Medan,KPonline, – “Buruh adalah tulang punggung bangsa,” ucap mereka dari balik podium berpendingin udara, menggenggam mikrofon mahal, sembari melempar senyum penuh perhitungan politik.
Tetapi mari jujur melihat pada fakta yang ada: “pujian untuk buruh adalah komoditas musiman”
Kata-kata manis tentang “pahlawan pembangunan” dan “penggerak roda ekonomi” selalu mendadak diobral saat menjelang kontestasi politik lima tahunan.
Ketika kotak suara butuh diisi, buruh disanjung setinggi langit. Seragam kusam buruh yang biasa dipandang sebelah mata mendadak jadi latar belakang foto paling laku untuk mencitrakan kerakyatan.
1.ROMANTISASI KEMISKINAN.
Strategi penjinakan paling kejam,berupa
Pujian yang dilemparkan kepada buruh hampir selalu berbentuk “romantisasi penderitaan”
Buruh yang bekerja 12 jam sehari dipuji sebagai sosok “tahan banting”.
Buruh yang mengorbankan kesehatan demi lembur dipuji sebagai “pekerja keras sejati”.
Buruh yang menerima upah tak layak tanpa protes dipuji sebagai “rakyat yang legawa”.
Ini bukan apresiasi; ini adalah”anestesi sosial” Narasi ini sengaja diciptakan agar buruh bangga pada penderitaannya, sehingga tidak sempat mempertanyakan mengapa penderitaan itu harus ada sejak awal.
2.MUSIM KAMPANYE VS REALITA KEBIJAKAN
Perhatikan pergeseran bahasa yang terjadi dalam siklus politik:
“Saat Butuh Suara (Musim Kampanye) dan Saat kebijakan diketok (Musim Berkuasa)”
Bahasa saat musim kampanye.:
“Buruh adalah elemen terpenting dalam ekonomi”
“Hak-hak buruh wajib dilindungi”
“Kesejahteraan buruh adalah prioritas utama”
Bahasa saat kebijakan diketok (Musim Berkuasa)
“Tuntutan kenaikan upah dapat mengganggu iklim investasi.”
“Fleksibilitas tenaga kerja demi efisiensi pasar global.”
“Biaya tenaga kerja terlalu tinggi dibanding negara tetangga.”
Begitu bilik suara ditutup dan kursi kekuasaan diduduki, “suara buruh langsung berubah status dari “aspirasi rakyat” menjadi “ancaman stabilitas perekonomian.”
3.DARI PAHLAWAN MENJADI BEBAN
Ketika buruh menuntut hak paling mendasar,upah layak yang cukup untuk makan, jaminan kesehatan, dan jaminan hidup dimasa tua,stigma langsung ditempelkan.
Buruh yang berdemonstrasi mendadak dituding “tidak bersyukur,” “pemalas,” atau “alat provokasi.”
Bagaimana mungkin kelompok yang kemarin dipuji sebagai tulang punggung negara, hari ini dicap sebagai beban pembangunan hanya karena meminta hak untuk bertahan hidup?
Pola ini jelas: Buruh dicintai selama mereka diam dan bekerja. Begitu mereka bersuara dan menuntut, pujian berubah menjadi represi.
Sudah saatnya buruh berpikir dengan cerdas menggunakan akal sehat.
Menolak jadi barisan komoditas, sebab semua bahasa pujian tanpa jaminan kesejahteraan adalah pembohongan publik.
Sanjungan tanpa kepastian perlindungan hukum adalah penipuan yang dikemas rapi.
Buruh tidak butuh gelar “pahlawan” jika gelar itu hanya dipakai untuk menjustifikasi keringat yang diperas tanpa imbalan setimpal.
Buruh tidak butuh pelukan hangat di panggung kampanye jika tangan yang sama yang memeluk itu kemudian menandatangani regulasi yang memangkas hak-hak buruh.
Suara buruh bukan sekadar angka di kertas suara,suara buruh adalah penentu apakah roda negara ini berputar untuk kesejahteraan bersama atau sekadar melayani segelintir pemilik modal.