Tokoh Buruh NTB Ini Lakukan “Perjalanan Ke Barat” untuk Serap Ilmu Tentang Pergerakan

  • Whatsapp

KPonline-Surabaya, 28 Feb 2021,Ketua Dewan Pimpinan Wilayah FSPMI Nusa Tenggara Barat, Fauzan adalah seorang sosok pejuang buruh yang berkeinginan kuat untuk bisa mengembangkan dan memaksimalkan peran Serikat Pekerja di wilayahnya.

Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah yang upah buruhnya masih dikisaran 2,18 juta , perjuangan jaminan sosial oleh kaum buruh disana juga belum mengalami perubahan yang baik,kondisi ini mendorong Fauzan untuk terus belajar tentang bagaimana upaya mengorganisir kaum buruh,salah satu jalan keluarnya adalah belajar secara langsung kepada tokoh tokoh perburuhan yang sudah lebih dulu mengawali perjuangan.

Maka dirinya tidak menyia nyiakan ketika ada momentum Kongres FSPMI dan Munas Serikat Pekerja Anggota yang dilaksanakan pada 22-23 Februari 2021 di Purwakarta Jawa Barat.

Dengan segala keterbatasan yang ada,dirinya pun bertekat untuk dapat menghadiri undangan kongres Musyawarah Nasional FSPMI ke-6 tersebut. Selain mengikuti agenda dirinya berkeinginan besar agar bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang kultur perjuangan FSPMI di daerah lain .

“Saya datang dari Sumbawa ke Purwakarta, karena ingin menghadiri Kongres Munas ke-6 FSPMI, saya ingin mempelajari cara-cara pengorganisasian, pengkaderan, advokasi dari daerah lain, seperti Jababeka, Surabaya dan lain-lain yang saya nilai memiliki basis yang besar, sudah sangat matang dan profesional” ucap Fauzan.

Fauzan melanjutkan “Saya semakin bangga, semakin kuat imun saya untuk berjuang dan mengembangkan organisasi FSPMI di wilayah Nusa Tenggara Barat, dengan berdiskusi mengenai permasalahan yang ada di daerah dan mempelajari cara kawan-kawan melakukan perjuangan dalam mendapatkan haknya, membuat saya mendapatkan pengalaman baru, sehingga apa yang kawan-kawan lakukan dapat saya jadikan refferensi dalam perjuangan di sana (NTB).

Pengembangan FSPMI di Nusa Tenggara Barat dinilainya belum maksimal, oleh sebab itu, diperlukan perencanaan progres jangka panjang dalam pengembangan organisasi di wilayah itu. Memang dalam prosesnya tidak lepas dari suatu masalah, seperti kultur masyarakat yang berbeda, kondisi perekonomian suatu daerah dan problema lain dalam pelaksanaannya, seperti yang disampaikan oleh Fauzan, “Tantangan terbesar di sana (NTB) adalah banyaknya perusahaan yang belum terinventarisir dan terorganisasi dengan baik, sehingga ada kesulitan tersendiri dalam menjalankan progres yang ada, memang industri disana tidak banyak yang bergerak di bidang manufaktur, terbanyak disana adalah transportasi angkut dermaga, transportasi angkut BBM,Perhotelan dan Pariwisata, sehingga perlu perencanaan yang baik, membuat progres bagaimana cara mengembangkan organisasi di NTB.” ucapnya.

Selepas acara munas di Purwakarta, Fauzan melanjutkan perjalanannya untuk berkunjung ke Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Jakarta dan setelahnya melakukan kunjungan ke Kota Surabaya. Melalui perjalanan darat menggunakan kereta api dari Jakarta ke Surabaya dinilainya menyenangkan, karena dengan menggunakan perjalanan darat dapat mengunjungi tokoh tokoh buruh daerah untuk mempelajari kultur budaya dan perjuangan yang telah dan akan dilakukan.

Dirinya pun berdiskusi dengan tokoh tokoh seperti Presiden FSPMI Riden Hatam Aziz,Obon Tabroni,Tokoh buruh Aceh – Habibie Inseun ,Kahar S Cahyono,Perangkat DPP FSPMI ,Perangkat DPW FSPMI Jakarta,Doni Ariyanto (Surabaya) dan yang lain.

Fauzan mengatakan “Kenapa saya suka perjalan melalui darat, ya, dikarenakan bisa mengunjungi daerah-daerah yang telah memiliki basis FSPMI dan mempelajari kultur perjuangan yang dilakukan oleh masing-masing daerah, dan saya menilai mereka memiliki strategi yang sangat luar biasa”

Setelah kunjungan terakhirnya di Kota Surabaya, dirinya memiliki kesan yang luar biasa, dengan pengetahuan dan pengalaman yang dilalui, membuatnya merasa memiliki tambahan energi perjuangan , pengetahuan strategi perjuangan, survive dalam pergerakan perjuangan yang akan dilakukan.

Sebelum kembali ke NTB melalu jalur laut, dirinya juga menyampaikan harapannya “saya berharap setelah apa yang sudah dilalui ini, FSPMI, saya dan seluruh pengurus di seluruh NTB mampu berkontribusi dalam mengembangkan organisasi yang dapat memperjuangkan hak pekerja di wilayah Nusa Tenggara Barat yang saya nilai selama ini belum ada yang mengorganisir secara baik dan maksimal” tutupnya.

(Agus Widodo)