Jakarta, KPonline – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026. Angka ini dirilis dalam laporan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia yang diumumkan Senin, 5 Mei 2026.
Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026 berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 berada di 4,91 persen dari total angkatan kerja sebanyak 147,38 juta orang. Meski secara persentase TPT turun 0,11 poin dibanding Februari 2025, jumlah pengangguran secara absolut masih tinggi.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS menjelaskan, mayoritas pengangguran berasal dari lulusan SMK dan SMA yang mendominasi pasar kerja usia muda.
Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja masih pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Namun BPS mencatat adanya pergeseran ke sektor informal. Pekerja informal tercatat 59,2 persen dari total 140,14 juta orang yang bekerja.
Ekonom ketenagakerjaan menyebut angka 7,24 juta pengangguran ini menjadi alarm bagi pemerintah dan dunia usaha. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus berkualitas dan padat karya agar mampu menekan pengangguran, terutama di kalangan Gen Z yang baru lulus.
Kalau hanya tumbuh 5 persen tapi serapannya rendah, pengangguran tetap numpuk. Perlu investasi di sektor manufaktur, hilirisasi, dan ekonomi digital yang bisa kasih kerja layak.
BPS juga mencatat pengangguran tertinggi berada di perkotaan dan didominasi kelompok umur 15-24 tahun. Hal ini menunjukkan masih adanya ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri.
Pemerintah menyatakan akan memperkuat program pelatihan vokasi, kartu prakerja, dan insentif bagi industri padat karya untuk menekan angka pengangguran dalam sisa tahun 2026. (Yanto)