Upah Buruh Indonesia yang Masih Tertinggal, Ini Sebab Buruh Tolak Upah Murah?

Upah Buruh Indonesia yang Masih Tertinggal, Ini Sebab Buruh Tolak Upah Murah?

Purwakarta, KPonline-Tuntutan tolak upah murah yang terus disuarakan oleh serikat pekerja atau serikat buruh (SP/SB) seakan tak ingin berhenti ketika upah pekerja di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Perbandingan ini penting karena menunjukkan posisi daya saing kesejahteraan tenaga kerja Indonesia di kawasan Asia.

Meski Indonesia dikenal sebagai salah satu basis perekonomian terbesar di Asia Tenggara, kenyataannya tingkat upah buruh di Indonesia masih tertinggal.

1. Korea selatan; upah minimum perbulan 24 juta rupiah.

2. Jepang; upah minimum perbulan sekitar 21 juta rupiah

3. Taiwan; upah perbulan sekitar 14 juta rupiah

4. Malaysia; upah perbulan sekitar 6 juta rupiah.

5. China; upah perbulan sekitar 6-8 juta rupiah.

6. Filipina; upah perbulan sekitar 4-5 juta rupiah.

7. Indonesia; upah perbulan sekitar 2,5-5,4 juta perbulan

Dari angka tersebut diatas terlihat bahwa Indonesia masih berada di kelompok menengah bawah. Bahkan untuk kawasan Asia Tenggara, upah Indonesia di banyak provinsi masih kalah dari Malaysia dan Filipina.

Memang ada daerah industri seperti Jakarta, Bekasi, Karawang, dan sekitarnya yang memiliki upah lebih tinggi. Namun di banyak provinsi lain, gaji buruh masih berkisar Rp2,5 juta sampai Rp3 juta per bulan.

Padahal biaya hidup terus naik, terutama:

•harga beras dan bahan pokok

•kontrakan atau sewa rumah

•transportasi kerja

•listrik dan air

•pendidikan anak

•biaya kesehatan

Karena itu, Serikat pekerja atau serikat buruh menilai upah murah membuat buruh hanya mampu bertahan hidup, bukan hidup layak. Banyak pekerja menerima gaji habis hanya untuk kebutuhan pokok, tanpa ruang menabung atau meningkatkan taraf hidup.

1. Gaji Habis Sebelum Akhir Bulan
Di kawasan industri, banyak pekerja mengaku gaji habis untuk makan, kontrakan, cicilan, dan ongkos kerja.

2. Tidak Seimbang Dengan Produktivitas
Target produksi tinggi, lembur panjang, namun peningkatan kesejahteraan dinilai lambat.

3. Sulit Membiayai Keluarga
Upah minimum umumnya dihitung untuk pekerja lajang, padahal banyak buruh sudah menikah dan memiliki anak.

4. Kesenjangan Sosial Terasa Nyata
Buruh melihat perusahaan berkembang, investasi masuk, tetapi kesejahteraan pekerja tidak ikut naik signifikan.

Indonesia Negara Besar, Tapi Upah Belum Besar. Sebagai negara dengan industri manufaktur besar, sumber daya melimpah, dan pasar domestik kuat, banyak kalangan menilai Indonesia seharusnya mampu memberikan standar upah yang lebih baik.

Buruh menilai upah layak bukan ancaman bagi investasi. Investor juga mempertimbangkan:

•infrastruktur

•stabilitas negara

•kualitas tenaga kerja

•pasar besar

•kepastian hukum

Artinya, bukan semata-mata soal murahnya tenaga kerja.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara-negara Asia, upah buruh Indonesia masih relatif rendah, terutama bila disandingkan dengan biaya hidup yang terus naik. Karena itu serikat pekerja atau serikat buruh terus menyuarakan penolakan terhadap upah murah hingga saat ini.

Bagi kaum buruh, bekerja penuh waktu seharusnya memberi kesempatan hidup layak, bukan sekadar cukup untuk bertahan sampai gajian berikutnya. Selama persoalan itu belum terjawab, maka tuntutan naikkan upah dan tolak upah murah akan terus menggema.