Pilkades Boleh Berbeda Pilihan, Tetapi Jangan Sampai Kehilangan Saudara

Pilkades Boleh Berbeda Pilihan, Tetapi Jangan Sampai Kehilangan Saudara

Bekasi, KPonline – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Kabupaten Bekasi Tahun 2026 akan digelar di 154 desa untuk masa bakti 2026–2034. Pilkades adalah pesta demokrasi. Berbeda pilihan adalah sesuatu yang wajar. Ada yang memilih calon A, ada yang mendukung calon B, bahkan mungkin ada yang tidak memilih keduanya. Semua memiliki hak dan alasan masing-masing.

Tetapi ada satu hal yang jangan sampai kita korbankan: persaudaraan. Jangan sampai karena berbeda pilihan dalam Pilkades, tetangga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan tiba-tiba menjadi seperti orang asing. Saling sindir, saling menjauh, bahkan memutus silaturahmi hanya karena perbedaan dukungan politik.

Mari kita berpikir lebih jauh. Ketika kita sakit, siapa yang pertama kali mengetuk pintu dan bertanya keadaan kita? Ketika kita membutuhkan pertolongan mendadak, siapa yang paling dekat? Ketika kita meninggal dunia, siapa yang mengurus, mengantar, dan mendoakan kita?

Bukan pilihan kita di bilik suara yang datang membantu. Bukan calon kades yang setiap hari berada di depan rumah kita. Dan bukan pula jabatan kepala desa yang akan menjadi saudara kita ketika menghadapi kesulitan.

Sering kali, justru tetangga kanan dan kiri kitalah yang berada paling dekat. Karena itu, jangan tukarkan persaudaraan bertahun-tahun dengan perbedaan pilihan yang hanya berlangsung dalam satu pesta demokrasi.

Siapa pun yang terpilih, kehidupan tetap berjalan. Kita tetap satu kampung, satu lingkungan, saling membutuhkan dan saling bergantung. Hari ini mungkin berbeda pilihan, tetapi besok kita bisa kembali duduk bersama, bekerja bakti, menghadiri hajatan, menjenguk orang sakit, atau membantu tetangga yang terkena musibah.

Jangan karena Pilkades kita mendapatkan kepala desa, tetapi kehilangan saudara.

“Kepala desa hanya memiliki masa jabatan. Kekuasaan juga ada batasnya. Tetapi hubungan baik dengan tetangga seharusnya dijaga sepanjang hidup”

Maka setelah pencoblosan nanti selesai, mari kita kembali menjadi warga biasa. Lepaskan fanatisme, hentikan permusuhan, dan jangan membawa pertarungan politik ke dalam hubungan bertetangga.

Berbeda pilihan bukan berarti berbeda saudara. Berbeda calon bukan berarti berbeda keluarga. Pilkades seharusnya memilih pemimpin, bukan memilih siapa yang harus menjadi musuh.

Mari kita jaga lingkungan tetap rukun. Karena ketika suatu hari kita membutuhkan pertolongan, orang yang paling dekat bukanlah jabatan, melainkan saudara dan tetangga di sekitar kita.

Menang jangan jumawa, kalah jangan kecewa. Pilkades boleh selesai, tetapi persaudaraan harus tetap sampai kapan pun. (Yanto)