Suatu malam di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp

Bogor, KPonline – Senang rasanya melihat dan memperhatikan mereka yang sedang lalu lalang mengendarai kendaraan roda dua dan empat. Mengenakan pakaian Muslim dan Muslimah sambil menyanding sajadah atau mengepit lipatan mukena didepan dada. Berjalan sambil bercengkerama dengan anak-anak mereka yang juga turut mengikuti langkah mereka beranjak dari mushalla dekat rumah.

“Permisi Pak Samsul” lamunanku buyar ketika mereka melewati pangkalan ojek dimana aku dan tetangga-tetanggaku yang juga sesama pengemudi ojek pangkalan biasa mangkal. “Eh iya Pak..Bu..” jawabku dengan agak tersentak. “Pulang taraweh ? tanyaku sedikit berbasa-basi. “Iya Pak Samsul. Mari Bapak-bapak.” sapa Pak Ridwan kepada seluruh orang-orang yang ada dipangkalan ojek ini.

Bacaan Lainnya

Orangnya baik, hampir tidak pernah kudengar keributan walau sekecil apapun selama berumah tangga dengan Bu Halimah. Wanita paruh baya yang sudah melahirkan 2 orang putri dan seorang putra, buah hati antara Pak Ridwan dan Bu Halimah. Sungguh indah perjalanan rumah tangga mereka, tak ada isak tangis, yang ada hanya tawa riang dan senyum bahagia.

Itu yang kulihat.


“Apa-apaan kamu ini ? Setiap hari minta uang melulu ! Buat apa sih ? Memang kurang uang belanja yang aku kasih tiap bulan ? 5 juta perbulan selalu aku kasih ke kamu. Apa masih kurang ? Belanja ini belanja itu, hal-hal nggak penting sering kamu beli !” bentak Pak Ridwan kepada Bu Halimah. Wanita berparas cantik ini memang senang berbelanja secara online. Apa saja yang ia suka, pasti dibelinya. Apa saja.

“Assalammualaikum, Bapak pulang” secercah senyum tersembul dari sudut pipi Aisyah yang sedari tadi sedang membaca ayat-ayat suci Al Quran dipinggir dapur yang kurang terawat. Maklum saja, kehidupan Pak Samsul sangat jauh berbeda dengan taraf hidup Pak Ridwan dan Bu Halimah.

“Waalaikumsaalam” jawab Aisyah yang masih mengenakan mukena lusuh sejak sepulang sholat tarawih tadi. “Bapak sudah beli buku kisah-kisah Nabi yang Aisyah pengen ?” mimik wajah Aisyah memancarkan penuh dengan tanda tanya. “Alhamdulillah Nak, tadi Bapak dapet penumpang yang baik, dikasih lebihan agak lumayan. Nih buku yang kamu pengen, sama satu lagi, apa hayo ? seraya bercanda, Pak Samsul menyembunyikan sesuatu dibalik badannya.

“Assalammualaikum” terdengar suara Bu Fatimah dari belakang Pak Samsul. “Waalaikumsaalam” Pak Samsul dan Aisyah menjawab salam sambil menengok ke arah suara. “Ibu, kok tumben sudah pulang, dagangannya emang sudah habis ? tanya Pak Samsul kepada istrinya yang sedang menurunkan keranjang dan tampah yang ada diatas kepalanya. ” Alhamdulillah Pak, sudah habis. Gimana Aisyah, sudah sampe juz berapa malam ini ? tanya Bu Halimah kepada anak semata wayangnya.

Lalu terjadilah percakapan yang hangat antara ketiganya. Mereka berbincang tentang segala sesuatu yang mereka kerjakan hari ini. Pun begitu dengan Aisyah, gadis kecil yang masih berusia 10 tahun itu pun tak ketinggalan membacakan hafalan surat An Nisaa yang sempat molor beberapa hari yang lalu.

Kehangatan layaknya sebuah keluarga pun terjalin dengan apa adanya. Bu Halimah pun berkisah, ketika ada seseorang yang memborong dagangannya. Tak mau kalah, Pak Samsul pun menceritakan pengalamannya dengan penumpang.

“Bu, maaf yaa. Malam ini Bapak cuma membawa sisa uang narik ojek tinggal segini” sambil menyodorkan uang 16 ribu rupiah kepada istrinya. Bu Halimah, sang istri, membalas dengan senyuman. “Nggak apa-apa Pak. Berarti rezeqi kita dari Allah cuma segini hari ini. Besok insya Allah, ada lebih buat kita tabung. Buat kita naik haji yaa Pak” senyum ikhlas yang tersungging dari bibir Bu Halimah menyejukkan hati dan perasaan Pak Samsul malam ini.

Aisyah pun sibuk membaca kisah-kisah para Nabi yang sudah didambakannya sejak awal Ramadhan ini.

Sahabat, ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang orang lain. Bisa saja terlihat mewah dan wah, atau bahkan mungkin terlihat senang dan bahagia. Akan tetapi, kebahagiaan tidak hanya diukur dari materi dan duniawi semata. Ada sesuatu hal yang tidak dapat kita beli ataupun bisa kita dapatkan dengan memaksakan diri. Hal tersebut adalah kebahagiaan.

(Rinto)

Pos terkait