Subulussalam, KPonline-Rangkaian konsolidasi Serikat Pekerja Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Provinsi Aceh memasuki hari kedua dengan agenda konsolidasi bersama pekerja dan serikat pekerja FSPMI di Kota Subulussalam. Kegiatan tersebut berlangsung pada (8/8) di Pendopo Wali Kota Subulussalam, dan di mulai pukul 14.10 WIB hingga selesai.
Selain diikuti oleh berbagai unsur serikat pekerja dari sektor perkebunan, kelistrikan, jasa, serta perwakilan pekerja kurir. Konsolidasi tersebut dihadiri langsung oleh Presiden FSPMI Suparno, bersama jajaran Pengurus DPP FSPMI, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Perkebunan dan Kehutanan (SPPK) FSPMI Nani Kusmaeni, bersama jajaran Pengurus PP SPPK.
Kedatangan rombongan disambut oleh Ketua DPW FSPMI Aceh Habibi Inseun, bersama jajaran pengurusnya. Hadir pula PC SPPK, PC SPEE, PC SPPJM, serta sejumlah Pimpinan Unit Kerja (PUK), diantaranya; PUK SPPK PT Delima Makmur, PUK SPPK PT Laot Bangko, PUK SPPK PT Bangun Sempurna Lestari, dan PUK SPPK PT Samudera Sawit Nabati. Konsolidasi juga dihadiri perwakilan pekerja SPX.
Dalam pidato konsolidasinya, Presiden FSPMI, Suparno menekankan pentingnya penguatan organisasi dan keberanian seluruh PUK untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi pekerja di lapangan.
Menurutnya, setiap persoalan yang terjadi di tingkat perusahaan harus disampaikan kepada struktur organisasi agar dapat dihimpun, dipetakan, dan dievaluasi sebagai bahan perjuangan bersama, termasuk untuk dibawa ke tingkat nasional.
“Sampaikan kepada kami setiap persoalan dan keluhan yang dialami pekerja. Jangan dipendam sendiri. Kami akan menghimpun dan memetakan persoalan tersebut sehingga nantinya dapat kita evaluasi dan mencari solusi bersama, termasuk memperjuangkannya di tingkat nasional,” tegas Suparno.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari konsolidasi, karena persoalan pekerja di masing-masing perusahaan memiliki karakter yang berbeda. Dengan adanya laporan dan data dari tingkat PUK, FSPMI dapat melihat persoalan secara lebih utuh serta menentukan langkah perjuangan yang lebih tepat.
Momentum konsolidasi semakin penting dengan hadirnya Wali Kota Subulussalam, H. M. Rasyid Bancin, di tengah kegiatan. Kehadiran Wali Kota kemudian membuka ruang dialog langsung dengan Presiden FSPMI dan para pekerja.
Dalam dialog tersebut, Presiden FSPMI meminta perhatian Pemerintah Kota Subulussalam terhadap berbagai persoalan yang dihadapi buruh, khususnya pekerja sektor perkebunan, serta mendorong pemerintah daerah agar lebih aktif dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan buruh.
Suparno juga menyampaikan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memastikan kebijakan dan pelayanan pemerintah dapat memberikan manfaat bagi pekerja dan masyarakat secara luas.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Subulussalam H. M. Rasyid Bancin menyampaikan komitmennya untuk membantu dan memperjuangkan kesejahteraan buruh di wilayah Subulussalam.
Wali Kota juga mengajak para pengurus serikat pekerja untuk bersama-sama mengawal berbagai program dan kinerja dinas-dinas yang berada di lingkungan Pemerintah Kota Subulussalam. Menurutnya, komunikasi dan pengawalan bersama antara pemerintah dan serikat pekerja diperlukan agar berbagai harapan pekerja dapat diwujudkan.
Konsolidasi tersebut juga menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kekuatan organisasi, solidaritas antar-PUK, serta komunikasi yang berkesinambungan antara pekerja, serikat pekerja, pemerintah daerah, hingga struktur FSPMI di tingkat nasional.
Kehadiran berbagai PUK sektor perkebunan di Subulussalam menjadi momentum untuk memperkuat persatuan pekerja sekaligus menginventarisasi berbagai persoalan ketenagakerjaan yang terjadi di masing-masing perusahaan.
Presiden FSPMI menyampaikan bahwa setelah seluruh rangkaian roadshow dan konsolidasi di Aceh selesai, berbagai persoalan yang ditemukan akan dipetakan dan dievaluasi untuk menentukan langkah serta solusi perjuangan.
Konsolidasi di Subulussalam merupakan hari kedua rangkaian roadshow dan konsolidasi FSPMI di Aceh. Sebelumnya, pada 7 Agustus 2026, Presiden FSPMI bersama jajaran DPP FSPMI dan unsur serikat pekerja telah melaksanakan konsolidasi di Kota Perlak, Kabupaten Aceh Timur, bersama PUK sektor perkebunan dan sektor kelistrikan.
Dua agenda tersebut menjadi bagian dari upaya FSPMI memperkuat konsolidasi organisasi di Aceh, mendengar langsung persoalan pekerja di lapangan, serta membangun kesatuan perjuangan dari tingkat PUK, PC, DPW hingga nasional.
Konsolidasi bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi ruang untuk mendengar, memetakan persoalan, membangun solidaritas, dan menentukan langkah perjuangan bersama demi kesejahteraan pekerja.



