Pembakaran Bunga Dalam Aksi Mayday, Ini Sebabnya

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Api dari karangan bunga yang dibakar massa buruh dalam aksi Mayday berkobar di depan kawasan Balai Kota. Kejadian itu sekitar pukul 12.45 WIB. Diduga, karangan bunga tersebut dibayar oleh massa dari Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik dan Mekanika Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) DKI Jakarta.

Mengapa pembakaran bunga sampai terjadi?

Buruh kesal karena karangan bunga tersebut telah mengotori pemandangan kota.

Apalagi, warna karangan bunga sudah pudar. Bunga pun telah layu dan beberapa tulisan-tulisannya telah copot. Karangan bunga yang isinya ucapan terima kasih itu tampak dikumpulkan dan kemudian di bakar oleh buruh. Asap hitam membumbung tinggi bahkan hingga terlihat di kawasan Patung Kuda, Jakarta.

Awalnya seorang koordinator lapangan dari‎ FSP LEM PSI‎ mengaku resah adanya pemandangan tidak menarik di depan kawasan Balai Kota. Lewat pengeras suara dia pun meminta rekan-rekannya dari buruh mengumpulkan karangan bunga dan membakarnya.

“Balai Kota ini sudah dikotori dengan karangan bunga yang tidak penting, maka harus dibersihkan,” teriak orator.

Koordinator dengan pengeras suara itu juga mengeluh karena tidak ada petugas yang ‎membersihkan sampah-sampah karangan bunga itu. Mereka seakan tidak peduli terhadap karangan bunga yang sudah berubah bentuk menjadi tidak indah itu.

“Mana petugas kebersihan, ini kenapa tidak dibersihkan,” katanya.

“Intinya LEM ini kecewa dengan kepemimpinan Ahok karena tidak sesuai janjinya dulu waktu dia terpilih sebagai wakil gubernur. Waktu dia (Ahok) terpilih, itu dia janji mau naikin UMP (Upah Minimum Provinsi) kita 4 juta. Sampai sekarang UMP baru 3,3,” ujar Danil (35), salah satu anggota LEM SPSI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, sebagaimana dikutip tirto.id pada Senin (1/5/2017).

Danil mengatakan, UMP mereka masih di bawah UMP di daerah penyangga. “Di situlah kekecewaan kita. Bahkan UMSP (Upah Minimum Sektoral Provinsi) baru deal mau May Day ini setelah kita ancam-ancam,” kata Danil.

Selain kecewa, motif mereka membakar karangan bunga lantaran kesal setiap kali buruh beraksi saat menginjak rumput atau mengotori Jakarta selalu diberitakan negatif, tetapi karangan bunga untuk Ahok malah diberitakan yang baik-baiknya saja.

“Pelampiasan kita bersihkan. Bunga-bunga ini tidak mencerminkan kebaikan,” kata Danil.

Pengurus DPD LEM SPSI DKI Jakarta, Muhammad Toha, dengan lebih jelas mengutarakan kekesalan itu. “Balaikota masih takut sama Ahok kali, ya. Jadi tidak dibersih-bersihin, jadi kita bantu bersihin,” kata Toha.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Dadan Muldan, salah satu Koordinator Aksi dari SP LEM SPSI. Pria yang juga Ketua LEM Jakarta Utara ini mengaku aksi tersebut sebagai aksi spontanitas.

“Memang itu spontanitas di mana kita ingin menumpahkan rasa kekesalan selalu gubernur itu menyampaikan bahwa setiap kita aksi merusak tanaman, (padahal) kita cuma nginjek rumput,” kata Dadan saat berbincang dengan Tirto di lokasi yang sama.

Mereka menganggap karangan bunga tersebut mengotori Balai Kota. “Oleh karena itu kita spontanitas ya kita sampaikan kepada Pemda DKI Jakarta ini permasalahan ada apa? Kan semestinya kantor Balai Kota itu harus bersih dari segala macam hal,” kata Dadan.