Medan,KPonline, – Di negeri ini, yang paling sering diubah bukan kenyataan, melainkan istilah atau sebutan agar terlihat keren dan bermartabat, padahal semuanya hanya topeng kepalsuan.
Pada masa Orde Baru, kata “buruh” perlahan disingkirkan dan diganti menjadi “karyawan”. Seolah-olah pergantian nama mampu menghapus ketimpangan yang telah lama mengakar.
Penggantian istilah itu bukan sekadar persoalan bahasa. Di baliknya terdapat kepentingan politik untuk meredam gerakan buruh. Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, ruang gerak organisasi buruh dibatasi dan suara buruh dikendalikan, yang coba membangkang akan dikriminilisasi bahkan bisa lenyap tanpa jejak.
Tetapi mengganti istilah,atau sebutan ternyata tidak pernah mampu mengubah kenyataan.
Yang dibutuhkan buruh bukanlah istilah yang terdengar lebih indah, melainkan upah yang layak, perlindungan hukum, keadilan, dan perlakuan yang memanusiakan manusia.
Pada hakikatnya, buruh dan karyawan adalah pekerja,sama-sama menjual tenaga, waktu, keterampilan, dan pikirannya demi memperoleh penghasilan.
Tetapi kata “buruh” memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar sebutan. Buruh adalah identitas kolektif yang melahirkan solidaritas. Ketika buruh bersatu, lahirlah kekuatan sosial yang mampu memperjuangkan hak-haknya dan memengaruhi arah kebijakan sebuah negara, bahkan yang lebih ekstrim kekuatan buruh mampu menumbangkan sebuah rezim.
Karena itu, berkembang pandangan rezim ordebaru, bahwa identitas kolektif tersebut perlu dipudarkan agar solidaritas melemah dan para buruh lebih mudah dipisahkan daripada dipersatukan, yang kemudian sebutan buruh diubah menjadi”KARYAWAN”
Mirisnya tindakan rezim ordebaru ini tidak hanya mengubah sebutan, tetapi ditindak lanjuti dengan doktrin sosial kepada semua masyarakat dengan membangun simbol status yang lebih tinggi kepada karyawan, dan buruh sebagai kelas masyarakat terendah, hingga akhirnya semua banyak kaum pekerja merasa malu disebut buruh.
Padahal, siapa pun yang bekerja di sebuah perusahaan, apa pun jabatan, pangkat, atau gelarnya, selama ia bukan pengusaha dan bukan pengurus perusahaan (Direksi) pada hakikatnya tetap berstatus sebagai buruh.
Perbedaan jabatan hanya menunjukkan pembagian tugas, tanggung jawab, dan tingkat kewenangan, bukan mengubah kedudukannya sebagai orang yang bekerja dengan menerima upah dari pemberi kerja.
Cobalah bayangkan.
Ketika pabrik berhenti beroperasi, mesin-mesin membisu, kebun tidak lagi menghasilkan panen, dan proyek pembangunan terhenti, barulah semua orang menyadari siapa yang selama ini menjadi penopang utama roda produksi adalah buruh dibagian produksi yang selalu dipandang rendah
Fakta lain juga mudah ditemukan.
Masih banyak pekerja kantoran yang merasa lebih terhormat menyebut dirinya karyawan, bahkan enggan disebut buruh, karena menganggap buruh identik dengan pekerjaan kasar.
Mari melihat kenyataan yang paling sederhana.
Ketika pekerja administrasi atau mereka yang bekerja di ruang ber-AC yang tidak mau disebut buruh, menghentikan pekerjaannya, proses produksi di banyak perusahaan masih dapat berjalan untuk sementara. Namun ketika seluruh buruh di bagian produksi berhenti bekerja, operasional perusahaan akan lumpuh, produksi terhenti, dan kerugian besar tidak dapat dihindari.
Lihat pula apa yang terjadi hari ini.
Banyak buruh dengan jabatan Account Officer (AO) dan marketing kredit dari perusahaan perbankan berlomba-lomba mendatangi perusahaan perkebunan untuk menawarkan berbagai fasilitas kredit kepada para buruh.
Mengapa mereka datangi?
Karena buruh yang selama ini sering dipandang sebelah mata justru menjadi pasar yang menjanjikan.
Keringat mereka dihitung sebagai potensi keuntungan. Penghasilannya dianggap cukup layak untuk membayar cicilan.
Bagaimana bila Buruh Kompak Menolak Kredit, Siapa Sebenarnya yang Membutuhkan Siapa?
Selama ini buruh sering diposisikan seolah-olah hanya pihak yang membutuhkan bank. Padahal, kenyataannya hubungan itu saling membutuhkan.
Coba bayangkan jika jutaan buruh secara serentak berkata, “Tidak. Kami tidak mengambil kredit.” Bukan hanya kredit kendaraan, kredit tanpa agunan, kartu kredit, atau pinjaman konsumtif lainnya semuanya ditolak.
Apa yang terjadi?
Mesin penyaluran kredit akan melambat. Pertumbuhan laba dari sektor pembiayaan bisa tertekan. Target pemasaran menjadi sulit tercapai. Bank harus bekerja lebih keras mencari debitur baru untuk menggantikan jutaan buruh yang memilih tidak berutang.
Keputusan kolektif jutaan buruh yang menolak kredit jangan dianggap sepele, sebab dalam dunia bisnis, hilangnya pasar dalam jumlah besar adalah risiko yang tidak pernah dianggap remeh.
Ironisnya, buruh sering dipandang hanya sebagai objek pemasaran: dikejar saat hendak ditawari kredit, tetapi suaranya kerap diabaikan ketika memperjuangkan upah yang layak.
Pelajarannya sederhana: buruh bukan sekadar tenaga kerja, buruh adalah kekuatan ekonomi. Mereka menghasilkan barang, menggerakkan konsumsi, membayar pajak, dan menjadi salah satu pasar terbesar bagi banyak sektor usaha, termasuk perbankan.
Jadi, sebelum meremehkan buruh, ingatlah satu hal:” ekonomi tidak hanya berdiri di atas modal, tetapi juga di atas jutaan orang yang bekerja setiap hari. Tanpa mereka, roda ekonomi tidak akan berputar sebagaimana mestinya.
Mengganti istilah “buruh” menjadi “karyawan” tidak pernah menghapus ketimpangan upah, ketidakpastian kerja, lemahnya perlindungan hukum, maupun perlakuan yang tidak adil.
Karena mengubah label jauh lebih mudah daripada mengubah kenyataan.
Sudah saatnya masyarakat berhenti memandang kata “buruh” sebagai sebutan yang rendah.
Sebab dari tangan-tangan buruh berdiri gedung-gedung megah, terbentang jalan dan jembatan, berputar mesin-mesin industri, mengalir listrik, tumbuh perkebunan, dan bergerak roda perekonomian bangsa.
Pada akhirnya, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apakah ia disebut buruh atau karyawan.
Martabat seseorang ditentukan oleh sejauh mana hak-haknya dihormati, keadilannya ditegakkan, dan kemanusiaannya dimuliakan.
Karena nama bisa diubah. Gelar bisa dipoles. Tetapi tanpa buruh, roda produksi akan berhenti, dan tanpa produksi, tidak ada perusahaan yang dapat bertahan.