Berbuah Manis, Jamkeswatch DKI dan Bogor Advokasi Pasien Ini Selama 4 Bulan

Jakarta, KPonline – Atok, penderita penyakit TBC usus dari Hauorgelis, Indramayu, Jawa Barat begitu sabar dalam penantian panjang untuk mendapat pelayanan medis. Bisa di bayangkan betapa bahagianya saat ini sudah bisa merasakan BAB lewat jalan yang sewajarnya seperti anak manusia yang lainnya, karena lebih dari 7 tahun Atok terpaksa BAB lewat anus buatan yang pada saat di operasi pada tahun 2010 silam.

Perjalan panjang dan sangat menyedihkan bagi pasien ini, Atok adalah anak seorang petani yang malang. Beberapa kali operasi tanpa mengunakan BPJS Kesehatan dengan biaya sendiri, sampai orang tuanya merelakan rumah sawah, ladang dan semuanya habis terjual hanya untuk pengobatan Atok.

Empat bulan lalu sekitar bulan September 2018 si Atok bersama keluarga datang ke Jakarta langsung menuju ke Rumah Rakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) berbekal dengan membawa surat rujukan dari RS mitra Plumbon , Cirebon menuju ke poli bedah. Dengan bantuan advokasi Dariyus, Budi (Jamkeswatch DKI) dan Ajarwati serta Abdul Ghofur (Jamkeswatch Bogor) dilakukan pendampingan saat saat pengecekan pertama, mulai pemeriksaan laboratorium, darah, rekam jantung dan endoskopi.

Yang menjadi kendala pemeriksaan cukup memakan waktu karena tidak bisa sehari selesai. Bahkan memakan waktu kurang lebih hingga selama 2 minggu bolak balik ke RSCM.

Seminggu pertama Atok dan keluarga menginap di DPW FSPMI DKI untuk bolak balik ke FSCM, namun dikarenakan di DPW FSPMI terlalu ramai dengan padatnya kegiatan organisasi maka disarankan dan diarahkan oleh Jamkeswatch Bogor (Anjarwati dan Abdul Ghofur) untuk tinggal di rumah perjuangan Bapor FSPASI yang ada kawasan Rawakuning Pulogebang.

Jalan berliku belum selesai sampai disini, menginjak kepada pemeriksaan berikutnya untuk pemeriksaan CT scan, nasib Arok terkendala alat CT scan di RSCM tidak bisa di pakai (rusak alasan dari di RSCM) hingga akhirnya si Atok di rujuk ke RS Gatot Subroto untuk menjalani pemeriksaan dan sekaligus tindakan bedah di sana oleh RSCM.

Sesampainya di RS Gatot Subroto, Atok harus mengulang lagi pemeriksaan dari awal bolak balik lebih dari 15 kali hingga memakan waktu 3 bulan dan selama itu untuk menginap keluarganya di bawa Jamkeswatch Bogor membawa secara bergantian ke rumah anggota Bapor di kawasan Bogor, rumah Anjar dan Abdul Gofur yang juga berada di Bogor. Hal ini mengingat di sekretariat DPW FSPMI DKI selalu ramai untuk istirahat.

Penantian panjang dan memakan waktu menunggu jadwal untuk operasi tidak membuat Atok dan keluarganya putus asa, terlebih dengan adanya relawan Jamkeswatch DKI dan Bogor yang setia mendampingi.

Akhir November 2018 pasien pulang terlebih dahulu ke kampung halaman untuk meminta doa kepada semua keluarganya untuk menjalani operasi di RS Gatot Subroto, 4 hari sebelum di operasi tepatnya tanggal 16 Desember 2018 Atok di temani ayah, ibu, dan kakaknya kembali ke Bogor menginap di rumah Anjarwati/Gofur.

Tanggal 17 Desember 2018 menuju Jakarta untuk menjalani rawat inap terlebih dahulu di RS Gatot Subroto di lantai 4 kamar 406, dan tanggal 20 Desember 2018 dilakukan bedah operasi jam 11.00 siang hingga selesai dan keluar dari ruang operasi jam 19.00 wib untuk kemudian dipindahkan lagi ke ruang rawat inap semula.

“Alhamdulillah serta puji syukur kepada Allah yang telah melancarkan operasi ini,” ucap Atok.

Selain itu pihak keluarga juga mengucapkan beribu terima kasih kepada Jamkeswatch DKI dan Bogor yang selama ini membantu kelancaran proses di rumah sakit. Tak lupa keluarga juga mengucapkan banyak terimakasih kepada jajaran DPW FSPMI DKI, buruh DKI semua yang membantu baik moril maupun materiil dari awal hingga detik ini.

“Kami sekeluarga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak di sini, semoga Allah Ta’ala ridho atas keikhlasan kalian, dan hanya Allah yang bisa membalas semuanya,” tutur Tholip bapak dari pasien Atok.

Keluarga senang Atok sudah bisa BAB seperti yang lain sekarang, karena selama ini BAB lewat perut yang di buat oleh rumah sakit sebelumnya. Sampai hari (29/12) ini Atok masih menjalani perawatan intersif di RS Gatot Subroto, Jakarta. Dalam proses penyembuhan Arok baru diperbolehkan makan bubur dan susu. (Omp/Jim).