Tolak Gaji 8 Juta, Lulusan UI Ini Lebih Militan Ketimbang Aktivis Buruh

Jakarta, KPonline – Media sosial dihebohkan dengan sebuah Instastory dari seseorang melalui akun Twitter bernama @askmenfess. Pembuatnya mengaku fresh graduate (lulusan baru) dari Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga menceritakan kalau baru aja menolak sebuah pekerjaan karena dirinya merasa nggak pantas digaji dengan uang 8 juta rupiah. Nama besar Universitas Indonesia itulah yang bikin dia merasa nggak pantas digaji dengan nominal segitu.

Khusus terkait dengan pernyataan bahwa ia tidak layak digaji 8 juta, saya mendukung seratus persen. Buruh mestinya dibayar dengan sangat layak. Sebab mereka lah yang selama ini menjadi tulang punggung pembangunan.

Bacaan Lainnya

Sebuah kota dibangun oleh buruh (dan justru elit korup yang menghancurkannya). Hal yang wajar jika buruh mendapatkan yang sepadan.

Hanya saja, alasan bahwa ia tidak layak digaji 8 juta karena semata-mata lulusan Universitas Indonesia memang kurang pas. Tak peduli kalian lulusan mana, bahkan pernah sekolah atau tidak, tetap saja berhak mendapatkan upah yang layak. Berapa upah yang layak? Mengacu pada pembuat instanstory tersebut, besarnya di atas 8 juta.

Berbicara terkait dengan upah layak, selama ini kita mendengar aktivis serikat buruh biasanya yang paling vokal. Tetapi untuk kali ini para aktivis buruh harus melakukan taubat massal. Lihat saja, setiap tahun permintaan mereka tidak jauh-jauh dari 3 juta. Bahkan ada yang berkolaborasi menggoalkan upah padat karya yang nilainya di bawah upah minimum.

Bahkan ada yang dengan alasan “daripada tidak naik sama sekali”, ada yang menyetujui kenaikan upah rendah. Bandingkan dengan lulusan UI yang menolak gaji 8 juta itu. Sekali lagi, DITOLAK. Bukan sekedar dipertimbangkan. Amboy, militan sekali…

Saya membayangkan, penolakan gaji 8 juta ini tidak hanya ramai di media sosial. Tetapi menjadi gerakan yang aktual di lapangan. Orang-orang berduyun-duyun turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan.

Apakah tuntutan upah di atas 8 juta itu wajar? Tentu saja sangat wajar. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta pernah merilis bahwa upah layak jurnalis pemula di Ibukota minimal adalah 8,42 juta. Jadi apa yang kita takutkan dengan menyampaikan apa yang kita inginkan?

Singkirkan kenaikan PP 78/2015 yang membatasi kenaikan upah hanya berdasar pada pertumbuhan ekonomi dan inflansi. Mari bersiap untuk memperjuangkan upah real yang berbasih pada kebutuhan hidup.

Pos terkait