Geopolitik Global dan Senjakala Hak Buruh: Membaca Arah Perjuangan Serikat di Era Krisis

Geopolitik Global dan Senjakala Hak Buruh: Membaca Arah Perjuangan Serikat di Era Krisis

Purwakarta, KPonline-“Kekuatan serikat pekerja bergantung pada keadaan ekonomi dan geopolitik global. Di saat keadaan memasuki tahap ketiga perang global, di situlah pelemahan terhadap serikat menjadi masif. Bahkan dalam sejarahnya, The Great Depression memaksa negara melemahkan serikat pekerja di Amerika.”

Pernyataan menohok di atas dilontarkan oleh Hendra Mulyadi, tokoh senior dan Vanguard PUK SPAI FSPMI PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk FID Purwakarta. Di tengah hiruk-pikuk isu lokal seperti Upah Minimum Kabupaten (UMK) atau syarat kerja di tingkat pabrik, analisis Hendra seolah menampar kesadaran kita, perjuangan buruh tidak pernah berada di dalam ruang hampa. Apa yang disampaikan Hendra Mulyadi bukanlah sekadar retorika alarmis, melainkan sebuah peringatan sejarah (historical warning) yang sangat relevan dengan realitas geopolitik hari ini.

Bacaan Lainnya

Poin sejarah yang diangkat Hendra mengenai The Great Depression pada tahun 1929–1930-an adalah fakta pahit yang kerap dilupakan. Ketika perekonomian runtuh, negara dan korporasi selalu menggunakan argumen “penyelamatan ekonomi” untuk memangkas hak-hak buruh. Atas nama efisiensi dan stabilitas nasional, serikat pekerja yang vokal kerap dicap sebagai “penghambat pemulihan”. Hal serupa berulang setiap kali krisis global atau perang berkecamuk. Ketika rantai pasok dunia terganggu, inflasi melonjak, dan harga energi membubung tinggi, beban terbesar dari instabilitas tersebut hampir selalu digeser ke pundak kelas pekerja.

Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik geopolitik di berbagai belahan dunia, benturan blok kekuatan ekonomi besar, hingga perang dagang yang tak kunjung usai, secara tidak langsung telah menyeret dunia ke dalam eskalasi krisis yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai fase awal ketegangan global pihak ketiga. Dampaknya terasa nyata hingga ke garis depan produksi termasuk di kawasan-kawasan industri seperti Purwakarta. Ketika ekonomi global terguncang, harga bahan baku impor melambung sehingga industri manufaktur dan olahan pangan tertekan. Di sisi lain, fleksibilitas kerja dipaksakan di mana korporasi menuntut aturan kerja yang semakin longgar, memperbanyak skema outsourcing, dan menekan kenaikan upah. Hal ini berujung pada pelemahan posisi tawar, di mana ketakutan akan PHK massal dimanfaatkan untuk membungkam daya kritis serikat pekerja. Di titik inilah kebenaran dari ucapan Hendra Mulyadi terbukti, pelemahan serikat tidak lagi hanya datang dari regulasi domestik seperti Omnibus Law, tetapi dari gelombang mikro dan makro ekonomi global yang menghantam tanpa ampun.

Jika krisis global adalah ancaman nyata, lantas apa yang harus dilakukan oleh serikat pekerja? Kembalinya para aktivis senior seperti Hendra Mulyadi ke jajaran pengurus serikat menjadi lentera di tengah ketidakpastian ini. Pengalaman mereka dalam membaca arah angin politik dan ekonomi sangat dibutuhkan oleh para kader muda. Serikat pekerja hari ini tidak bisa lagi bertarung hanya dengan modal emosi atau otot, melainkan gerakan buruh modern harus dibekali dengan literasi ekonomi dan geopolitik yang kuat. Buruh harus paham bagaimana konflik dunia memengaruhi harga produk pabrik mereka, serikat harus mampu bernegosiasi menggunakan data makroekonomi yang presisi, serta kaderisasi harus mencetak pemikir strategis, bukan sekadar orator lapangan.

Pernyataan Hendra Mulyadi adalah sebuah panggilan untuk bersiap. Kita tidak boleh biarkan krisis ekonomi dan geopolitik global dijadikan alasan oleh pihak-pihak tertentu untuk memberangus hak-hak buruh yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Sejarah memang mencatat bahwa The Great Depression sempat melemahkan posisi buruh, namun sejarah juga mencatat bahwa dari puing-puing krisis itulah lahir gerakan buruh yang lebih solid, cerdas, dan tangguh. Menghadapi ancaman krisis global tahap berikutnya, kekompakan, kecerdasan bertindak, dan kesadaran geopolitik adalah kunci utama agar gerakan buruh khususnya FSPMI tetap berdiri tegak mengawal kesejahteraan pekerja.

Pos terkait