Memoar : Idhul Fitri ditengah Pandemi dan Perjuangan Kesehatan

  • Whatsapp

Pajajaran, KPonline – (25/05/2020) Sejarah akan mencatat, bahwa hari raya Idhul Fitri pada tahun 2020, dirayakan dibawah ancaman kondisi kegawatdaruratan akibat wabah pandemi virus​ Corona (Covid 19).

Segala bentuk tradisi perayaan Idhul Fitri yang telah menjadi budaya turun temurun dan mengakar kuat di negeri bermayoritas muslim ini, seakan terkunci oleh ganasnya penyebaran virus. Lock down.

Dari mulai tradisi mudik, berbagi makanan, saling bersalaman, sholat sunah berjamaah hingga halal bihalal, semua berbenturan dengan ketatnya protokol pencegahan penyebaran pandemi berupa pembatasan sosial dan pembatasan fisikal.

Meski demikian, kerasnya ledakan mercon seolah kalah nyaring dibandingkan dengan ledakan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus di berbagai daerah. Sungguh mengherankan.

Pada akhirnya sejarah juga akan kembali mencatat jika pandemi ini telah meruntuhkan sistem kesehatan nasional bahkan dalam skala global.

Apa yang saat ini tengah terjadi pada masyarakat rasanya sulit untuk digambarkan melalui grafik, tabel maupun ukuran teori keilmuan. Tidak pernah pula disangkakan, sebuah perayaan hari kemenangan justru terlihat muram, mencekam dan penuh keprihatinan. Pandemi nyata-nyata tidak cukup menghentikan laju ekonomi, namun juga tradisi.

Perayaan mungkin bisa diatur atau bisa diundur, akan tetapi perlawanan terhadap virus Corona tidak boleh kendur apalagi nglantur. Potensi resiko kerusakan dalam segala bidang telah terjadi di semua lini. Dan ini perlu usaha yang tidak gampang.

Dalam perjuangan melawan wabah pandemi, sejarah telah menorehkan tinta emasnya untuk putra putri Pertiwi. Dari mulai jaman pra kemerdekaan dengan Dr. Tjipto Mangunkusumo saat melawan wabah penyakit PES, hingga jaman setelah kemerdekaan dengan Dr. Siti Fadilah Supari dalam melawan wabah penyakit flu burung (H5N1).

Ditengah keterbatasan teknologi kesehatan dan enggannya dokter Hindia Belanda menangani PES. Dr. Tjipto Mangunkusumo tak tinggal diam dan turun ke pelosok desa memberikan pelayanan kesehatan. Wabah PES yang ditularkan dari tikus kepada manusia, dan dari manusia ke manusia ia hadapi dengan penuh keberanian.

Atas keberaniannya melawan wabah PES, pada tahun 1912 Dr. Tjipto mendapatkan penghargaan Ridder in De Orde van Oranje Nassau dari Ratu Wilhelmina. Namun penghargaan itu kemudian dikembalikannya lagi karena ia tidak diizinkan menangani wabah Pes di Solo.

Lain halnya dengan Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan Indonesia periode 2004-2009 yang dianggap telah sukses melawan wabah virus flu burung yang menyebar di Tanah Air pada tahun 2005.

Secara tegas dalam sidang WHO, ia membantah pernyataan WHO bahwa flu burung dapat menular dari manusia ke manusia. Atas kerja keras dan kegigihnya, Siti sukses menggagalkan status pandemi Flu Burung yang sudah ditetapkan WHO, hingga akhirnya sebuah reformasi terjadi di organisasi kesehatan dunia tersebut.

Melihat kiprahnya, belum lama ini Lembaga Kegawatdaruratan Medis dan Kebencanaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) meminta pemerintah Indonesia untuk membebaskan Siti Fadilah agar dapat membantu mengatasi COVID-19.

Dari berbagai catatan perjalanan dan perjuangan terhadap wabah tentu banyak pelajaran yang bisa dipetik dan diterapkan. Sebab sampai kapanpun, perlawanan itu harus tetap dilakukan.

Mengutip pernyataan Siti, ia meyakini kalau bangsa ini sebenarnya mampu membuat vaksin sendiri. “Yang penting Indonesia harus mandiri, bisa (bikin) vaksin sendiri, rapid tes sendiri, bikin swab test sendiri dan kita mampu.” Ujarnya.

Sudah saatnya Indonesia berdikari. Berdiri tegak meskipun diatas puing-puing sisa perlawanan. Karena kita adalah bangsa yang telah dianugerahi dengan segala keberkahan, Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa