Ada Cinta di Bromo 

  • Whatsapp

Probolinggo,KPonline – Membaca tanda-tanda Alam di Bromo, seorang perempuan berhijab tak lepas dari mengucap puji syukur terus menerus tak ada hentinya.

Ada semacam geletar di hatinya meresapi keindahan yang jarang dia temui selama hidup.

Bacaan Lainnya

“Matahari terbit di Bromo .. hmmm”.

“Subhanallah … indah sekali”.

Begitu indah, seindah angan angan rasa cinta yang selalu dia rindukan.

Sepasang bola matanya yang jernih pun tak berkedip menyaksikan langit di ufuk Timur yang kemerahan perlahan. Kedua belah telapak tangan mungilnya yang terbungkus kaos saling menggenggam satu sama lain, mencoba menahan dingin walaupun hatinya terasa hangat.

Teringat cerita cerita tentang nasib baik yang belum tentu menghampiri penikmat sunrise, terkadang ada juga yang 3 kali mendatangi tempat ini harus kecewa karena langit diliputi awan hingga sunrise tak dapat dinikmati.

Dengan jaket tebal dan sebo membungkus hijabnya ia menikmati suasana. Adakah tanda tanda Alam ini dapat kunikmati sepanjang Sisa hidupku? … entahlah, yang jelas saat ini aku ingin menyelami sunrise ini dengan perlahan dan meresap jauh di lubuk sanubari.

Wajah cantik nya nampak kemerahan di pipi kiri kanannya, lapisan kulit halus yang hangat bertemu dengan dinginnya udara pagi din hari.

“Andainya engkau disini bersama-sama, tentu keindahan ini akan membekas abadi … hmm”.

Untuk mendapatkan moment indah ini, ada perjuangan yang harus dilalui terlebih dahulu.

Pukul 3 dini hari, bangun awal sekali dan bersiap untuk menuju puncak dari daerah penanjakan. Bersama rombongan menyewa kendaraan khusus yang disediakan penduduk, mobil jenis Jeep keluaran tahun 70-80an. Biasa kita sebut Toyota hardtop. Penduduk daerah menjadikan kendaraan ini sebagai salah satu sumber pendapatan, untuk satu unit mobil biasa terisi 5 penumpang plus supir disewakan variatif mulai dari limaratus hingga satu juta rupiah perjalanan pp penanjakan, puncak, Padang pasir Bromo lalu kembali ke penanjakan di siang harinya. Penduduk tergabung dalam komunitas 4 Wheel Drive Community, saat ini diperkirakan berjumlah lebih kurang 2000 unit kendaraan.

Puas menikmati sunrise dan berfoto, lanjut lagi perjalanan dengan hardtop menuju gurun pasir tengger. Matahari sudah tinggi jalan satu arah begitu sesak dengan ribuan kendaraan wisata, sangat dimaklumi mengapa cuma kendaraan jenis ini yang digunakan sebagai kendaraan wisata di Bromo. Selain medan Jalur yang berat dengan tingkat elevasi tanjakan rata rata diatas 30 derajat, juga Jalur begitu lengkap dengan kelokan tajam yang di kiri kanannya berdampingan tebing curam dan jurang yang dalam.

*
Tiba di Padang pasir tengger pukul 8 pagi, rombongan kembali disuguhi keindahan Alam Padang pasir yang berada layaknya di tengah tengah kaldera gunung, sepanjang mata memandang tempat ini dikitari puncak puncak gunung yang menjulang. Di bagian tengah ada dua puncak anak gunung, gunung batok dan kawah gunung aktif yang terus mengepulkan asapnya.

Jauh nun di sana, ada juga pure Hindu masyarakat Tengger. Pure tua yang konon juga menjadi tempat persembahyangan masyarakat Hindu Bali. Dikunjungi setiap hari besar agama Hindu tentu nya. Pura besar yang indah lengkap dengan ornament ornament khas Hindu yang penuh dengan your ukiran.

Seluruh objek disini sangat menarik untuk dijadikan spot spot pengabadian fotografi, beruntung nya hari ini langit cerah begitu membiru. Gadis berhijab masih mencari cari cintanya disini, hingga kembali lagi ke penanjakan belum lagi ditemui nya.

(DJ)

Pos terkait