Jangan Abaikan Beban Pekerja Perempuan di Balik Peran Ganda

Jangan Abaikan Beban Pekerja Perempuan di Balik Peran Ganda

Jakarta, KPonline-Persoalan kesehatan mental pekerja perempuan menjadi perhatian Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Hal itu mengemuka dalam seminar Mental Health bagi Pekerja Perempuan yang diselenggarakan Bidang Perempuan FSPMI di Bale Bengong Restaurant, Jakarta. Rabu, (12/8/2026).

Seminar tersebut menjadi ruang bagi pekerja perempuan FSPMI untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan, keluarga, organisasi, dan kehidupan sosial yang kerap berjalan bersamaan.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan tersebut, Mundiah sebagai Vice Presiden Bidang Perempuan FSPMI menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung kegiatan tersebut. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada perwakilan DPP FSPMI, para peserta dari berbagai daerah, serta narasumber yang hadir untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan mental.

Mundiah juga mengapresiasi perjuangan peserta yang datang dari berbagai daerah, termasuk Banten dan Purwakarta, meskipun harus menghadapi perjalanan dan kemacetan.

Menurut Mundiah, semangat perempuan FSPMI untuk hadir dalam kegiatan pendidikan tidak boleh surut hanya karena berbagai kendala.

“Perempuan FSPMI!” serunya, yang kemudian disambut semangat oleh peserta seminar.

Dalam kesempatan tersebut, Mundiah juga menekankan pentingnya identitas dan kebersamaan organisasi. Ia menekankan bahwa perempuan FSPMI harus terus memperkenalkan identitas perjuangannya, baik di lingkungan organisasi, tempat kerja, maupun dalam kehidupan sosial.

Ia juga mengingatkan pentingnya lagu perjuangan organisasi untuk terus dikenalkan dan dinyanyikan dalam berbagai kegiatan sebagai bagian dari membangun semangat kebersamaan.

Namun, inti kegiatan tersebut bukan sekadar soal identitas organisasi. Mundiah menegaskan bahwa Departemen Perempuan FSPMI memiliki alasan kuat menggelar seminar mengenai kesehatan mental.

Ia menyoroti persoalan peran ganda perempuan yang sering kali menjadi sumber tekanan. Di satu sisi, perempuan bekerja dan menghadapi tuntutan di tempat kerja. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tanggung jawab keluarga serta berbagai persoalan sosial dan organisasi.

“Perempuan itu dengan adanya peran ganda selalu banyak problem dan permasalahan. Baik itu problem di keluarga maupun juga di lingkungan,” ujarnya.

Karena itu, Mundiah mengungkapkan, seminar diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Mundiah mendorong peserta untuk aktif berdiskusi dan memanfaatkan kesempatan bertanya langsung kepada dokter yang menjadi narasumber.

“Pemahaman mengenai kesehatan mental sangat penting agar pekerja perempuan tidak menghadapi persoalan seorang diri,” tegasnya.

Ia bahkan berharap komunikasi antara peserta dan narasumber dapat terus berlangsung ketika persoalan kesehatan muncul setelah seminar.

Atas sambutan yang diungkapkan oleh Mundiah tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental pekerja perempuan tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan pribadi semata. Tekanan kerja, persoalan keluarga, tuntutan organisasi, hingga beban sosial dapat saling berkelindan dan memengaruhi kondisi psikologis seorang pekerja.

Karena itu, membicarakan mental health di lingkungan serikat pekerja menjadi bagian penting dari perjuangan kesejahteraan pekerja.

Sebab kesejahteraan pekerja bukan hanya tentang upah yang layak. Pekerja perempuan juga berhak memiliki ruang untuk sehat secara mental, didengar, mendapatkan dukungan, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dipaksa kuat sendirian.

Pos terkait