Mari Mentertawakan Italia yang Gagal Lolos ke Piala Dunia?

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Dunia sepak bola sedang mempergunjingkan nasib Italia yang gagal melaju ke final Piala Dunia 2018. Banyak yang beranggapan, tanpa Italia di dalamnya, Piala Dunia tidak akan lagi sempurna.

Bayangkan, sebelum ini, terakhir kali Italia gagal lolos ke Piala Dunia pada tahun 1958. Sudah lama sekali. Saat itu, mereka kalah bersaing ketika melawan Irlandia Utara di babak kualifikasi.

Selebihnya, dari 18 kali penampilannya di Piala Dunia, Timnas Italia mencatatkan diri sebagai salah satu tim tersukses. Mereka merebut empat gelar, masuk final dua kali, plus menembus semifinal pada dua kesempatan.

Tahun ini, semua capaian itu seperti tak ada arti. Italia gagal melangkah di kejuaraan paling bergengsi se jagad raya itu. Boro-boro bersedih, mari kita tertawakan timnas Italia. Raksasa yang terjungkal, bahkan sebelum kompetisi yang sesungguhnya dimulai.

Mengapa harus tertawa? Tidakkah kita bersimpati terhadap para pendukung Gli Azzurri yang masih meratapi kesedihannya?

Jangan salah paham. Ini bukan tentang segolongan ummat yang senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Bukan itu. Ini tentang potret sebagian dari kita yang senang melihat sosok yang diunggulkan tumbang dalam sebuah laga?

Orang-orang lebih suka melihat kuda hitam yang melesat ke papan atas. From zero to hero. Apabila yang terjadi kebalikannya, biasanya akan lebih banyak yang nyukurin. Tak terkecuali Timnas Italia.

Namun demikian, kegagalan Italia sesungguhnya menjadi pelajaran berharga bagi gerakan serikat buruh. Bahwa sesuatu yang selama ini dianggap kuat bisa ditumbangkan. Bisa dikalahkan.

Rumus pesebakbola di seluruh dunia sama. Bola itu bundar. Ia bisa bergulir kemana saja. Tak ada kekalahan yang terus-menerus, pun sebaliknya, tak ada kemenangan yang terus-menerus.

Karena itu, jika selama ini kita merasa perjuangan untuk melawan upah murah dan buruknya jaminan sosial belum berhasil, tidak perlu berkecil hati. Kita akan mencobanya lagi. Lagi. Dan lagi.

Percayalah, satu saat nanti kita akan menang. Ingat, tim sekuat Italia saja bisa dikalahkan…

Hal lain, ini juga mengingatkan kita agar selalu mawas diri. Jangan karena merasa besar kemudian jadi jumawa, pongah, dan keras kepala. Tak ada jaminan bahwa kejayaan yang kalian rasakan hari ini akan tetap kalian rasakan nanti. Teruslah rendah hati dan perbaiki diri…