Mojokerto, KPonline – Militansi bukan sekadar kata, melainkan senjata pusaka Garda Metal. Jika seorang anggota kehilangan militansinya, ia tak ubahnya raga tanpa nyawa. Militansi adalah api yang harus terus dikobarkan, dirawat, dan diasah agar tetap tajam saat panggilan tugas tiba.
Pesan kuat ini ditegaskan oleh Sekretaris Nasional (Seknas) Garda Metal, Isnaini Marzuki (I’M), dalam agenda Konsolidasi Garda Metal Sidoarjo yang digelar di Villa Ciptaning Ati, Pacet, Mojokerto, Minggu (26/04/2026).
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan taktis, Isnaeni Marzuki menggugah kesadaran setiap anggota tentang esensi “Pemimpin dan Kepemimpinan”. Ia memperingatkan bahwa kehancuran sebuah kelompok seringkali bermula dari rapuhnya kepemimpinan.
Menurut Isnaeni Marzuki, seorang pemimpin Garda Metal harus memahami tiga filosofi dasar:
1. Pemimpin adalah Kemuliaan: Kepemimpinan bukan tentang fasilitas, melainkan pengorbanan. Pemimpin yang mulia adalah mereka yang dengan penuh kesadaran mewakafkan waktu, energi, dan pikirannya untuk bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan anggotanya.
2. Pemimpin adalah Kesakralan: Jabatan adalah sumpah di hadapan Tuhan. Pengkhianatan terhadap amanah bukan hanya pelanggaran organisasi, melainkan dosa besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.
3. Pemimpin adalah Penawar, Bukan Racun: Setiap keputusan pemimpin berdampak fatal. Pemimpin yang ceroboh dan egois adalah “racun” yang mematikan kelompoknya. Setiap kebijakan harus lahir dari pertimbangan mendalam demi kemaslahatan bersama.
Setiap anggota Garda Metal adalah calon pemimpin yang harus siap menerima tongkat estafet perjuangan. I’M menekankan bahwa persatuan berada di atas jabatan. Sangat ironis jika ada pemimpin yang justru memicu perpecahan demi ambisi pribadi.
“Jangan sombong. Jika hari ini kita disegani, itu bukan karena kehebatan individu kita, melainkan karena kebesaran nama FSPMI yang dikenal militan dan kompak. Tanpa organisasi, kita bukan siapa-siapa.”
Militansi harus dirawat dengan kesabaran, kesetiaan pada sumpah, dan kepatuhan penuh terhadap instruksi aksi serta solidaritas. Anggota Garda Metal yang enggan bergerak saat instruksi turun, sejatinya telah “mati” secara ideologi dan mental.
4. Mandat Perjuangan Garda Metal.
Untuk menjaga api perlawanan tetap menyala, I’M memberikan empat instruksi strategis bagi seluruh anggota:
•Haramkan Sikap “Gampang Memaafkan”: Jangan lemah di hadapan penguasa maupun pengusaha. Harmonisasi hubungan industrial boleh saja, tapi kepatuhan buta adalah pantangan. Tetaplah kritis dan waspada!
•Waspadai Stockholm Syndrome: Jangan sampai kita jatuh cinta atau merasa kasihan kepada pihak yang menindas kita. Jangan biarkan empati mengaburkan garis batas perjuangan.
•Hancurkan Zona Nyaman: Rasa nyaman adalah musuh terbesar militansi. Begitu Anda merasa nyaman, di situlah daya kritis dan semangat juang Anda mulai tumpul.
•Pahami Frog Syndrome (Sindrom Katak Rebus): Sadarilah perubahan situasi sekecil apa pun. Jangan sampai kita terlena dalam penindasan yang perlahan-lahan hingga akhirnya kita mati lemas tanpa sempat melawan.
Sebagai penutup yang menggetarkan, I’M mengajak seluruh anggota Garda Metal untuk tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara karakter dengan memegang prinsip: Beriman, Beradab, Berilmu, dan Beramaliyah.
Fokus pada tugas, tegak lurus pada instruksi, dan jangan goyah oleh provokasi luar. Garda Metal: Resolusi!