Rumah Rakyat Indonesia Siapkan Tiga Alternatif

  • Whatsapp
Peringatan Hari Buruh Internasional di Gelora Bung Karno ( Foto : Obon Tabroni )

Jakarta, KPonline – Beberapa kawan secara rutin menanyakan kepada saya, bagaimana perkembangan Rumah Rakyat Indonesia? Mereka, terutama adalah kawan-kawan yang ikut melakukan deklarasi di tingkat provinsi pada tanggal 1 Mei 2016 yang lalu.

Tentu saja. Saya gembira menerima pertanyaan itu. Seperti menerima tanda cinta. Bukti bahwa mereka peduli.

Bacaan Lainnya

Memang, belum banyak yang dilakukan Rumah Rakyat Indonesia pasca deklarasi itu. Namun demikian, kesungguhan untuk membangun alat politik alternatif itu tidak perlu diragukan. Meskipun aktivisnya harus berbagi waktu dengan pekerjaan di komunitasnya masing-masing, berbagai pertemuan sudah digelar.

Rabu (8/6/2016), untuk yang kesekian kalinya Rumah Rakyat Indonesia menggelar rapat. Kali ini membahas beberapa hal terkait tugas yang diamanatkan kepada Deputi satu yang membidangi pembentukan struktur partai. Deputi ini dipimpin Rustan dan Budi Wardoyo.

Dua hari sebelumnya, beturut-turut, Tim Sebelas (Tim 11) juga sudah bekerja menyusun AD/ART Rumah Rakyat Indonesia. Muhamad Rusdi, yang juga Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dipercaya sebagai ketua Tim 11, dengan beban yang tak bisa dibilang enteng. Dinamakan Tim 11, karena jumlah tim ini terdiri dari 11 orang. Minggu depan, targetnya, ormas Rumah Rakyat Indonesia sudah terdaftar secara resmi.

Menyikapi dinamika politik yang cukup cepat, diskusi berkembang. Terutama ketika Pemerintah mengumumkan pendaftaran partai baru paling lambat adalah tanggal 29 Juli 2016. Sedangkan, sebagian besar menghendaki alat politik alternatif ini sudah ikut dalam pemilu 2019.

Untuk itu, ada tiga alternatif yang sedang dipersiapkan. Pertama, sebuah partai yang benar-benar baru harus dilahirkan dan didaftarkan sebelum tenggat 29 Juli 2016. Kedua, mengakuisisi partai yang sudah ada, dengan catatan akan merombak secara total sesuai dengan nilai-nilai yang tengah diperjuangkan Rumah Rakyat Indonesia. Ketiga, menjadikan Rumah Rakyat Indonesia sebagai blok politik.

Namun demikian, beberapa orang mengingatkan agar pendirian partai politik tidak dilakukan terburu-buru. Ada nilai-nilai yang harus diijaga. Cita-cita menjadi alternatif tidak boleh luntur hanya karena pragmatisme: sekedar ikut pemilu.

Saat ini Rumah Rakyat Indonesia tengah mempersiapkan alternatif yang pertama. Sementara alternatif kedua dan ketiga baru akan diputuskan akhir bulan Juli, manakalan opsi pertama tidak terpenuhi. Memang, ini pilihan yang tidak mudah. Dan tentu saja beresiko. Meskipun, dengan pemetaan yang sudah dilakukan, optimisme itu ada.

Saya sendiri berpendapat, sebagai sebuah gagasan yang terbuka, harus ada ruang diskusi yang dibuka lebar untuk cita-cita ini. Terlebih lagi, ini adalah gagasan bersama. Bukan hanya dominasi satu dua orang saja. Dalam rapat di Rabu itu  juga mengagendakan untuk mengundang perwakilan provinsi untuk ikut urun rembug.

Kita akan selalu menjaga nyala api cita-cita ini agar tetap menyala. (*)

 

 

Pos terkait