Wanita Hebat FSPMI di Pentas Politik

Eka Hernawati, sosok perempuan tangguh di FSPMI Mojokerto

Mojokerto, KPonline – Adalah Eka Hernawati, Seorang perempuan kelahiran 1975 dan ibu dari dua anak, disela-sela kesehariannya mengurusi rumah tangganya, masih meluangkan waktunya untuk aktif dalam organisasi serikat pekerja FSPMI.

Wanita yang akrab dipanggil mbak Eka ini, di FSPMI selain menjabat sebagai ketua PC SPAI FSPMI Mojokerto, juga sebagai Wakil Ketua V PP SPAI, Bendahara KC Mojokerto, dan Wakil Sekretaris II DPW Jawa Timur. Sebuah amanah yang begitu berat yang harus diemban perempuan ini.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan hasil penjaringan, Eka ditunjuk oleh FSPMI Mojokerto untuk mencalonkan diri dalam pemilihan calon legislatif tahun 2019. Kebetulan kali ini Partai yang berkomitmen mengusungnya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Eka berada di urutan No.2 caleg PKS, yang daerah pemilihnya meliputi wilayah Mojosari, Pungging, dan Ngoro di Kabupaten Mojokerto. Sebuah keuntungan karena wilayah tersebut adalah kawasan industri, Eka yang berasal dari serikat pekerja dan di wilayah dapil yang mayoritasnya adalah pekerja.

Eka Hernawati bersama ketua KC Mojokerto Ardian Safendra di atas mobil komando dalam sebuah aksi

Di dalam visi dan misinya Eka menyampaikan, akan mengangkat aspirasi kaum pekerja dan masyarakat kecil serta mendorong lahirnya kebijakan yang pro rakyat kecil. Keadaan rakyat kecil acap kali diabaikan nasibnya dan cuma diambil suaranya hanya ketika adanya pemilu saja. Semua ini akan dilakukan untuk kesejahteraan rakyat dan pekerja, karena Eka sendiri juga berasal dari rakyat dan pekerja.

Menurut Eka, buruh tidak boleh anti politik dan harus bisa masuk ke legislatif, syukur-syukur bisa menjadi pejabat eksekutif. Kenapa sangat penting untuk buruh masuk di DPR/pemerintahan? Karena siapa lagi yang akan memikirkan nasib buruh kalau bukan perwakilan buruh yang duduk di parlemen itu sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa sekecil apapun urusan kehidupan rakyat, pasti ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Kalau buruh tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan maka buruh hanya akan menjadi sapi perah dan tidak terwujudkan apa yang menjadi aspirasinya.

” FSPMI begitu dihormati dan perhatikan karena pergerakannya, maka dari itu FSPMI harus bergerak menuju politik dan langkah awal kita adalah menduduki kursi DPR. Sangat penting perwakilan buruh untuk duduk di kursi legislatif agar bisa menentukan dan mengawal kebijakan, ” Kata Eka dengan berapi-api.

Menyebarkan motivasi, di tengah anggota yang mayoritas laki-laki

Lebih lanjut Eka mengatakan, bahwa saat ini melalui FSPMI Mojokerto, kaum buruh akan terus berusaha memperjuangkan pekerja yang terPHK masuk PBI yang ditanggung pemerintah, melakukan pengawasan terhadap implementasi Perda naker Jawa Timur di Kabupaten Mojokerto, memperjuangkan adanya transportasi umum murah untuk buruh, memperjuangkan perda tentang kewajiban pengusaha di Mojokerto untuk memperbanyak tenaga kerja lokal yang berasal dari Mojokerto sendiri, memperjuangkan guru honorer dan tenaga honorer K2 menjadi ASN dan memberlakukan upah minimum untuk kategori swasta, PAUD, madrasah, dan yayasan, serta setiap 3 bulan sekali mengundang kawan-kawan serikat pekerja FSPMI berdiskusi terkait ketenagakerjaan.

Itulah Program kerja dari EKa, tidak hanya untuk kaum pekerja/buruh tapi juga untuk masyarakat lainnya. FSPMI bukanlah organisasi yang egois yang hanya mementingkan anggotanya saja, tapi FSPMI juga memikirkan nasib semua kalangan masyarakat.

Eka adalah sesosok wanita yang hebat dalam keluarga dan organisasi FSPMI. Wanita yang tak pernah lelah memperjuangkan nasib kaum buruh dan kaum wanita.

Baik atau buruknya suatu bangsa di mulai dan ditandai dari kaum wanitanya.

Penulis : Mar’atus

Pos terkait