Alfitoni Pulang Kampung Menebar Gen Perlawanan

Minang, KPonline – Dunia bisnis dan industri selalu diikuti dengan munculnya masyarakat perantau dari kampung-kampung untuk mencari peruntungan hanya sebagai buruh sampai dengan berbisnis dan memiliki usaha sendiri.

Banyak kisah para perantau yang sukses menjadi pebisnis yang unggul atau mendapatkan posisi yang tinggi di tempat kerjanya. Lalu ketika ketika kembali ke kampungnya menjadi motivator untuk semua kerabatnya agar bisa sukses seperti dia.

Namun tidak pernah ada yang menyampaikan kisah dari kaum pekerja/buruh yang bisa memimpin pergerakan kaum pekerja dan pulang kembali ke kampungnya untuk mendirikan serikat pekerja di kampungnya sendiri.

Agenda Pimpinan Pusat SPEE FSPMI di Sumatra Barat untuk pelantikan Pengurus Unit Kerja (PUK) dan pendidikan dasar serikat pekerja oleh Yoni Mulyo Widodo, Muhammad Surahmat dan Deddy Chandra rupanya sampai di telinga Pengurus Konsulat Cabang (KC) FSPMI Batam. Mereka datang sebanyak 3 orang yang semuanya adalah asli putra Minang yang merantau dan memimpin pergerakan FSPMI di Batam.

3 putra Minang ini mendengarkan bagaimana kondisi pekerjaan yang dialami pekerja PLN dari vendor outourcing PT. Haleyora Powerindo setelah pelantikan PUK Dan pendidikan dasar serikat pekerja selesai.

Pekerja PLN ini ada harus bekerja 24 jam dikarenakan kurangnya personil yang ada dan terus dibebankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan tugas mereka. Kelebihan jam kerja tidak dibayar termasuk saat mereka harus bekerja pada hari libur nasional maupun hari libur lebaran.

Mendengar perlakuan yang di terima saudara-saudaranya yang juga sesama pekerja di perusahaan milik negara tersebut membuat mereka terbawa emosi. Dari raut wajah yang memerah, kening mengerenyit, mata menatap tajam dan menjawab hanya dengan satu kata, “Miris”, ketika ditanya bagaimana pendapat mereka mengetahui kondisi sebenarnya para pekerja outsourcing di PLN.

Sebelumnya mereka juga tidak mengira kalau pekerja di PLN Sumatra Barat ini berstatus outsourcing karena menurut mereka yang sekian tahun berjuang di FSPMI termasuk untuk menghapuskan outsourcing karena melanggar undang-undang ketenagakerjaan yang ada.

Alfitoni yang juga sebagai ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam berpesan “Saya berharap bisa berdiri FSPMI di Sumatra Barat yang juga kampung saya sendiri. Dan saya pulang kampung untuk memberi motivasi dan berbagi pengalaman bagi pekerja-pekerja di Sumatra Barat”.

“Karena saudara saya sesama orang Minang dan juga sesama kaum pekerja ini sangat jauh dari kata perlindungan dan kesejahteraan pekerja yang di berikan oleh perusahaan oleh pekerja”, jelas Alfitoni.

Yoni Mulyo Widodo selaku Pengurus Pimpinan Pusat SPEE FSPMI Bidang Organisasi yang asli putra Jawa Timur berharap agar semangat untuk ikut mensejahterakan kaum pekerja seperti yang dilakukan putra Minang ini menjadi motivasi putra daerah lain untuk melakukan hal yang sama untuk mensejahterakan kaum pekerja di kampung halamannya masing-masing dan melakukan yang terbaik untuk sesama pekerja dan sesama anak bangsa.

Setelah 2 hari mengikuti kegiatan SPEE FSPMI di Sumatra Barat, dengan semangat yang tinggi di akhir acara Alfitoni menyampaikan akan merekomendasikan ke Pimpinan Pusat SPEE FSPMI agar untuk Rakernas SPEE FSPMI selanjutnya tahun 2020 nanti dilaksanakan di daerah Sumatra Barat.