Empat Jam di Bumi Berazam Karimun

Ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Karimun, paska berita menghebohkan tentang narkoba 3 ton yang di siarankan secara live oleh hampir semua stasuin TV, kini nama Karimun telah mendunia. Meski berita itu tidak terbukti, karena saat dilakukan pengecekan dengan sejumlah alat lengkap, sama sekali tidak di temukan narkotika di kapal MV Win Long BH 2998 yang kabarnya mencapai 3 ton ini, namun nama Karimun telah benar benar mendunia. Bahkan ada kolega saya yang di Hongkong langsung menanyakan hal tersebut kepada saya langsung.

Mengunjungi karimun, terlebih dulu kami harus melalui pelabuhan domestik Sekupang, Batam. Dan ini juga menjadi kunjungan pertama saya setelah sekian lama tidak pernah datang lagi ke sini. Kini bangunan Pelabuhan domestik Sekupang semakin bertambah megah dengan layar layar monitor petunjuk jadwal kapal dan semua ruangan juga sudah berpendingin ruangan.

Tidak ada teriakan penjual tiket di pintu masuk kedatangan, mereka kini di alihkan ke lantai 2 sekaligus pintu keberangkatan . Sangat kontras dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu, di mana pelabuhan seperti sebuah pasar tradisional dengan riuh para penjual tiket berebut penumpang. Pintu kedatangan juga sangat simple dan tidak ada sekat sekat lagi, begitu datang kita bisa langsung nyelonong keluar tanpa ada pemeriksaan

Jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu di mana kondisinya nyaris sama dengan barak-barak pengungsian, lengkap dengan sel-sel tahanan bagi mereka yang tidak dapat menunjukkan identitas sebagai warga Batam.

Saya tahu dulu Batam merupakan memang kota idola dan primadona. Batam banyak sekali menjanjikan berbagai macam pekerjaaan di berbagai sektor, khususnya di bidang perusahaan elektronika. Walaupun berangkat dengan modal nekat saja dulu sangat mudah sekali melamar pekerjaan di Batam.

Seperti pepatah bilang ada gula ada semut, dengan kebijakan pemerintah waktu itu berbondong-bondonglah masayarakat Indonesia khususnya Jawa dan Sumatera bahkan dari Indonesia Timur masuk ke Batam.

Sambil menunggu kawan yang lain datang, saya sempatnya ngobrol dengan perempuan berjilbab yang berada di counter keberangkatan, saya tidak sempat menanyakan namanya dan darinya kita tahu bahwa jadwal pelayaran kapal ferry dari pelabuhan Domestik Sekupang adalah untuk trip pertama berangkat pukul 07.30 WIB, berangkat dari Sekupang Batam menuju ke Tanjung Balai Karimun – Selat Panjang – dan tujuan akhir Tanjung Buton

Selanjutnya untuk keberangkatan kedua pukul 08.00 WIB,berangkat dari Sekupang Batam menuju ke Tanjung Balai Karimun – Selat Panjang – Bengkalis – dan tujuan akhir Dumai.

Sedangkan kapal selanjutnya berangkat pukul 09.30 WIB dan pukul 14.30 WIB berangkat dari Sekupang Batam menuju ke Tanjung Balai Karimun.

Tepat Jam 9.30 kami berangkat dengan terlebih dahulu melalui metal detektor dan pemeriksaan isi tas dengan x-ray layaknya di bandara. Memasuki kapal sudah di sambut beberapa pedagang asongan yang entah dari mana asalnya dan seorang pengamen yang juga sibuk beraksi.

Sangat janggal memang di dalam sebuah ferry ada pengamen dan pedagang asongan, apalagi pengamen

gedung-baru-pelabuhan-domestik-sekupang_20170611_173151
Terminal Ferry Domestik di Sekupang batam yang terus berbenah

Selama perjalanan Batam, Karimun, penumpang tidak begitu banyak sehingga kita bisa memilih tempat duduk tanpa khawatir sedikitpun. Dua buah TV LED di masing masing ruangan menjadikan perjalanan tidak membosankan dengan tayangan film luar negeri.

Bosan duduk saja, kami memilih beranjak dan menuju dek kapal sembari menikmati semilir angin laut yang terasa panas. Pemandangan ombak dan gugusan pulau di sepanjang perjalananlah yang membuat kami berlama-lama berada di atas dek kapal sembari diskusi tentang perjuangan dan strategi kedepan sambil di temani sebotol kopi yang telah di siapkan oleh salah satu teman kami.

Kurang lebih satu setengah jam perjalanan nampak dari kejauhan sebuah pulau dengan deretan bangunan berwarna kuning khas Melayu nampak dari kejauhan. Itukah pulau Karimun? Pikir saya, semakin dekat semakin yakin karena terpampang jelas sebuah tulisan selamat datang di Karimun.

whatsapp-image-2018-03-19-at-12.31.131
Bukan hanya di dalam bus, di dalam sebuah kapal fery pun ada pengamen. Indonesia banget

Tak butuh waktu lama mengantri kamipun mendaratkan kaki di pulau seluas 139 km2 ini yang langsung di sambut oleh cuaca yang terik, bahkan lebih terik dari Batam.

Seorang teman Karimun kami segera membimbing kami menuju mobil untuk segera bergegas menuju lokasi acara

Sepanjang perjalanan di Karimun hamparan laut nyaris tidak terlihat dengan jelas karena tertutup oleh deretan ruko yang berjejer di sepanjang bibir pulau, lebar jalan yang hanya tiga meter membuat lalu lintas beberapa kali tersendat .

Memasuki Dhuhur kami tiba di lokasi acara yang tak jauh dari masjid Nurul Islam yang sudah mulai melantunkan Sholawat nabi yang jarang kami temui di Batam. Memasuki waktu sholat, suara kentongan dan bedugpun masih bisa kita dengar di masjid ini.

29366304_10208830193031741_1879857879234641920_n
Di masjid ini Bedug masih di pukul tanda sholat akan segera di mulai

Setelah sholat kami memasuki sebuah rumah salah satu teman perjuangan kami yang sudah menjadi penduduk tetap Karimun untuk berdiskusi dengan penuh kehangatan hingga tak terasa saatnya kami harus mengakhiri pertemuan ini untuk segera pamit karena ferry terakhir ke Batam adalah pukul 16.30

Dalam perjalanan kembali ke pelabuhan kami mampir ke sebuah tempat yang bernama Coastal area Karimun. Lokasi ini merupakan tempat wisata andalan Pulau Karimun. Daratan hasil reklamasi ini mulai dikenal masyarakat Kepulauan Riau ketika adanya MTQ tingkat Provinsi Kepulauan Riau.

Di hari-hari biasa, Coastal Area Tanjung Balai Karimun ini dijadikan area multi fungsi, seperti food court, lapangan bermain, arena olahraga, tempat nongkrong, pegelaran musik dan tempat diadakannya acara keagamaan. Di Karimun sendiri memiliki makanan khas tersendiri yaitu siput lendot