Riyana: Sebelum Meninggal, Devi Selviani Renovasi Bagian Belakang Rumah Yang Hampir Roboh

  • Whatsapp

Pasuruan, KPonline – Matanya masih belum bercahaya. Redup. Terlihat, ada beban berat yang menggelayut di pundaknya.

Sesekali ujung kerudungnya digunakan untuk menutup sebagian wajahnya saat bercerita tentang apa yang baru saja terjadi. Dia berusaha keras menahan air matanya untuk tidak jatuh. Sebuah kejadian yang teramat tragis sedang dijalani. Cobaan yang teramat berat. Dia, perempuan itu, adalah seorang ibu yang baru saja ditinggal pergi buah hatinya untuk selamanya. Dia adalah ibu dari almarhumah Devi Selviani, seorang anggota Garda Metal yang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas pada Sabtu (17/12/2016) lalu.

Bacaan Lainnya

Panggil saja dia, Ibu Riyana.

Ada banyak cerita yang disampaikan kepada tiga orang perwakilan Garda Metal Sidoarjo yang pada saat ini datang ke rumah duka untuk takziah. Kepada mereka bertiga, Agus Sujarwo, Fadillah, dan Reza), Riyana bercerita tentang keseharian almarhumah sebelum meninggal.

Sebagai putri paling besar, Devi ikut menanggung kebutuhan keluarganya. Dia menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan sebelum meninggal dirinya bersikeras untuk melakukan pinjaman kepada Bank sebesar Rp 20 Juta untuk merenovasi bagian belakang rumah yang yang dia khawatirkan akan roboh.

“Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada ibu dan adik-adiknya,” kata Riyana.

Ketika itu, aku melihat ketiga  orang yang bertakziah ini menunduk. Bahkan dari mata salah seorang sempat meneteskan air mata. Aku memahami itu. Setegar-tegarnya Garda Metal, pasti akan luruh bila mendengar cerita ini langsung dari ibu almarhumah.

Almarhumah ternyata seorang pejuang yang sangat lurus hatinya. Meski seorang perempuan, namun dia hampir tidak pernah absen setiap ada aksi maupun saat ada solidaritas. Sikap ini tentunya sangat ditentang sang ibu. Apalagi saat para tetangga mulai berbicara yang tidak semestinya saat melihat dirinya dijemput kawan-kawan Garda Metal ke rumah untuk pergi aksi.

Omongan tetangga ini sempat membuat resah Riyana. Terlebih karena almarhumah adalah seorang yatim. Ayahnya telah berpulang saat Devi masih kelas I SMK. Aku paham kekhawatiran Riyana, yang sangat menyanggi putrinya.

Ternyata selama ini keluarga tidak tahu apa yang dilakukan putrinya. Tidak pernah dia bercerita tentang perjuangan yang dia lakukan.

Wes talah buk ora usah nggatekno omongane tonggo. Sing penting aku iso njogo diri. Aku iki berjuang. Nek tak jelasno sampean malah bingung,” kata Riyana, mengulang kembali apa yang pernah dikatakan putrinya.

Kalimat itu, kurang lebih artinya seperti ini. Sudahlah, bu. Tidak perlu mendengarkan omongan tetangga, yang penting saya bisa menjaga diri. Saat ini saya sedang berjuang. Bila saya jelaskan ibu nanti malah bingung.

Devi Selviani, ketika mengikuti Latsar Angkatan VI Jawa Timur
Devi Selviani, ketika mengikuti Latsar Angkatan VI Jawa Timur

Almarhumah adalah seorang pejuang buruh yang berada di lingkungan yang masih belum faham akan kondisi politik dan perburuhan saat ini. Maka tak heran bila setiap perjuangan yang dilakukan oleh almarhumah mendapat cibiran bagi mereka yang belum paham.

Jarwo, yang dari tadi larut mendengar cerita ibu almarhum mulai mengangkat wajahnya. Disekanya air mata yang keluar meskipun sekuat tenaga dia menahannya. Sedikit demi sedikit dia mulai angkat bicara, diceritakannya apa yang selama ini almarhum lakukan.

Mulai dari awal, dimana dulu satu angkatan latihan dasar Garda Metal VI Jawa Timur, banyaknya kegiatan yang dilakukan almarhum bukanlah hura-hura. Bukan untuk bersenang-senang. Tidak seperti lainya yang hanya tahu pergi ke mall untuk berhaha-hihi, dan lainnya.  Almarhum selama ini berjuang melawan penindasan yang dialami kaum buruh.

Jika di jemput oleh lelaki bergantian, yang mungkin penampilannya seperti preman karena berpakaian hitam-hitam, semata-mata mereka adalah kawan-kawannya di  Garda Metal. Kawan-kawannya ini ingin menjaga almarhum biar selamat di tujuan aksi. Penampilan yang mungkin sedikit urakan itu, khas Garda Metal, yang biasa melindungi buruh yang ikut aksi agar tidak terprovokasi sehingga apa yang disuarakan “tidak dibelokkan” oleh oknum tak bertanggung jawab.

Perjuangan almarhumah dirasakan oleh kaum buruh.

Ketika dijelaskan akan hal ini, sang ibu berkata pelan. “Kalo gitu enak yang tidak ikut berjuang. Hanya tinggal di rumah tapi merasakan hasilnya. Sedang anakku bila ada surutan (PHK) pasti akan dipanggil duluan. Mereka yang tidak ikut kepanasan dan kehujanan malah aman-aman saja.”

“Ibu, putri ibu adalah perempuan pilihan. Mari kita bayangkan bila seluruh buruh tidak ada yang mau berjuang. Tinggal menunggu nasib maka apa yang di dapat? Hanya penindasan yang didapat. Upah juga sedikit karena tidak ada yang mau memperjuangkan kenaikannya. Mari kita bayangkan bagaimana bila ada wanita hamil yang diPHK seenaknya tanpa pesangon lalu tidak ada yang membela? Disitulah putri ibu meletakkan seluruh tenaga dan fikirannya. Semua ini sulit untuk di sampaikan kepada keluarga maupun tetangga, karena mereka akan meremehkan terlebih dahulu tindakan almarhumah dengan bilang,” Jarwo menjelaskan dengan panjang lebar.

“Kedatangan kami kesini selain untuk bersilaturahmi dan menyampaikan dana sosial dari kawan kawan Garda Metal Sidoarjo, juga saya bersama kawan-kawan lain ingin menjadi saksi bahwa putri ibu adalah seorang pejuang buruh yang jasanya sudah bisa dirasakan buruh lain. Semoga Allah melapangkan kesabaran keluarga dan saudara, karena putri ibu sudah punya jasa besar bagi kaum buruh.”

Kulihat Riyana mengucap kata, ammin, sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian senyumnya terlihat. Apa yang baru saja di sampaikan kawan Garda Metal tadi semakin membuka pemahaman pada siapa dan apa yang dilakukan putri tercintanya. Ada kebanggaan pada putrinya, yang meski telah tiada, tetapi dikenang karena kebaikannya.

“Terima kasih, Nak. Saya bangga padamu. Sudah tidak ada lagi kegalauan tentang berita yang tidak benar tentang putrinya. Lewat kawan-kawan Garda Metalmu ini saya jadi merasakan kesedihanmu saat melihat orang lain tertindas.” Kami hanya bisa terdiam. Tak bisa bicara satu sama lain. Ibu Riyana seolah berbicara langsung dengan almarhumah Devi, sahabat kita yang sudah pergi….

Tak lama kemudian, kami pun undur diri. (*)

Pos terkait