Pertamax Naik, Rakyat Beralih ke Pertalite. Kuota Tak Cukup, Lalu Rakyat Harus Bilang Apa?

Pertamax Naik, Rakyat Beralih ke Pertalite. Kuota Tak Cukup, Lalu Rakyat Harus Bilang Apa?

Medan,KPonline, – Harga Pertamax sudah naik, reaksi sebagian rakyat pengguna Pertamax sangat sederhana, mencari cara agar dapur tetap mengepul dan roda kehidupan tetap berputar, beralih ke Pertalite.

Sebagian rakyat yang sebelumnya membeli Pertamax bukan karena bergelimang kemewahan, melainkan karena mampu menjangkaunya demi menghindari antrian panjang di SPBU.

‘Ketika Pertamax terus merangkak naik, tentu pilihan paling logis adalah turun kelas ke Pertalite.”

Dengan beralihnya jutaan rakyat ke Pertalite, pasti pemerintah berbicara soal kuota yang tidak mencukupi. Di sinilah ironi itu menjadi begitu telanjang. Rakyat didorong oleh keadaan untuk mencari bahan bakar yang lebih murah, tetapi ketika mereka melakukannya, mereka dianggap sebagai beban bagi sistem kuota.

Lalu rakyat harus bilang apa?

Haruskah rakyat meminta maaf karena penghasilannya tidak naik secepat harga BBM? Haruskah rakyat merasa bersalah karena memilih bertahan hidup? Atau mungkin rakyat diminta tetap membeli Pertamax demi menjaga statistik konsumsi, meski dompet mereka sudah megap-megap?

Persoalan ini bukan sekadar soal bahan bakar, tetapi tentang gambaran bagaimana kebijakan sering kali dibuat dengan asumsi bahwa rakyat memiliki ruang ekonomi yang luas untuk beradaptasi. Padahal bagi sebagian besar masyarakat, kenaikan harga bukanlah angka di atas kertas.Kenaikan harga berhubungan langsung kepada ongkos sekolah anak, biaya berobat orang tua, harga sembako, dan cicilan yang harus dibayar tepat waktu.

Saat Pertamax naik, rakyat turun ke Pertalite, saat Pertalite dibatasi karena kuota tidak cukup, rakyat kembali didesak untuk menerima keadaan. Seolah-olah beban penyesuaian selalu harus dipikul oleh mereka yang berada di lapisan paling bawah.

Yang lebih menyakitkan, setiap kali rakyat mengeluh, mereka sering dianggap tidak memahami kompleksitas ekonomi. Padahal rakyat sangat paham satu hal yang paling nyata: “uang di kantong mereka semakin sedikit, sementara kebutuhan hidup semakin mahal.”

Negeri ini tidak boleh terus-menerus meminta rakyat beradaptasi tanpa batas. Sebab kemampuan beradaptasi ada ujungnya. Kesabaran ada batasnya. Dan ketika harga kebutuhan pokok terus naik sementara pendapatan jalan di tempat, yang tersisa bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan.

Jika Pertamax naik dan Pertalite tak lagi cukup menampung pelarian rakyat, maka pertanyaan besarnya bukanlah mengapa rakyat beralih.

Pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah: “sampai kapan rakyat dipaksa memilih antara kebutuhan hidup dan kebijakan yang tidak pernah benar-benar berpihak kepada mereka?”

Rakyat yang beralih dari Pertamax ke Pertalite sebenarnya tidak sedang mencari BBM murah untuk menjadi kaya. Mereka hanya ingin bertahan hidup dengan sedikit martabat yang masih tersisa. Dan itu, seharusnya tidak pernah dianggap sebagai sebuah kesalahan.

“Cerdas Itu Penting”
“Salah Memilih Hasilnya Penderitaan” (AB)