Sepasang Kekasih Di Barisan Depan

Bogor, KPonline – Suasana kawasan industri terbesar di Asia Tenggara itu terasa mulai memanas. Ribuan aparat kepolisian sudah berjaga-jaga disetiap pintu masuk dan keluar kawasan industri. Mereka memblokade setiap akses vital, yang ditengarai akan mengganggu ketertiban umum. Mobil pengurai massa, water canon, perisai, tongkat pemukul, bahkan pelontar gas air mata pun telah mereka persiapkan.

 

Diseberang ujung jalan, telah menunggu ribuan buruh dengan berbagai atribut dan bendera serikat masing-masing. Tanpa senjata apapun, mereka berseberangan keyakinan dengan ribuan aparat yang ada diujung jalan sana. Dengan kebulatan tekad yang membaja, dengan sebuah keinginan yang sama, kesejahteraan bersama.

 

“Kamu jangan kemana-mana ya. Kamu disini aja!” setengah menghardik Robert menatap wajah Dwanti. “Nggak mau. Pokoknya aku ikut ke depan!” tak kalah galak, Dwanti berkacak pinggang menolak didikte oleh kekasihnya, Robert. Lelaki muda yang berusia menjelang 30-an itu seakan-akan ingin memarahi, gadis cantik yang sudah 5 tahun ini menjadi kekasihnya sekaligus ibu dari anak-anaknya. Tapi kasih sayang dan ketulusan cinta Robert kepada Dwanti mengalahkan segalanya.

“Eh..eh.. Ada apa ini? Kalo mau berantem bukan disini tempatnya. Kalo urusan cinta, selingkuh atau cemburu, disana tuh, dibawah pohon randu diujung jalan. Jangan disini!” gertak Supri, pria berwajah garang dengan rambut agak gondrong, yang diikat karet diujung kepalanya. Mirip dengan gaya anak sekolahan Japanese Old School.

 

“Emm.. Nggak ada apa-apa Komandan” jawab Robert singkat saja kepada komandan satuan tugas pengamanan aksi buruh tersebut. Dwanti hanya menunduk, selain malu, dia pun sebenarnya takut bercampur rasa malas jika bertemu dengan Supri. Tiba-tiba, “Wanti, mana slayer kamu? Kok nggak dipake? Udah bosen jadi anggota Garda Metal? bentak Supri. “Ada Bang, didalam tas” seraya membuka tas ransel yang sedari tadi ada di punggungnya.

 

Malas dan “ogah-ogahan” Dwanti mengenakan slayer berwarna merah dan mengikatkannya ke kepalanya. Robert tertawa kecil, sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan, karena merasa dirinya menang. “Eh..eh.. Jangan ketawa aja lu Bet. Sono kedepan. Masa korlap dibelakang” sambil melotot ke arah Robert, Supri menaikan celananya yang agak melorot. “Lah itu, abang aja nggak pake celana PDL. Nggak adil ah” Dwanti merasa jengkel dengan perlakuan Supri dan Robert. Emosi jiwa melanda Dwanti, maklum saja, hawa panas diatas aspal jalanan kawasan industri memang luar biasa. Mampu menaikan emosi dalam sesaat, bahkan jikalau Kutub Utara dipindah ke kawasan industri ini, mungkin dalam hitungan jam akan habis meleleh.

 

“Bikin border. Jangan sampe aparat mendorong kita mundur. Kalo takut pindah kebelakang” tegas Supri kepada ratusan anggota Garda Metal yang dengan sigap langsung membentuk border, rantai manusia yang seakan-akan sudah siap mati. Robert menoleh kekiri dan kekanan, menyapukan pandangannya keseluruh orang-orang yang ada disekitarnya. Mencari-cari dimana istrinya tercinta berada. Khawatir jika terjadi apa-apa dengan dirinya. Ratusan orang dengan seragam yang sama berkerumun dan menempelkan bahu dan saling melingkarkan lengan, satu dengan yang lainnya. Tapi, Dwanti tetap tak nampak dalam pelukan mata Robert.

100 meter jaraknya dari barisan border yang paling depan, puluhan motor jenis trail sudah dinyalakan pihak aparat. Asap mengepul dari lubang knalpot, suaranya meraung-raung laksana ingin menghantam siapapun dan apapun yang menghalanginya. Pasukan anti huru hara dengan perisai dan tongkat pemukul sudah dipasangkan ke badan mereka masing-masing. Helm dan pelindung kaki sudah dibalutkan. Mata mereka beringas, tak sabar ingin diayunkan ke arah buruh-buruh nekat tersebut. Dan dipinggir jalan, nampak Dwanti dan Narsih sedang bercengkerama. Seakan-akan sedang mencari sesuatu, atau seseorang.

 

Tiba-tiba terdengar suara dari arah kumpulan aparat. “Mohon perhatian kepada kawan-kawan buruh. Sebentar lagi waktunya jam pulang kantor. Karyawan-karyawan pabrik akan pulang. Keberadaan kawan-kawan buruh disini, bisa mengganggu lalu lintas kendaraan, hilir mudik transportasi kawasan industri dan bahkan menggangu ketertiban umum. Silahkan membubarkan diri, atau kami yang akan membubarkan” suara yang berasal dari pelantang suara tersebut, terdengar menyakitkan bagi sebagian kawan-kawan buruh . Pasalnya, mereka sudah melaporkan kepada pihak yang berwenang, akan melakukan aksi didepan pintu masuk kawasan industri. “Kenapa sekarang kami diusir, Pak?” tanya salah seorang buruh kepada pimpinan aparat yang ada disana.

 

Terdengar suara bel-bel pabrik mulai berbunyi, jam kerja berakhir, dan buruh-buruh itu mulai keluar dari pabrik-pabrik tempat bekerja. Mereka bukan menuju ke arah rumah, bukan pula ke arah warteg atau rumah makan nasi Padang. Buruh-buruh yang jumlah ribuan itu menuju ke arah kawan-kawan mereka yang sedang berhadap-hadapan dengan pihak aparat. Mereka melebur menjadi satu, bergabung dengan buruh-buruh dari pabrik yang lain. Pihak aparat tak menyangka hal ini akan terjadi, karena kemacetan mulai memperparah situasi dan kondisi di jalanan. Narsih menarik tangan Dwanti, seraya menunjuk ke satu arah dengan jari telunjuknya. “Itu tuh si Robert” sambil memicingkan kedua matanya, Dwanti memperhatikan arah yang ditunjukkan Narsih.

 

Para pimpinan buruh yang memimpin aksi tersebut mencoba berdialog dengan pihak aparat. Mereka mencoba bernegosiasi dengan berbagai pihak dan ternyata hasilnya tidak seperti yang diinginkan kedua belah pihak. “Kalau kamu tidak mau membubarkan anggota kamu disana. Kamu yang saya tangkap!” ujar salah seorang petinggi pihak aparat dengan 2 buah bunga melati dari bahan kuningan, sambil menunjuk wajah Edi dan Supri dengan antena Handy Talkie yang sedang dipegangnya. “Kalau begitu, Bapak harus menangkap saya. Karena saya tidak akan membubarkan mereka, sebelum tuntutan mereka dipenuhi” tegas Edi dengan nada dan intonasi tinggi.

 

Dan benar saja, 6 orang berseragam lengkap, serta merta meringkus lalu menangkap Edi dan Supri. Kejadian tersebut langsung memicu amarah buruh-buruh yang terus bertambah dan terus berdatangan. Mereka berlari ke arah barisan pihak aparat, sambil mengambil apapun yang bisa diambil. Batu, botol kemasan air mineral, kayu, batang pohon, bahkan hingga kerucut pembatas jalan. Pihak aparat panik dibuatnya, dan meletuslah pelontar gas air mata yang pertama. Dan jatuh tepat di depan Dwanti dan Narsih yang sedang berdiri. Keduanya terbatuk-batuk hebat, hingga mereka mengeluarkan air mata. Mata mereka rasanya perih, seperti disiram air laut. Tak mampu untuk membuka kelopak mata. Dwanti dan Narsih jatuh tersungkur ke tanah. (bersambung)