Membedah Permasalahan Selisih Premi Pemanen di PT DLI Sei Deras Wilmar Group

Labuhan batu ,KPonline – PT Daya Labuhan Indah ( PT DLI) yang berlokasi di Sei Deras kecamatan Bilah Hilir kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara, adalah salah satu unit usaha Wilmar Group dan menurut catatan merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mendekati sempurna dalam penerapan prinsip dan kreteria sistim Raoundtaible on Sustainable Palm Oil (RSPO), dapat dikatakan sebagai pilot proyeknya RSPO yang wajib menjadi contoh bagi perusahaan sejenis baik swasta maupun BUMN.

“Tidak ada gading yang tak retak” artinya kata pepatah ini menjelaskan tidak ada satupun yang sempurna, sebab kesempurnaan adalah miliknya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bacaan Lainnya

Ketidaksempurnaan ini terjadi di PT DLI Kebun Sei Deras Wilmar Group terkait dengan pemotongan premi 72 orang karyawan pemanen kelapa sawit bulan Agustus 2020 senilai kurang lebih Rp 180 Juta, dan sudah dilakukan perundingan antara tiga organisasi serikat pekerja, yakni SERBUNDO, SPSI dan FSPMI dengan perusahaan, namun tidak menghasilkan kesepakatan.

Untuk penyelesaian permasalahan perselisihan hak ini, telah di lakukan Perundingan Bipartit antara tiga organisasi serikat pekerja, dengan pihak perusahaan, dan perundingan menghasilkan pendapat yang berbeda

Perusahaan menawarkan premi yang belum dibayarkan sejumlah Rp 180 Juta, akan dibayar sebesar Rp 300 Petandan. Dengan Prakiraan Jumlah Tandan Rp 180.000.000 : Rp 250 per Kg : @ 7,9 Kg.= 91.139 Tandan.

91.139 Tandan x Rp 300.= Rp 27.341.700. atau Rp 37,97 per Kg, atau 15,19 % dari Tarif Premi tertinggi sebesar Rp 250 per Kg.

Alasan lain dari Management adalah Jumlah tandan sebanyak 91.139 Tandan, dianggap Buah Tidak Normal (Abnormal Bunch).

Sementara pihak serikat buruh meminta di bayar pertandannya Rp 850, atau jumlah total premi Rp 77.468.150, atau Rp 107,59 Per Kg, atau 43,03 % dari Tarif Premi Tertinggi Rp 250 per Kg.

Perundingan Bipartit tidak menghasilkan kesepakatan, dan berlanjut ke Perundingan Tripartit di Dinas Tenagakerja Labuhanbatu.,namun tidak menghasilkan kesepakatan, kemungkinan permasalahan bisa sampai ke PHI setelah terbit Anjuran dari Dinas Tenagakerja.

DIDUGA TOP MANAGEMENT PT DLI WILMAR GROUP TIDAK BERSEDIA.

Beredar informasi bahwa ada dugaan Top Management PT DLI Wilmar Group tidak bersedia membayar premi dimaksud, hal ini dimungkinkan karena adanya premi Pemanen yang mencapai Rp 10 hingga Rp 12 Juta, dan diduga menurut pandangan Top Management tidak logika.

Asumsi dugaan ketidak logikaan Top Management.

PERHITUNGAN.

Tahun Tanam 2014.

Luas Kapveld/ Anca Pemanen ,2,5 Ha.

Rata- Rata Kerapatan Pokok per hektar 140 Pokok.

Asumsi Angka Kerapatan Panen ( AKP) 2:1.

Jumlah Realisasi Produksi yang dicapai Pemanen adalah 175 Tandan.

Prakiraan Rata- Rata Berat Tandan ( RBT) 7,9 Kg.

Jumlah Kg Tandan Buah Segar ( TBS) 1.383 Kg.

Jumlah Basis Borong = 750 Kg.

Jumlah Produksi Kelebihan Basis Borong 633 Kg

Tarif Premi Per Kg untuk produksi kelebihan Basis Borong .Rp 250.

Jumlah Perolehan Premi untuk satu Hari Kerja (HK) Rp 158.250.

Jumlah Perolehan Premi satu bulan dengan perhitungan realisasi hari kerja rata- rata perbulan per pemanen sejumlah 25 HK.Rp 3.956.250.

FAKTA KETERANGAN PEMANEN.

Hasil wawancara dengan Pengurus Serikat Buruh, Perolehan premi Pemanen perbulan Rp 10 Juta hingga Rp 12 Juta dicapai dengan cara.

Dua orang Pemanen mengcover Kapveld yang pemanennya tidak bekerja, artinya dua orang pemanen pada hari tersebut melakukan panen produksi pada tiga kapveld/ Anca, atau satu pemanen mengerjakan 1,5 Kapveld/ Anca.

PERHITUNGAN
Produksi yang dicapai untuk 1,5 Kapveld/ Anca, (175 Tandan x 1,5) x @ 7,9 Kg Pertandan = 2.074. Kg.

Basis Borong 750 Kg

Produksi kelebihan Basis Borong = 1.324 Kg.

Rp per Kg, untuk produksi kelebihan Basis Borong Rp 250.

Jumlah Perolehan Premi = Rp 331.000.

Asumsi perolehan premi perbulan dengan rata- rata jumlah hari kerja sebanyak 25 HK, = Rp 8.275.000.

ASUMSI LAIN PERHITUNGAN PREMI.

Pencapaian Premi Pemanen Rp 10 Juta, maka produksi yang dicapainya dalam satu bulan adalah.

(Rp 10.000.000 : Rp 250) x 1 Kg = 40.000.Kg ( 40 Ton)

Jumlah Produksi Basis Tugas 750 Kg x 25 HK = 18.750 Kg (18.75 Ton)

Jumlah produksi kelebihan Basis Borong ditambah produksi Basis Borong, 40.000 Kg + 18.750 Kg = 58.750 Kg ( 58,750 Ton)

Jumlah Tandan:
58.750 : @ 7,9 Kg =7.437 Tandan.

Rata-rata pencapaian produksi per hari.
– Kg TBS = 2.350
– Tandan = 297.

Rata luas dipanen perhari dengan asumsi AKP 2:1, adalah ( 297 x 2) : 140 Pokok = 4,24 Ha, atau 1,7 Kapveld/ Anca.

Pencapaian Premi Pemanen Rp 12 Juta, maka produksi yang dicapainya dalam satu bulan adalah.

(Rp 12.000.000 : Rp 250) x 1 Kg = 48.000.Kg ( 48 Ton)

Jumlah Produksi Basis Tugas 750 Kg x 25 HK = 18.750 Kg (18.75 Ton)

Jumlah produksi kelebihan Basis Borong ditambah produksi Basis Borong, 48.000 Kg + 18.750 Kg = 66.750 Kg ( 66,750 Ton)

Jumlah Tandan:
66.750 : @ 7,9 Kg =8.449 Tandan.

Rata-rata pencapaian produksi per hari.
– Kg TBS = 2.6750
– Tandan = 338

Rata luas dipanen perhari dengan asumsi AKP 2:1, adalah ( 338 x 2) : 140 Pokok = 4,82 Ha, atau 1,9 Kapveld/ Anca.

KETERANGAN PIHAK MANAGEMENT
Pihak Management PT DLI Wilmar Group pada Hari Senin 15 September 2020, pada petemuan singkat dalam rangka sharing untuk mencari solusi penyelesaian membenarkan bahwa rata- rata setiap hari 4 orang pemanen dalam satu Mandor tidak masuk bekerja dengan alasan sakit atau cuti,dan 4 Kapveld/ ancak yang kosong dikerjakan oleh Pemanen yang lain, (dicover), hal ini dilakukan karena tenaga Pemanen Serap atau Tenaga Cadangan yang peruntukannya sebagai pengganti pemanen yang berhalangan masuk kerja tidak tersedia.

KESIMPULAN

Tujuan sebuah perundingan bersama adalah suatu proses negosiasi antara pengusaha dengan Buruh atau Serikat Buruh untuk mencari solusi penyelesaian atas sebuah perselisihan terutama yang berhubungan kepada hak dan kepentingan kedua belah pihak yang berselisih.

Tetapi hakekat dari perundingan itu sendiri adalah untuk menjaga stabilitas dan kelangsungan perusahaan itu sendiri.

Dalam kasus perselisihan premi sebesar Rp 180 Juta, di PT DLI Wilmar Group, penawaran yang diajukan oleh Management dengan harga Rp 300 perjanjang, atau Rp 37,97 Per Kg, 15,19 % dari harga premi tertinggi tentu sangat tidak adil.

Sebaliknya penawaran yang disampaikan oleh pekerja sebesar Rp 850 per tandan atau sebesar Rp 107,59 per Kg, atau sebesar 43,03 % dari tarif premi tertinggi Rp 250 Per Kg, sudah cukup berkeadilan, meskinya perbandingannya 50:50, atau Rp 987,5 Per Tandan, atau Rp 125 per Kg.

Alasan Management mengurangi pembayaran premi dengan dalih buah Abnormal, sesungguhnya tidak dapat dijadikan pembenaran, sebab semua produksi sudah diolah di pabrik menjadi Crude Palm Oil (CPO) dan produksi tersebut sangat erat hubungannya dengan tenaga dan keringatnya Buruh dan dapat dimungkinkan didalamnya ada keringat istri atau anak Buruh yang ikut membantu suami / bapaknya menggali produksi.

Bersedianya Buruh diajak berunding dan mau dikurangi preminya dengan tawaran Rp 850 Per Tandan, harusnya, dihargai, dihormati sertav diapresiasi oleh Perusahaan, mungkin saja apa yang dilakukan Buruh ini adalah perwujudan tanggung jawabnya terhadap kelangsungan perusahaan tempatnya bekerja.

Biasanya semakin tinggi produktifitas seorang pekerja,maka Harga Pokok Produksi ( HPP), semakin kecil.

Dalam tulisan ini memang tidak tercantum HPP, karena akan terlalu Panjang, takutnya Buruh tidak mau membacanya, karena rata- rata Buruh memang tidak punya hobby membaca.

Semoga tulisan ini bisa bermaanfaat, dan permasalahan premi di PT Daya Labuhan Indah Wilmar Group dapat sgera selesai.

Oleh: Anto Bangun
Sekretaris KC FSPMI Labuhan batu.

Pos terkait