Mahasiswa Turun ke Jalan, Peringatkan Ancaman Bangkrutnya Ekonomi dan Demokrasi

Mahasiswa Turun ke Jalan, Peringatkan Ancaman Bangkrutnya Ekonomi dan Demokrasi

Jakarta,KPonline – Gelombang kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi kembali menggema dari kalangan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Sebelum bergerak menuju lokasi aksi menggunakan angkutan kota (angkot) dan bus, ratusan mahasiswa terlebih dahulu berkumpul di Lapangan FISIP UI, Depok. Massa aksi tampak mengenakan pakaian serba hitam yang dipadukan dengan jaket almamater kuning sebagai simbol perlawanan sekaligus identitas gerakan mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Sejumlah spanduk dan poster bernada kritik dibentangkan. Di antaranya bertuliskan “Menuju Indonesia Bangkrut” dan “Sweet 18 Rupiahku”, yang menggambarkan keresahan mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin memberatkan kehidupan masyarakat.

Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. Mereka menilai pemerintah gagal menghadirkan rasa aman dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

“Tidak ada lagi kata-kata indah untuk pemerintah. Hari ini adalah bentuk kemuakan kami. Kami tidak akan diam dan kami tidak sendiri,” seru salah seorang orator yang disambut sorak massa.

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menjelaskan bahwa penggunaan pakaian hitam merupakan simbol situasi bangsa yang dinilai semakin gelap. Meski demikian, mahasiswa tetap mengenakan jaket almamater sebagai simbol harapan dan solidaritas antarkampus.

Menurutnya, aksi tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa UI, tetapi juga diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Universitas Pancasila, Universitas Nusa Mandiri, Institut Pertanian Bogor (IPB), UIN, dan sejumlah kampus lainnya.

Mahasiswa menyoroti berbagai persoalan yang saat ini dirasakan masyarakat, mulai dari semakin sempitnya lapangan pekerjaan, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga beban pajak yang dinilai masih menghimpit rakyat kecil dan kelompok menengah.

Mereka juga menyinggung berbagai persoalan pelayanan publik, termasuk gangguan pasokan listrik dan kesulitan memperoleh BBM bersubsidi di sejumlah daerah.

Bagi mahasiswa, angka pertumbuhan ekonomi yang sering dipamerkan pemerintah tidak akan berarti apabila tidak dirasakan secara nyata oleh rakyat di lapangan. Pertumbuhan yang hanya terlihat dalam statistik tanpa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dinilai tidak lebih dari sekadar angka di atas kertas.

Melalui aksi tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah segera melakukan evaluasi dan perbaikan kebijakan. Mereka mengingatkan bahwa jika berbagai persoalan yang dihadapi rakyat terus diabaikan, maka Indonesia terancam mengalami kebangkrutan tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga demokrasi dan moralitas kehidupan berbangsa.

Aksi mahasiswa ini menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai klaim keberhasilan pembangunan, masih terdapat suara-suara kegelisahan dari rakyat yang menuntut perubahan nyata, keadilan sosial, serta kebijakan yang lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Pos terkait