Belajar dari Mogok Kerja Hampir 50 Ribu Buruh General Motors

Jakarta, KPonline – Ketika buruh melakukan mogok kerja, apalagi jika tuntutannya terkait upah, seringkali dianggap tak tahu diri. Sudah enak dapat kerja, masih mogok juga. Nggak bersyukur.

Tetapi bagaimana kita menjelaskan aksi mogok kerja yang dilakukan hampir 50.000 anggota Serikat Pekerja United Auto atau United Auto Workers (UAW) yang saat ini sedang melakukan mogok kerja terhadap General Motors (GM) di Amerika Serikat? Pemogokan di raksasa automotif itu bahkan sudah berlangsung selama beberapa hari.

Pemogokan dilakukan karena serikat pekerja menginginkan upah per jam yang lebih tinggi, pembayaran tunggal, dan rencana pembagian keuntungan yang lebih baik. Mereka juga ingin pihak GM setuju untuk membatasi penggunaan pekerja sementara dan memberi mereka kepastian yang lebih jelas sebagai pekerjaan permanen.

Tidak hanya itu, serikat pekerja UAW merasa masih ada perbedaan yang signifikan antara kedua pihak mengenai upah, tunjangan perawatan kesehatan, karyawan sementara, keamanan kerja, dan pembagian keuntungan.

Soal gaji, jangan ditanya lagi. Pasti lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pekerja di Indonesia. Tetapi toh mereka melakukan pemogokan juga.

Mengapa? Karena mogok kerja adalah hak paling istimewa yang dimiliki oleh pekerja. Melalui pemogokan, pekerja bisa menghentikan produksi. Tindakan ini sah dan legal. Bahkan diakui di seluruh dunia.

Dengan demikian, berhentilah mengatakan jika pemogokan adalah tindakan tidak bersyukur dan kurang kerjaan. Melalui pemogokan, klas pekerja membuktikan bahwa produksi bisa berjalan berkat tangan terampil mereka.

Slogan mereka: “Selama ini kami berdiri untuk GM. Sekarang giliran GM berdiri untuk kami.”

Melansir dari CNN Selasa (17/9 2019), mogok kerja di General Motors ini diikuti para buruh di 31 perusahaan dan 21 perusahaan lainnya yang tersebar di sembilan negara bagian.

Agar menang, pemogokan mensyaratkan solidaritas yang kuat. Terkadang melibatkan beberapa perusahaan.

Bukan mogok kerja kalau hanya dilakukan sendirian. Pemogokan harus mampu menghentikan proses produksi. Belajar dari buruh General Motors, nyatanya aksi seperti ini bisa dilakukan dengan baik. Bahkan di jantungnya kapitalis.