Di Depan Kantor Walikota Batam, Sore itu…

  • Whatsapp

15decBatam, KPonline – Suaranya terdengar parau. Dia berusaha meyakinkan massa buruh untuk tetap mendengarkan setiap intruksinya dan tidak terprovokasi oleh perintah polisi melalui pengeras suara, yang menyuruh agar aksi segera di sudahi.

“Saya katakan, duduk semua. Duduk!! Katanya satu komando.” Ia memberi perintah kepada puluhan anggota garda metal yang sudah mulai emosi dan ingin merangsek ke depan.

Bacaan Lainnya

Sejenak aku melirik jam di ponselku. Pukul 17.07 WIB. Sudah lewat waktunya. Sejumlah perwira polisi sudah tak sabar untuk membubarkan massa aksi. Puluhan anggota pasukan anti huru-hara segera merangsek ke depan sambil memukulkan tongkatnya ke tameng. Menimbulkan bunyi yang riuh sekali.

Sejumlah buruh perempuan memilih untuk mundur ke belakang dan di ganti oleh buruh laki-laki berseragam kerja khas galangan kapal dengan sepatu boot dan helm safety. Mereka seolah siap untuk berhadapan langsung dengan aparat kepolisian yang juga sudah tak sabar ingin menggebuk.

Suasana berubah menjadi tegang. Aku yang sibuk mengabadikan momen ini terpancing emosi. Sedemikian susah dan beratnya perjuangan ini. Perjuangan kaum buruh untuk memperoleh sedikit kelayakan untuk menghidupi anak istrinya. Perjuangan untuk membuka mata para pengambil kebijakan yang sombong dan congak. Perjuangan agar generasi buruh mendatang bisa lebih terjamin hidupnya. Perjuangan untuk menolak setiap bentuk dari tindakan kesewenangan. Perjuangan agar pemerintah segera menurunkan harga beras, juga perjuangan melawan rakusnya kepentingan.

Sudah tulikah pemerintah sehingga tak ada seorangpun yang sudi menemui kami? Tenggorokanku tiba-tiba menjadi kelu menyaksikan pemandangan ini. Jiwaku berontak. Darahku bergemuruh melihat semangat kawan-kawanku.

Mereka tidak takut di PHK karena ikut aksi ini. Mereka tidak takut gajinya di potong karena ikut aksi ini. Mereka memilih untuk berpanas-panasan, sementara masih banyak yang memilih duduk manis di ruangan berAC dan ikut menikmati hasil dari perjuangan ini.

Banyak juga di antara kami sebenarnya yang sudah mempunyai kedudukan di perusahaan. Mereka bisa saja hanya duduk manis di tempat kerjanya sambil cengengesan dengan bos mereka, toh, tidak ada pengaruhnya sama sekali buat mereka jika perjuangan ini berhasil. Tapi mereka tidak ingin berpangku tangan saja melihat temannya berjuang, mereka ingin menjadi bagian dan saksi sejarah bahwa kesejahteraan buruh itu tidak turun sendirinya dari langit. Bahwa kesejahteraan itu harus di perjuangkan, dan bahwa perjuangan ini juga perlu pengorbanan.

Mata kamera dari tadi aku arahkan ke Pangkorda yang berdiri menantang matahari senja. Sejenak pandangan mata kami bertemu. Hanya beberapa detik. Kemudian dia kembali memalingkan wajahnya ke arah deretan mobil water canon dan puluhan polisi yang telah siaga di atas sepeda motornya.

Aku bisa merasakan apa yang kini tengah ia rasakan. Batinku tiba-tiba berontak, antara sedih, menjerit dan marah, entah pada siapa perasaan ini aku tujukan, aku tak tahu. Juga tak peduli.

“Baik kawan-kawan, kita akan sudahi aksi ini.” Akhirnya dia mengalah.

”Hari ini Walikota tidak mau menemui kita. Kita tidak tahu dia ada di mana sekarang. Tapi biasanya ketika kita sedang aksi di kantor Walikota, dia pergi ke Singapore, shopping atau tidur nyenyak di sana”.

“Besok kita akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar. Ajak semua rekan buruh yang hari ini memilih lembur daripada ikut aksi. Sekali lagi, ajak mereka semua. Setuju?”

Dengan gegap gempita, kami semua menjawab, setuju.
“Oke, sebelum pulang mari kita berdoa dulu. Semoga kita selamat sampai di rumah nanti. Berdoa,mulai….” Segera aku tundukkan kepala mengikuti intruksinya.

Setelah selesai berdoa, aku melirik beberapa polisi yang ada di sampingku. Oh, rupanya mereka juga ikut berdoa.

Massa buruh mulai membubarkan diri seiring dengan lantunan ayat suci dari toa masjid raya. Sengaja aku pulang paling belakang untuk memparipurnakan aksi hari ini. Kaos hitam yang ku kenakan sudah tidak tahu lagi seperti apa baunya, penuh dengan peluh bercampur debu.

Ponselku tiba-tiba berteriak. Suara wanita di dalamnya yang sudah sangat aku kenal. Dia menghawatirkanku yang sampai jam segini belum ada beritanya. Segera aku yakinkan dia, bahwa aku akan baik-baik saja. Setelah itu, kembali larut dalam aroma peluh ribuan buruh sore ini.(S.Ete)

 

Pos terkait