Revolusi Industri 4.0 Layu Sebelum Berkembang

Revolusi Industri 4.0 Layu Sebelum Berkembang

Oleh:  Bhima Yudhistira Adhinegara *

Charles Schwab yang mempopulerkan kosa kata Revolusi Industri 4.0 menjelaskan bahwa perubahan di sektor industri digambarkan sebagai loncatan industri dari era mesin uap (1.0), era teknologi listrik (2.0), era industri berbasis elektronik dan IT (3.0) ke era otomatisasi robotik (4.0). Jadi Revolusi Industri 4.0 menunjukkan adanya kegairahan baru dalam meningkatkan produktivitas industri manufaktur berbasis teknologi mutakhir.

Tidak mau kalah dengan wacana internasional, Presiden Jokowi dan Beberapa Menteri pun dalam acara Indonesia Industrial Summit 2018 mengemukakan optimisme bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan jutaan tenaga kerja alih-alih akan terjadi pengangguran massal. Sebelumnya McKinsey, sebuah lembaga konsultan manajemen meramalkan pada tahun 2030 akan ada 800 juta pekerjaan yang hilang diseluruh dunia. Tidak terkecuali Indonesia yang mengalami bonus demografi dengan angkatan usia produktif terbesar kena imbas otomatisasi industri ini.

Ancaman serupa juga dikemukan oleh laporan The Economist tahun 2016. Dalam Catalogue of Fear, The Economist memprediksi ada 20 jenis pekerjaan yang akan digantikan oleh robot. Mulai dari profesi akuntan, auditor, masinis kereta hingga ekonom pun akan musnah. Dimasa depan teknologi semacam Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan gantikan otak manusia untuk mengambil keputusan bisnis strategis. Kerja mesin dipabrik digantikan oleh Cyber-Physical System. Analisis saham pun akan gunakan Robo Adviser, uji laboratorium penemuan obat diganti Virtual Reality (VR) dan berbagai teknologi mutakhir lainnya.

Sayangnya ditengah kecanggihan teknologi tersebut kondisi industri di Indonesia masih jauh dari serbuan Revolusi Industri 4.0 itu. Buktinya sepanjang tahun 2017 penyerapan tenaga kerja cenderung melambat, tapi bukan karena tergantikan oleh robot. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di tahun 2017 mengungkapkan bahwa penyerapan tenaga kerja sepanjang 2017 tercatat sebanyak 1,17 juta orang. Angka ini turun sebesar 216 ribu orang atau -15,5% dibanding penyerapan tenaga kerja tahun 2016 yang jumlahnya 1,39 juta orang.

Kendati realisasi investasi tumbuh 13,1% sepanjang 2017 tapi investasi yang masuk lebih banyak masuk ke sektor jasa dibanding sektor manufaktur. Hal ini bisa terlihat dari porsi investasi PMDN ke sektor jasa yang naik signifikan dari 37,8% di 2016 menjadi 45,6% di 2017. Sementara investasi PMA di sektor jasa porsinya bahkan meloncat dari 26,8% ke 40,3% dari total investasi. Porsi investasi di sektor industri pengolahan atau manufaktur baik PMA maupun PMDN terus merosot dari 54,8% ke 39,7%.

Kalau investor yang masuk lebih tertarik ke sektor jasa daripada ke industri manufaktur maka penyerapan tenaga kerjanya pasti turun. Ini sinyal bagi Pemerintah bahwa 16 paket kebijakan sebagai insentif bagi investor yang masuk ke sektor industri tidak berjalan efektif. Di sisi yang lain data BPS juga menunjukkan bahwa share industri manufaktur terhadap PDB terus turun menjadi 20,1% tahun 2017. Angka ini merosot tajam dibanding tahun 2001, saat itu masih 29%. Fenomena yang dikenal dengan deindustrialisasi prematur ini menjadi tantangan yang nyata dibandingkan ancaman serbuan robot.

*Artikel ini berdasarkan artikel yang pernah dimuat di Harian Ekonomi Neraca 23 April 2018 dengan judul artikel yang sama

*) Bhima Yudhistira Adhinegara – Peneliti INDEF

Facebook Comments

Comments are closed.