Buruh Go Ekonomi: Beternak Lele

Buruh Go Ekonomi: Beternak Lele

Bogor, KPonline – Berbagai macam cara dilakukan oleh Kaum Buruh untuk menggerakkan perekonomian. Dari membangun gerakan koperasi pekerja, warung kecil, retail, bahkan saat ini sudah merambah ke bidang properti. Kaum Buruh harus “melek” terhadap ekonomi, karena salah satu gerakan Kaum Buruh adalah Gerakan Buruh Go Ekonomi.

Apa yang dilakukan oleh PUK SPEE-FSPMI PT. Nittoh Presisi Indonesia 2 tahun yang lalu, merupakan bukti nyata Gerakan Buruh Go Ekonomi. Kegiatan ini merupakan salah satu pemberdayaan sumber daya manusia dari anggota PUK SPEE-FSPMI PT. Nittoh Presisi Indonesia dan juga penyadaran pengurus PUK terhadap anggota-anggotanya agar “melek” terhadap Gerakan Buruh Go Ekonomi.

Bacaan Lainnya

Dengan modal 15 juta rupiah dari 15 orang pengurus PUK dan anggota, Setia Budi, Suminta, Verry Sandika, Dedi Maulana, Nelly Septiana dan beberapa kawan buruh yang lainnya, mereka mengumpulkan uang per orang masing-masing 1 juta rupiah. Uang yang mereka kumpulkan, awalnya untuk modal usaha yang lain. Tapi ditengah kebingungan untuk memilih jenis usaha sampingan apa yang akan mereka lakukan, Suminta mempunyai ide untuk beternak lele.

Dan akhirnya, ide dari Suminta yang akhirnya dijadikan tujuan dari usaha sampingan mereka. Meskipun saat ini mereka masih berstatus sebagai pekerja di PT. Nittoh Presisi Indonesia, sebisa mungkin mereka menyempatkan diri untuk datang ke empang lele yang berlokasi di Desa Cijujung Kecamatan Sukaraja, Bogor.

Di atas tanah seluas 4.000 meter persegi, berdiri 30 empang lele dengan jenis Sangkuriang. Jenis lele ini termasuk jenis ikan lele yang terbaik di kelasnya.

“Kedepannya kita akan memperluas dan menambah jumlah empang, tanah di samping lahan empang lele yang sudah ada, kemungkinan besar yang akan kami gunakan” terang Setia Budi kepada Media Perdjoeangan Bogor.

Suminta pun menjelaskan bahwa kapasitas ikan lele yang sudah ada, masih kurang dari apa yang diharapkan dari pengepul lele dari daerah seputar Bogor.

” Untuk wilayah sekitaran daerah Pomad sampai Pemda Cibinong, kurang lebih ada sekitar 370 pedagang ikan lele goreng atau pecel lele, dan kebutuhan lele yang mereka minta, masih belum tercukupi jika hanya mengandalkan peternak-peternak lele yang ada di seputaran Bogor” terang Suminta. Bahkan tidak jarang, pengepul besar lele di Bogor, meminta pasokan dari daerah luar Bogor sebesar 1 ton per hari, agar permintaan pedagang ikan lele goreng dan pecel lele di wilayah Bogor terpenuhi.

Dengan kapasitas panen dalam 1 minggu kurang lebih 400 kg dari 1 kolam/empang, buat Setia Budi dan Suminta serta kawan-kawan buruh dari PUK SPEE-FSPMI PT. Nittoh Presisi Indonesia, hal itu merupakan anugerah yang luar biasa.

“Karena kami ingat sekali, dahulu dari 100 anggota PUK SPEE-FSPMI PT. Nittoh Presisi Indonesia yang kami ajak untuk membangun usaha sampingan ternak lele, hanya 15 orang saja yang merespon, itu pun dicicil loh waktu pengumpulan uangnya” jelas Nelly Septiana sambil tertawa.

“Sampai sekarang pun, masih banyak yang menawarkan modal usaha buat kami, bukannya kami menolak modal usaha sebagai perluasan usaha lele ini, tapi selama kami masih mampu, selama itu juga akan kami usahakan dengan kemampuan yang kami punya” lanjut Dedi Maulana yang dipercaya sebagai pengambil keputusan dalam kelompok tersebut.

Kedepannya, mereka akan mengusahakan agar pengadaan pakan untuk ternak lele sebisa mungkin diusahakan dari usaha mereka sendiri. Salah satunya adalah pengadaan pelet sebagai pakan utama dari ikan lele.