Jadilah Pelaku Sejarah, Jangan Titipkan Nasib

Batam, KPonline –¬†Setiap hari, mentari pagi menyapa ramah. Sinarnya yang kemilau memancar indah. Tetapi itu tidak membuatku tergoda untuk bangun pagi. Sudah terlalu sering aku melihat pemandangan seperti itu. Hal-hal yang selalu berulang akan terasa hambar, bukan? Dan itulah yang aku rasakan dari rutinitas pagi di kampungku.

Hawa perbukitan yang dingin, membuatku malas beranjak dari ranjang kusam yang terbuat dari potongan papan. Susana pagi yang seperti ini, membuatku lebih nyaman bersembunyi di balik selimut. Itu satu hal yang membuatku selalu bangun siang. Hal yang lain, toh aku tidak memiliki pekerjaan. Jadi buat apa bangun pagi seperti layaknya orang-orang kantoran itu?

Bacaan Lainnya

Sampai suatu saat, akhirnya aku menjadi bosan sendiri. Sampai kapan akan menjadi seperti ini? Makan tidur, luntang lantung, tanpa pekerjaan?

Ternyata menjadi pengangguran itu capek. Melelahkan. Sudahlah begitu, di kantong nggak ada uang. Makanya, lebih baik lelah karena karena kerja daripada lelah karena nganggur.

Buat apa orang tua mati-matian membiayaiku agar memiliki ijazah, jika kemudian tidak berguna? Apakah ijazah hanya akan menjadi pajangan di rumah?

Kerisauan ini terjadi berbulan-bulan, sebelum akhirnya aku bertemu dengan seorang teman. Namanya Andi. Sembari bergurau dan mengenang masa-masa sekolah di sebuah warung tua di pinggir jalan, dia bercerita bahwa di Batam gampang mencari kerja. Dia juga mengatakan gaji di sana relatif besar.

Aku yang tak pernah makan gaji tergiur. Dia mengisahkan perjalanan hidupnya yang manis.

Hingga akhirnya, aku mengambil keputusan. Tepat pada tanggal 12 Februari 2004, kapal yang aku tumpangi berlayar ke Batam. Aku, si anak desa dari sebuah kampung di Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat, akhirnya merantau.

* * *

“Usaha tidak akan pernah membohongi hasilnya.” Aku membuktikan kebenaran akan kata-kata itu.

Gayung pun bersambut. Setelah memasukkan lamaran kerja, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Prancis, yang terletak di Mukakuning Batam.

Setelah tiga bulan bekerja, aku didatangi seorang pria tua. Namanya Rundinta Sitepu. Dia adalah salah satu pengurus FSPMI di perusahaan tempatku bekerja.

Aku diajak bergabung dengan serikat pekerja. Tentu saja, sebelumnya dia menjelaskan pentingnya berserikat. Aku tertarik. Kemudian mengisi formulir menjadi anggota FSPMI.

Sebagai anggota, aku ikut berbagai kegiatan organisasi serikat pekerja. Salah satu kegiatan yang aku ikuti adalah unjuk rasa.

Sampai pada suatu saat, tepatnya bulan November 2012, di depan Masjid Raya Kota Batam, aku melihat sekelompok massa berkumpul memakai baju hitam dan celana hitam dengan bandana di kepala. Aku bertanya kepada salah seorang di sampingku. Mereka siapa? Dia menjawab, bahwa itu adalah salah satu pilar FSPMI, Garda Metal.

Melihat mereka selalu ada di barisan terdepan, dengan kekompakan yang luar biasa, aku menemui pengurus FSPMI di tingkat unit kerja dan menyatakan keinginan untuk menjadi seperti mereka.

Itulah awalnya. Ketika ada Latihan Dasar (Latsar) Garda Metal, aku dikirim. Dalam Latsar yang diselenggarakan selama 2 hari 1 malam di asrama Raja Ali, daerah Punggur, akhirnya aku bisa memakai baju hitam, celana hitam, dengan bandana merah di kepala. Sejak saat itu aku bisa berada di barisan terdepan di setiap aksi.

Agenda demi agenda terkait dengan serikat pekerja kulalui. Aksi demi aksi aku jalani. Itulah yang membuatku semakin cinta dengan pilar ini.

Di sini, aku diajarkan untuk setia, taat pada sebuah instruksi, walaupun terkadang aku masih merasa kurang maksimal untuk menjalankan kegiatan organisasi. Tetapi aku berjanji dalam hati, untuk tetap berada di barisan ini. Semampu yang aku bisa.

Susah senang, setia kawan, kompak, rela, solid, lugas, dan sigap. Itu lah yang harus selalu tertanam dalam hati. Menjadi perilaku sehari-hari. Karena perjuangan itu akan terasa manis apabila dijalani dengan ikhlas. Jangan jadikan sebuah perjuangan ini adalah sebuah keterpaksaan. Jalani semuanya dengan hati yang riang, jiwa yang tanpa terpaksa. Bukankah kita diajarkan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat untuk sesamanya?

Sebab, di sini kita adalah pelaku sejarah, bukan penikmat sejarah.

=========
Penulis: Afrinande Afrizal. Tulisan ini merupakan hasil praktek pelatihan menulis yang diselenggarakan Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Kota Batam. Jika organisasi (PUK/PC/KC) di wilayah anda ingin mengundang Tim Media Perdjoeangan dalam pelatihan menulis, kirimkan surat melalui email: koranperdjoeangan@gmail.com. Kami akan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar bersama. Baca juga tulisan menarik lainnya dari  Peserta Pelatihan Menulis..

Daftar Sekarang

Pos terkait