Subang, KPonline — Api unggun yang menyala tepat pukul 21.00 WIB di kawasan Campervan Park Sari Ater, Subang, Jawa Barat, Sabtu malam, menjadi lebih dari sekadar penutup rangkaian kegiatan Solidarity Camp Perempuan SPAMK FSPMI. Di hadapan kobaran api, diskusi berubah menjadi ruang curhat, renungan, sekaligus pengakuan tentang beratnya perjalanan perempuan pekerja dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan yang berlangsung 19–20 Agustus 2026 itu mempertemukan perempuan-perempuan SPAMK FSPMI dalam suasana penuh keakraban. Namun di balik hangatnya api unggun, tersimpan kisah-kisah yang jauh dari kata sederhana.
Di tengah arus globalisasi dan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi, perempuan masih kerap ditempatkan pada posisi untuk diam, menerima keadaan, dan sekadar mengikuti takdir. Tetapi kenyataan memaksa mereka untuk bergerak. Bukan hanya demi dirinya sendiri, melainkan juga demi kesejahteraan keluarga, rekan kerja, anggota organisasi, bahkan orang-orang di sekitarnya.
Satu per satu kisah mengalir. Ada lelah yang selama ini dipendam, ada perjuangan yang jarang terlihat, dan ada air mata yang seolah harus disembunyikan di balik ketegaran seorang perempuan pekerja.
Api unggun malam itu akhirnya menjadi saksi bahwa perjuangan perempuan tidak selalu hadir dalam suara yang keras. Kadang ia tumbuh dari kesedihan, bertahan dari tekanan, lalu berubah menjadi keberanian untuk melawan keadaan.
Ketua Umum PP SPAMK FSPMI, Khoirul Bakri, dalam kesempatan tersebut memberikan motivasi dan arahan agar perempuan-perempuan SPAMK terus bergerak dan mengambil peran dalam perubahan.
Menurutnya, perjuangan tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi harus dibarengi ilmu, pengalaman, solidaritas, dan kesadaran untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Materi-materi yang disampaikan para pemateri dan tutor berpengalaman semakin memperkuat pesan bahwa perempuan pekerja tidak boleh berhenti belajar. Pengalaman nyata para pemateri menjadi cermin bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk keluar dari keterbatasan dan terus memperjuangkan hak serta kesejahteraan.
Malam semakin larut. Api perlahan mengecil, tetapi semangat perjuangan justru diharapkan semakin menyala.
Renungan disampaikan dengan penuh kekhusyukan. Dalam suasana hening, perempuan-perempuan SPAMK FSPMI kembali melihat perjalanan mereka: tentang pengorbanan, ketidakadilan, keluarga, pekerjaan, organisasi, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Api unggun boleh padam. Namun kisah-kisah yang lahir di sekelilingnya tidak seharusnya ikut hilang.
Sebab dari perempuan yang pernah menangis karena beratnya perjuangan, bisa lahir keberanian untuk mengubah keadaan. Dan dari solidaritas yang dibangun malam itu, tumbuh satu tekad: perempuan SPAMK FSPMI harus terus bergerak, belajar, bersuara, dan berjuang untuk perubahan.