Memaknai Idul Adha 1439H Dalam Hablum Minannas

  • Whatsapp

Ibadah kurban selain wujud dari ketaatan murni kepada Allah Swt dalam bentuk menyembelih hewan, kurban juga mempunyai dimensi sosial yang tidak kalah pentingnya. Seorang yang berkurban hendaknya menghayati betul setiap rahasia dan hikmah yang terkandung dibalik pensyariatan ibadah tersebut terhadap manusia.

Memaknai kurban sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan dan sekaligus melekatkan ikatan-ikatan sosial justru akan mempertegas bahwa agama bukan semata urusan pribadi, tetapi bagaimana dapat merekatkan ikatan sosial dengan tanpa menganggu sarana kedekatan dirinya dengan Tuhan. Orang yang berkurban pasti karena ingin mempersembahkan kepada Tuhannya, tetapi di saat bersamaan keinginannya untuk berbagi dengan pihak lain juga menguat.

Bacaan Lainnya

Di sinilah barangkali bentuk nyata yang di istilahkan bahasa agama Islam sebagai “hablum mina allah wa hablum mina an-naas” (hubungan simultan antara manusia dengan Allah dan sesamanya). Kedua hubungan ini harus seimbang dibangun karena, ketika salah satunya timpang, akan sangat mengganggu dinamika keseimbangan kehidupan manusia.

Hal inilah salah satu di antara sekian banyak hikmah yang kerap kali terlupakan oleh hampir sebagian besar orang yang berkurban. Berkurban hanya dimaknai sebagai sebuah serimonial belaka yang hampa nilai dan substansi, sehingga wajar ibadah ini tidak memberikan bekas apa pun terhadap mereka karena tidak memahami rahasianya.

Betapa banyak kekerasan terjadi di negeri ini, orang yang kuat menjajah mereka yang lemah. Betapa banyak kasus-kasus pemerasan dan bahkan pembunuhan menghiasi keseharian kita.

Dan betapa banyak kasus-kasus korupsi melanda hampir sebagian besar kalangan elit politik di Negara ini, padahal di sisi lain sebenarnya mereka tahu dan melihat langsung masih banyak anak yatim yang terlantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita yang menderita busung lapar, banyak rumah Allah yang roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang yang mengais-ngais sampah demi sesuap nasi, serta banyak rumah yatim serta bangunan pesantren yang terbengkalai di tengah-tengah mereka.

Namun semuanya dipandang sebelah mata akibat sifat binatang yang belum disembelih dalam jiwa dan hati mereka.

Wajar kiranya sebagaimana dikutip juga oleh Ali Mustafa Yaqub dalam salah satu bukunya- sementara ahli hikmah memaknai penyembelihan hewan kurban itu dengan penyembelihan sifat-sifat kebinatangan yang terselip di dalam jiwa manusia seperti rakus, tamak, loba dan lain sebagainya. Selama sifat-sifat tersebut masih bercokol dalam hati mereka, maka selama itu juga manusia akan jauh dari hakikat kemanusiaannya.

Idul Adha 1439 Hijriyah ini terlebih lagi di tengah berbagai musibah yang sedang menimpa di Lombok NTB, seyogyanya kita gunakan sebagai moment untuk instrospeksi serta mawas diri terhadap realitas kehidupan sosial kita sebagai manifestasi (Hablum Minannas).

Jangan sampai kita tertutup mata hatinya terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang mengalami musibah, karena sesungguhnya masih banyak jutaan saudara kita yang butuh santunan dan perhatian dari kita. Oleh karena itu hidup saling mengasihi menjadi suatu keniscayaan dan inilah yang harus kita refleksikan dalam kehidupan kita.

Sekaranglah waktu yang tepat untuk mewujudkan penegakan sikap solidaritas dan cinta kasih sebagaimana diajarkan dalam sejarah kisah Nabi Ibrahim, dan mengamalkan ajaran Ismail sebagai simbol penegakan nilai-nilai ketuhanan.

Bencana yang melanda negeri kita secara terus menerus tidaklah bermakna kesewenag-wenangan Tuhan tetapi merupakan teguran yang keras karena kecintaan-Nya terhadap hambanya yang kian individual, pragmatis, dan menghamba pada materi.

Idul Adha ditengah bencana melanda negeri inilah waktu yang tepat untuk melangkah kepada keseimbangan pengabdian dan penghambaan terhadap Allah SWT dan kepekaan, solidaritas akan sesama manusia.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1439 H.

 

Pos terkait