Masih Kurang Gizi, Buruh Dinilai Belum Siap Berpolitik

Jakarta, KPonline – Pernyataan Sekretaris Jenderal Organisasi Kesejahteraan Rakyat (Orkesra) Ahmad Fais menarik untuk ditanggapi. Dia menilai, para buruh tidak siap untuk membentuk partai lantaran mereka belum selesai dengan kehidupannya.

“Soal politik belum siap karena dari buruh masih kurang gizi, maksudnya masih dihadapkan oleh masalah ekonomi. Lalu juga soal akses,” papar pria yang akrab disapa Ais ini.

Permasalahan ekonomi memang menjadi permasalahan krusial bagi kaum buruh. Namun demikian, kita juga harus objektif dalam melihat, bahwa kini kaum buruh sudah mulai keluar dari belitan jeruji ekonomi.

Hal ini bisa dibuktikan, kini isu perjuangan serikat buruh tidak hanya permasalahan pabrik. Tetapi juga mulai menyuarakan persoalan publik. Dengan demikian dapat disimpulkan, kesadaran politik kaum buruh sudah tumbuh.

Bahwa buruh harus menjauhi politik adalah doktrin yang salah. Sebaliknya, buruh harus berpolitik. Dari sanalah kebijakan yang bermuara pada kesejahteraan dan keadilan dirumuskan.

Saat ini sudah ada kesadaran dalam diri kaum buruh, bahwa kebijakan pemerintah berkorelasi kuat terhadap kesejahteraan rakyat dan  buruh. Itulah yang kemudian mendorong kaum buruh juga ikut memberikan dukungan dalam Pilpres maupun Pileg.

Dengan demikian, meskipun masih kurang gizi, bukan berarti kaum buruh hanya dijadikan objek. Politik liberal memang berbiaya mahal. Tetapi dengan ikatan sosial yang dimilikinya, saya rasa kaum buruh bisa.

Tanggapan Atas Usulan KSPI Menjadi Partai

Pemerhati politik dan ekonomi Rustam Ibrahim yang menilai sebaiknya Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia KSPI dijadikan Partai Buruh, ketimbang tidak jelas sebagai organisasi buruh atau politik.

Kata pendukung calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin ini, Partai Buruh nantinya akan mewujudkan kepentingan kaum buruh yang merasa tidak mendapat keadilan.

“Daripada tidak jelas, gerakan buruh atau gerakan politik, lebih baik KSPI pimpinan Said Iqbal jadi Partai Buruh. Partai Buruh berusaha merebut kekuasaan politik untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Gerakan buruh tuntutannya normatif, seperti kenaikan upah, kesejahteraan buruh dan lain sebagainya,” kata Rustam di Twitter, Kamis (2/5/2019).

Seharusnya, kritik Rustam juga disampaikan kepada serikat pekerja yang lain. Karena ada juga serikat buruh yang mendukung pasangan nomor urut 01 dalam Pilres 2019 yang baru lalu.

Di samping itu, ada juga serikat yang tidak mendukung 01 maupun 02, tetapi berusaha mendirikan Partai Politik Alternatif. Saya ingin bilang, keinginan untuk memiliki partai sendiri bukan hanya monopoli KSPI.

Bicara tentang Partai Buruh, KSPI sungguh-sungguh berkeinginan membentuk partai. Namun demikian, bukan berarti KSPI akan merubah dirinya menjadi Partai Buruh. Sebagai serikat pekerja, KSPI akan tetap menjadi serikat pekerja. Independen dari kelompok politik mana pun.

Tetapi sebagai sebuah gerakan yang memiliki kesadaran politik, KSPI akan bersikap setiap kali ada momentum politik. Karena hal ini sejalan dengan strategi KSPI: buruh go politik.

Kahar S. Cahyono (Vice President FSPMI – Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI)

Facebook Comments