaskan bahwa setiap ruang memiliki perbedaan. Mulai dari orasi di lapangan, pendidikan organisasi, hingga meja perundingan dengan manajemen.
“Semua harus belajar. Bahasa saat orasi beda dengan saat negosiasi. Ini yang harus kalian kuasai,” katanya.
Selain itu, Ade juga mengingatkan kembali esensi berserikat, yaitu membangun kekuatan kolektif pekerja yang selama ini berada pada posisi lemah secara sosial, ekonomi, dan politik di dalam perusahaan.
Menurutnya, kekuatan serikat pekerja tidak hanya diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari tingkat kekompakan dan kepatuhan terhadap instruksi organisasi.
“Kadang kita tidak perlu banyak bicara ke manajemen. Cukup tunjukkan bahwa kita kompak. Foto kebersamaan saja sudah menjadi pesan kuat,” ujarnya.
Kemudian, ia menyoroti masih minimnya partisipasi anggota dalam kegiatan organisasi, bahkan untuk agenda penting seperti Musnik. Hal ini dinilai menjadi tantangan serius dalam membangun kekuatan serikat yang solid.
Sebagai langkah konkret, Ade Supyani menyampaikan target organisasi agar jumlah anggota FSPMI di PT Indopoly meningkat menjadi minimal 300 orang pada akhir tahun 2026.
Target tersebut, kata dia, tidak bisa hanya dibebankan kepada pengurus, melainkan harus menjadi gerakan bersama seluruh anggota.
“Semua harus bergerak. Satu orang bawa satu anggota baru. Kita harus besar,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar kegiatan konsolidasi rutin dilakukan, termasuk di depan pabrik, sebagai bentuk penguatan solidaritas sekaligus menunjukkan eksistensi serikat kepada manajemen.
Di akhir pidatonya, Ade mengingatkan pentingnya keberadaan serikat pekerja sebagai benteng perlindungan bagi buruh. Ia membandingkan dengan kondisi pekerja yang tidak memiliki serikat, yang seringkali tidak mendapatkan pembelaan ketika menghadapi masalah, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Di FSPMI, selama itu benar, pasti kita lawan. Entah lewat mediasi, aksi, atau jalur hukum. Tidak ada yang dibiarkan sendiri,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh anggota PUK Indopoly untuk tidak ragu berdiskusi, berkonsolidasi, dan memperkuat solidaritas lintas sektor dalam tubuh organisasi.
“Walaupun kita berbeda sektor, kita tetap satu. Jangan takut, jangan minder. Semua bisa kita lalui bersama,” tutup Ade Supyani.