Menghidupkan Kenangan

  • Whatsapp
Kahar S. Cahyono

Jakarta, KPonline – Foto ini diambil hampir tengah malam, beberapa bulan lalu. Di restoran sebuah hotel di Mojokerto, Jawa Timur.

Kursi-kursi sudah ditumpuk di atas meja. Pertanda tempat ini sudah tutup. Tetapi malam itu kami butuh asupan kafein. Beruntung, penjaganya bersedia membuatkan secangkir kopi untuk kami.

Kami duduk bertiga. Yups, terlihat dari kaca, sahabat saya, bung Ardian yang “penguasa wilayah” mengambil foto itu.

Namun demikian, saya tidak mendapatkan foto ini dari bung Ardian. Sahabat saya yang lain, bung Ipank, mengirimkan foto ini ke saya.

Begitulah. Apa yang sampai ke kita seringkali datang tak diduga-duga.

Saya tidak sedang membicarakan apa yang kami lakukan di Mojokerto.

Belajar dari bagaimana sayang mendapatkan foto ini, saya hanya ingin mengatakan, betapa penting sebuah gerakan meninggalkan jejak.

Kalau saja tidak ada foto ini, saya nyaris tidak bisa lagi mengingat bagaimana suasana tempat ngopi jelang dini hari itu. Lengkap dengan baju apa yang saya kenakan, juga warna-warni bunga yang mempercantik dinding ruangan.

Kalau saja tidak ada dokumentasi, entah itu tulisan, foto, atau video; apakah kita bisa tahu serikat pernah melakukan apa dalam sepuluh tahu yang lalu? Dua puluh tahun yang lalu? Bagaimana tiga puluh tahun lalu?

Mungkin gambaran besarnya kita masih bisa mengingatnya. Tetapi hal-hal detail, mustahil bisa kita hidupkan kembali andaikan tidak dibantu dengan dokumentasi.

Mendokumentasikan kegiatan memang terkesan sepele. Ada yang menyebutnya narsis.

Memang, untuk saat itu, dokumentasi yang kita buat tidak memiliki arti. Tetapi seiring berlalunya waktu, percayalah, hanya dokumentasi yang bisa menghidupkan kenangan. Sebab waktu tak akan mungkin berjalan ke belakang.

Jika ini kita lakukan sekarang, setidaknya generasi yang akan lahir esok hari bisa mereka ulang apa saja yang pernah kita kerjakan. Dari sana mereka bisa belajar. Untuk kemudian memperbaiki apa yang kurang baik dan mempertahankan apa yang sudah baik.

Tidak selalu harus memulai dari nol, akibat tuna sejarah…