Tak Tahan Limbah Susu, Warga Blokade Pintu Masuk PT Ultrajaya

  • Whatsapp

Bandung, Barat – Warga Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali melakukan aksi protes dengan menutup akses jalan masuk pabrik tempat pengolahan susu berskala Nasional, PT Ultrajaya Tbk, Jl Gadobangkong, Senin (21/8/2017).

Anak-anak SD dengan berseragam ikut bersama warga melakukan aksi protes didepan PT Ultrajaya yang dinilai menjadi biang pencemaran limbah susu ke sejumlah RW dan bahkan mencemari dua SD yakni SD Bunisari dan Langensari.

Warga berharap pihak manajemen mau menemui mereka, namun hingga dua jam menggelar aksi, PT. Ultra menutup rapat dua pintu gerbang yang dimilikinya. Akibatnya, kemarahan wargapun tak dapat dihindari lagi. Sehingga wargapun tidak memperkenankan mobil pengangkut susu masuk kedalam pabrik.

“Kami ingin perjanjian tertulis dari manajemen terkait pembenahan sistem limbah, selama ini cuma lisan saja,”ujar salah seorang warga.

Ditempat yang sama, salah seorang guru SD Bunisari, M Satori dalam orasinya mengatakan, sudah bertahun-tahun limbah susu Ultra mencemari sungai yang berada di samping SD Bunisari.

“Siswa setiap hari belajar dengan menghirup bau busuk dari limbah susu PT. Ultra,”ungkapnya.

Di dua SD tersebut terdapat 768 siswa yang aktif belajar setiap hari. Meski sudah mengadu ke manajemen PT. Ultra, perbaikan limbah tak kunjung dilakukan.

“Sering kami ngomong baik bersama aparat kewilayahan dan manajemen Ultra, tapi juga belum ada perbaikan,”katanya.

Aksi ini merupakan kali kedua digelar warga, pekan lalu wargapun protes karena limbah susu dari pabrik sekitar lingkungannya tersebut mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. Kondisi itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini tidak pernah ada perbaikan yang dilakukan pihak perusahaan.

Koordinator aksi yang juga ketua RW 15 Sulaeman Mubarock meminta perusahaan untuk mendengarkan tuntutan warga. Yakni jangan ada lagi bau limbah yang menyengat yang mengganggu, membersihkan lingkungan di sekitar lokasi pabrik, termasuk memberikan prioritas kerja bagi warga lokal.

“Perusahaan jangan hanya memberikan janji karena selama ini mereka selalu ingkar. Buktinya bau busuk limbah ini tidak pernah tuntas padahal sudah terjadi puluhan tahun,” tuturnya.

Penulis: Dede Rahmat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *